Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 34 – Harta Kerajaan Don-Pa (1)


__ADS_3

Tiga hari berlalu.


Pagi yang cerah ini, kami dikumpulkan di depan gerbang kastel. Seperti biasa, para anggota berbaris tegap. Tidak bergerak walau satu senti.


“Mulai dari hari ini, kalian akan ditugaskan secara berpasangan. Tidak lagi gerombongan seperti dulu.” Leah berjalan ke kiri kanan. Angin lembut menerpa rambutnya yang bergelombang.


Hanya itu. Barisan langsung dibubarkan.


Besoknya, di malam hari. Aku ditugaskan dengan Far untuk mengecek keadaan peti di bawah tanah. Kami juga ditemani dengan satu anggota Pasukan Malam Markrasta.


Sebelum menjalankan misi.


“Pasukan Malam Markrasta?” Aku menggaruk pelan pelipis.


Leah mengangguk, “Iya, kau tidak salah dengar. Ada beberapa lagi Pasukan yang tidak pernah di dengar sebelumnya, karena informasi ini di rahasiakan. Jadi, kalian hanya perlu mengetahui Pasukan Malam Markrasta. Karena untuk ke depannya kita akan banyak bekerjasama dengan mereka. Sampai sini saja. Paham?” Kami mengangguk. Tidak banyak tanya.


***


Malam yang panjang. Udara dingin seperti jarum-jarum kecil yang menusuk tubuh. Kerajaan Don-Pa. Kami ditugaskan pergi ke Kerajaan Don-Pa untuk mengambil peti yang berada di bawah tanah.


Wass mengantarkan kami hingga di depan tembok besar setinggi tiga puluh meter, perbatasan yang dibuat oleh Kerajaan Don-Pa. Puluhan lampu sorot bergerak hilir-mudik. Aku refleks bersembunyi di salah satu pohon.


Far menatapku, “Kau siap? Mr. A?”


Aku menatap sekitar. Ada sekitar puluhan lampu sorot yang sedang dinyalakan. Setiap menara kecil lampu sorot, ada dua penjaga yang menggeser lampu sorot ke kiri dan kan. Aku menoleh, mengangguk.


“Ikuti aku.”


Far melangkah dengan sangat hati-hati. Lincah menghindar banyaknya lampu sorot. Far tiba di dinding perbatasan, melambai. Sekarang giliranku. Aku menarik napas. Huh. Baiklah.


Aku mengusap tangan. Oke, mau tidak mau, sekarang adalah giliranku. Tapi sebelum aku melangkah,


POOONNGG!


Puluhan lampu sorot terarah kepadaku. Silau.


“PENYUSUP! PENYUSUP!”


POOONNGG!


POOONNGG!

__ADS_1


POOONNGG!


Far berseru, berusaha mengalahkan suara sirene. “Mr. A! Berikan bola yang membuat hawa sekitar panas!” Aku merogoh kantong kecilku. Dapat!


“Ini, Mr. F!” Aku melemparkannya.


Far menyambutnya. Dia menguraikan ikatan rambutnya. Far mengangkat tangan kirinya. Puluhan jarum-jarum es terbentuk. Siap menghunjam para penjaga yang bertugas mengarahkan lampu sorot.


“Arrgghh!”


“Arrgghh!”


“Cepat Mr. A! Ikuti aku.” Far melempar bola kecil berkelir oranye ke kanan. Tempat menara lampu sorot berada. BUM! Bola tersebut pecah, mengenai dua menara sekaligus. Mengeluarkan hawa yang sangat panas. Lampu sorot mati. Lebih tepatnya meleleh. Para penjaga berteriak kepanasan. Tubuh mereka sedikit demi sedikit meleleh layaknya lilin.


Far mendongak, “Hei, bola itu bahaya sekali ya. Tembok yang tebal pun sedikit meleleh karenanya.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Aku tidak sengaja mengambil bola yang suhu panasnya paling tinggi.


Far mengangkat kedua tangannya. Dua kloningan terbuat dari es terbentuk, menyerupai Far yang asli. Bedanya hanya pada warnanya saja. Kloning Far jelas, seperti patung es. Berwarna biru muda. Dari atas kepala hingga kaki. Sedangkan Far, ya, Far. Berambut putih terurai dengan kulit sawo matang.


Far menunjuk kiri dan kanan bagian di bawah menara lampu sorot. Kedua kloningan tersebut mengangguk. Berlari, lantas mereka beserta Far memukul tembok tebal tersebut. BUK! Tembok dinding merekah. Kepulan debu menyambut kami.


Far mengatupkan kedua tangannya, kedua kloningan tersebut meleleh. Menjadi air. “Ayo masuk.” Aku mengangguk. Kami masuk dengan suara sirene yang membahana di atas langit yang gelap.


***


“Perjalanan kita masih panjang, Adrian. Aku tidak tahu kenapa malah kau yang ditunjuk Leah untuk menjalankan misi ini. Biasanya Gamo atau Tama yang menjadi pasangan misiku.” Far melompat ke dahan. Loncat dari satu dahan ke dahan lain.


“Kita akan bertemu lagi, Adrian. Lokasi peti itu ada di dalam bawah tanah. Tempat pastinya di bawah Gereja. Kau akan menemukan tutup kayu. Itu jalan menuju peti di bawah tanah tersebut.”


Aku berlari, berusaha mengimbangi langkah Far. “Tapi bagaimana kau bisa–” Belum genap omonganku, Far telah meloncat ke dahan yang lebih jauh. Hilang.


“Itu dia!” Seseorang yang tengah lari, berteriak menunjukku.


Aku menoleh ke belakang. Celaka!


“Hah? Kau sudah menemukannya?”


“Oh iya. Itu! Kejar penyusup itu!”


Satu, empat, gawat! Sebelas orang yang mengenakan pakaian seperti ninja berseru mengejarku.


Aku berlari, menambah kecepatannya. Lurus ke depan.

__ADS_1


“Berpencar! Dia berlari ke permukiman kota!” Salah seorang berseru.


Terdengar beberapa orang melompat, menaiki dahan. Syut! Syut! Dua shuriken nyaris mengenai wajahku.


Napasku mulai menderu. Terengah-engah. Kecepatanku mulai menurun.


“Jangan kabur!” Set! Satu orang mengayunkan bilah pedang berukuran sedang, nyaris mengenaiku. Orang itu menginjak tanah, menatapku tajam. Lantas kembali melompat ke dahan yang paling dekat.


Yes! Jarak antara hutan dan permukiman kota tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi, aku akan bebas dari ninja gadungan ini. Ayo Adrian, sedikit lagi.


Syut! Syut! Melayang dua shuriken dengan kilatan petir di sampingnya. Set! Satu shuriken berhasil dihindari. Tapi aku tidak bisa mengelak. Satu sisa shuriken dengan kilatan petir itu telak mengenaiku. Zret!


Laju tubuhku berhenti. Shuriken tersebut menancap di bahu kananku. Sedikit mengeluarkan asap hitam. Pandanganku menggelap. Brak! Tubuhku tersungkur di permukaan tanah yang lembab. Salah satu dari para ninja menggendong tubuhku yang terkulai. Tidak sadarkan diri.


“Penyusup? Ini penyusupnya? Dia yang menghancurkan ketiga menara dan melubangi tembok perbatasan kita?” Ninja yang mengangkat kakinya berseru.


Ninja yang lain mengangkat tubuhku, mulai mengangkatnya. “Kata salah satu penjaga menara, penyusup itu tidak hanya satu. Melainkan dua orang. Mungkin yang melubangi tembok dan menghancurkan menara perbatasan tersebut adalah partnernya.”


“Kalian, kembali ke pos masing-masing. Tetap berjaga. Mungkin saja ada beberapa penyusup lain yang masuk ke perbatasan ini.” Tanpa disuruh dua kali, mereka mengangguk. Lincah meloncat, seperti menghilang. Namun dengan kecepatan yang tinggi.


“Tubuh anak ini akan kita apakan?” Tanya ninja yang mengangkat kakiku.


“Kita apakan? Sesuai peraturan. Dia akan kita eksekusi.”


“Bukannya terlalu kasihan melihat remaja ini kita eksekusi?”


Ninja yang mengangkat tubuhku mendelik. “Ini yang tidak aku suka dari kalian. Jika ingin menjadi ninja, hilangkan rasa empati itu. Kita hidup ditakdirkan hanya untuk menjadi mesin pembunuh. Ingat itu!”


POOONNGG!


POOONNGG!


POOONNGG!


“SIAPAPUN, LAPOR KE PASUKAN KITA! TEMBOK WILAYAH BARAT DISERANG!”


POOONNGG!


POOONNGG!


POOONNGG!

__ADS_1


POOONNGG!


BUM! Tembok merekah.


__ADS_2