
“Maria–” Lizam berseru parau. Sebelum itu terjadi, Ayah Lizam terlebih dulu menutup mulut anaknya itu.
“Sebaiknya diam saja.” Ayah Lizam mendesis.
Lima belas menit kemudian, para pendeta dan pengikutnya berdatangan. Para pendeta tersebut menutupi wajahnya. Salah satu pendeta maju. “Hadirin sekalian. Terima kasih karena sudah datang kemari.” Pendeta itu sedikit membungkukkan badannya, hormat.
Para warga saling berbisik satu sama lain. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Lizam melihatnya. Bahkan sangat jelas. Pendeta yang berpidato itu tersenyum tipis.
“Kalian tidak percaya bahwa? Haha, tentu saja para hadirin tidak akan percaya. Karena kita semua telah diperdaya oleh mereka!” Pendeta itu merentangkan kedua tangannya, menunjuk salah satu kayu salib.
“Dan lihat,” Pendeta itu menunjuk Maria. Seorang ibu rumah tangga yang juga ditangkap, karena alasan salah satu anak mereka tidak memiliki kekuatan. “Para hadirin sekalian terkejut? Saya juga. Seorang jemaat yang sangat taat, baik, murah hati, ternyata dia hanya tidak lebih sekadar bedebah yang ingin meraup keindahan alam.”
***
“Dan yang lainnya, Adrian. Pidato yang tidak mencerminkan seorang pendeta sama sekali,” Lizam mengusap rambutnya. “Setelah pidato yang panjang itu. Setelah semua warga termakan oleh pidato seorang pendeta itu. Mereka akhirnya menumpahkan puluhan barel pemantik api dari Kerajaan sebelah.”
Lizam membalik halaman demi halaman. “Lalu, apa yang terjadi?”
“Mereka menumpahkannya ke atas kepala para korbannya. Kemudian memantikkan api. Dan seketika, teriakan histeris mulai terdengar.” Aku menjawab, menatap lembut Lizam.
Aku membuka halaman berikutnya dari buku yang dipegang Lizam, gambar seseorang berjubah merah mengangkat kedua tangannya. Pengikutnya terlihat seperti bersorak-sorai.
“Dan pendeta itu berkata ‘Lihatlah! Neraka dunia dan neraka kehidupan setelahnya menghampiri para penyihir gelap ini!’ Mereka terus-menerus menjerit, meminta ampun. Padahal itu sama sekali bukan salah mereka. Dan satu-satunya orang yang tidak berteriak selain orang yang sudah mati, adalah,”
“Maria.” Aku dan Lizam berkata hampir serempak.
__ADS_1
Alis Lizam mengernyit, “Kau kenal dengan Maria, Adrian?” Aku mengangguk, dan bilang bahwa itu nama ibuku. Lizam berseru tertahan, hampir refleks menutup mulutnya.
“Maria. Wanita muda, cantik, berpakaian sederhana berwarna coklat. Aku ingat sekali, Lizam. Meski rambut coklatnya dikepang, dia tetap memakai bando berwarna hijau muda. Bahkan sampai keranjang belanjaannya pun, berwarna hijau muda.” Aku tersenyum getir.
Lizam mengusap lembut punggungku, membalik halaman selanjutnya, membacakan. “Akan tetapi, kejayaan mereka tidak begitu panjang. Seluruh kerajaan bersatu, mengumpulkan kekuatan, dana, dan sebagainya. Mendengar hal itu, para rombongan tersebut mengirim surat ke Kerajaan tempat asalnya.”
Lizam membalik halaman selanjutnya. Gambar barisan pasukan dari Kerajaan yang tidak diketahui, dan Aliansi dari semua Kerajaan. Lizam mulai membacakan teks disampingnya.
“Karena mereka belajar dari masa lalu, satu rombongan dari Kerajaan yang tidak diketahui bisa meluluh-lantakkan satu Kerajaan kurang dari satu hari. Dan justru membantainya tanpa ampun. Karena itulah, mereka mengumpulkan seluruh kekuatan yang mereka miliki, demi mempertahankan Kerajaan masing-masing.”
“Perang besar itu terjadi entah berapa hari, atau bulan lamanya. Pasukan Kerajaan yang tidak diketahui itu akhirnya kalah. Kepala rajanya dipenggal oleh seseorang. Pasukan sisanya yang masih hidup berlari kocar-kacir tanpa tujuan yang jelas.”
Lizam membalik halaman selanjutnya. “Para pasukan yang masih bisa bergerak, diperintahkan untuk mengejar sisa-sisa pasukan yang berlarian. Sebagian besar dari mereka telah mati dibunuh. Namun sebagian yang lain, menghilang entah ke mana.” Lizam menutup bukunya. “Kemenangan itu membuahkan hasil. Aliansi Kerajaan tersebut bergabung, karena pidato Sang Ksatria yang telah memenggal kepala raja tersebut.”
“Lalu, generasi demi generasi berlalu. Hubungan mereka semakin lama, semakin renggang. Dan pada akhirnya membuat mereka berpecah belah seperti sebelumnya. Bedanya, sekarang hanya ada delapan Kerajaan.”
***
Yeah, Lizam memang populer. Lihat saja wajahnya, mulus, halus. Sudah seperti lukisan saja wajahnya itu. Aku berpamitan, dia melambaikan tangan. Pun dengan aku, balas melambaikan tangan.
“Senang ke perpustakaan?” Aku menoleh ke belakang. Wass? Tiba-tiba muncul begitu saja. Aku mengangguk. Wass melambaikan tangannya, kemudian memegang bahuku. Lantas dalam sekejap, kami sudah sampai di ruang tengah kastil Pasukan Bulan.
Para anggota yang lain sudah meregangkan tubuhnya. Langsung merebahkan badannya di sofa. “Makan malam.” Seru Far. Wass tersenyum lembut, mengangguk. Beranjak dari tempatnya.
Brice melambaikan tangan kepadaku, menepuk-nepuk sofa. Menyuruhku duduk. Tanpa disuruh dia kali, aku duduk.
__ADS_1
“Kalian tahu? Leah menerima Wass, selain karena kekuatannya, dia juga memilih Wass karena dia bisa memasak lho. Lumayan kan bisa menghemat biaya pengeluaran.”
Mata Vine membesar, “Serius? Kok aku baru tahu sih.”
“Tentu saja. Kau kan baru masuk Pasukan Bulan tiga tahun lalu. Makanya kau tidak tahu hal sepenting ini.” Yang lain menimpali.
Maka, sepanjang Wass masih di dapur, topik inilah yang telah mereka pilih terlebih dahulu. Aku hanya menyimak saja. Sesekali tertawa jika ada hal yang menurutku lucu.
Tiga puluh menit berangsur-angsur, berlalu. Hast memberi kode, Wass telah datang dengan nampan dan celemek khasnya. Mereka yang sebelumnya tertawa, mendadak menghentikan tawanya. Berganti ke topik yang lain.
Leah membuka pintu kamar, beranjak menuruni tangga. Bergabung. Duduk mengisi sofa yang masih kosong.
Wajah Tama berseri-seri, “Gulai!”
“Kau itu, selalu saja senang jika di hidangkan gulai.” Hast menyikutnya.
“Wajarlah. Dulu kan waktu pertama masuk ke sini, dia bilang tidak punya nafsu makan. Aku ingat sekali wajahnya sudah menggembung seperti ikan buntal.” Lizt meniru wajah yang menggembung.
Yang lain tertawa. “Iya, betul. Tapi ketika makan siang, Wass memasak gulai. Baunya tercium hingga ke sela-sela kamarku, entah bumbu apa yang sudah dimasukkan wakil komandan kita itu. Tapi trik itu sukses. Tama langsung mendobrak pintu kamar. Sampai-sampai rusak pintu itu. Berlari ke ruang tengah. Tanpa cuci tangan, kaki, bahkan wajah. Dia langsung cuss memakan dagingnya begitu saja pakai tangan. Padahal gulainya masih panas.”
Tama tidak menghiraukan mereka, langsung mengambil banyak daging dan menaruhnya ke piring. “Itu kan dulu. Sekarang aku sudah bisa makan. Wlee!” Tama menjulurkan lidahnya. Yang lain tertawa.
Meja makan penuh dengan bercandaan dan suara tawa. Mereka menikmati makan malamnya, serta sambil bergurau mengingat masa-masa awal mereka masuk.
Aku mengambil piring. Memasukkan nasi, dan beberapa lauk ke dalam piring. Lalu memakannya sembari menikmati kegaduhan yang dibuat Gamo-Damo bersaudara.
__ADS_1
“Untung liburnya tiga hari. Jadi besok aku bisa bersenang-senang lagi pergi ke pantai.” Yang lain menimpali. Tertawa.