Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 29 – Hancurnya Keseimbangan (4)


__ADS_3

Misi selesai. Vallen menghilangkan semua jejak dengan semua kemungkinan, kami segera pulang.


Pukul tiga dini hari, kami baru tiba di kastil. Semua anggota yang lain kelelahan dan memutuskan untuk tidur. Misi kali ini tidak diberikan bintang. Itulah kata Leah dan Wass selepas kami tiba di depan pintu kastil.


***


BRAK! Pukul tujuh pagi.


“Bangun semuanya. Bangun, bangun, bangun!” Wass berteriak dari ruang tengah, meletakkan sarapan pagi. Masih dengan celemek yang terikat erat.


Mimpi indahku menikahi seorang putri karena menyelamatkannya dari kurungan wanita penyihir dan dijaga oleh naga, seketika buyar. Digantikan oleh teriakan Wass dari ruang tengah. Meskipun suara Wass tidak sejelek itu, bagus. Tapi tidak bagus kalau berteriak pagi-pagi sekali.


Aku bangun. Lebih tepatnya terbangun karena Wass. Cahaya matahari masuk ke dalam kamar, lembut menyirami wajahku. Burung masih bersiul-siul merdu di dekat salah satu pohon. Aku melihat jam, masih jam tujuh pagi. Kenapa Wass memanggil kami sepagi ini? Ada misi lagi? Bukannya misi tengah malam itu sudah lebih dari cukup untuk menguras tenaga kami? Mungkin lebih tepatnya adrenalin.


Aku segera beranjak dari kasurku, membiarkannya berantakan. Mengambil handuk, lantas keluar kamar, pergi menuju kamar mandi. Mengantri.


Brok, melangkah layaknya seseorang yang belum makan lima hari. Tidak makan tiga hari saja, kebanyakan orang pasti sudah mati. Begitulah keadaan Brok sekarang. Dia membawa handuk, berjalan dengan sedikit membungkukkan badannya. Tangannya bergerak-gerak ke kiri dan kanan berulang kali seperti ayunan yang tengah dimainkan.


“Kenapa wajahmu lesu begitu, Brok?” Aku menatap Brok prihatin. Padahalkan dia tidak berperan banyak dalam misi tengah malam tadi, tapi kok dia yang paling kelihatan lelah, ya?


Brok menghela napas panjang, mengusap dahinya pelan. Seperti orang pengangguran. “Hadeh... tadi aku di datangi Leah ke kamarku,” Brok menyandarkan kepalanya di tembok. “Dia mengancamku bangun lebih awal.”


“Mengancam?” Keningku mengerut.


Brok mengangguk, “Kau tahu kan kekuatannya?”


“Kekuatan? Memang kekuatan Leah seperti apa?”


Brok menepuk dahi. “Kau tidak tahu? Tumben anggota baru tidak tahu kekuatan Ketua Komandannya sendiri. Biasanya Leah suka pamer-pamer kekuatan kepada anggota baru.”


“Jadi Adrian. Kekuatan Leah itu menghilang, menekuk, melekuk, dan kuk-kuk ruang.”


Sepertinya keningku semakin mengerut. “Menekuk ruang?”


Either menjelaskan, sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi. “Mudahnya, dia bisa membuat jarak kastil ke Kerajaan Markrasta menjadi sangat dekat, jika dia mau. Hei! Berapa lama kau mau mandi hah!” Hmm... Aku masih belum paham. Menekuk ruang? Menjadikan jarak antara kastil kumuh ini ke Kerajaan Markrasta bisa jadi dekat jika dia mau? Berarti hutan belantara ini bisa hilang dong? Atau semacam teleportasi? Hmm... entahlah.


Leah mendatangi ke kamar mandi, memandangi kami yang tengah mengantri panjang di depan pintu kamar mandi. Sedangkan Either tengah menggedor-gedor pintu kamar mandi, bilang berapa lama lagi kau terus bertapa, hah?!


Leah memukul tembok kastil yang berlumutan, membuat bongkahan besar. “KENAPA KALIAN LAMA SEKALI, HAH! CEPAT MANDI. SATU KALI PAKAI, LANGSUNG EMPAT ORANG SAJA YANG MANDI! TIDAK ADA KATA MALU! ENTAH PUNYA KALIAN KECIL ATAU BESAR, AKU TIDAK PEDULI! ITU SALAH KALIAN!” Leah balik kanan, mengembus-ngempiskan napas, habis marah.


***


Dua puluh menit, mandi kami selesai. Nasib saja, mandinya berempat. Ya kalian tahu lah apa yang membuat laki-laki cekikikan pas mandi bareng.


Beberapa menit kemudian kami berkumpul ke depan pintu kastil, hanya terpisah dua meter dari pintu kastil.


Leah melangkah mondar-mandir, menumpuk tangannya ke bawah pinggang. Sikap istirahat. “Semuanya sudah berkumpul?” Wass menghitung cepat, lengkap. Dia menatap Leah, mengangguk.


Leah menurunkan intonasi nadanya menjadi sedikit lebih ramah, “Karena hari ini kita tidak ada misi, kalian akan kulatih dengan sangat berat. Hari ini.” Mereka saling berbisik-bisik, menebak-nebak latihan apa yang Leah siapkan. Biasanya Leah tidak pernah berniat melatih anggotanya seperti ini. Kata Brok dan Either, yang menjadi orang pertama dan kedua yang masuk menjadi anggota Pasukan Bulan.


Aku kurang mendengar pidato Leah selanjutnya, terhalang oleh bisik-bisik dari anggota lainnya. Leah berpidato tentang kebersamaan, semangat, kedisiplinan, kesehatan mental, kesehatan mental? Bukannya tadi dia habis menghancurkan tembok lumutan itu ya? Itu yang dinamakan kesehatan mental?


“Jadi, ayo kita latihan ke dalam hutan!” Leah sudah seperti motivator saja. Berubah seratus delapan puluh derajat celcius, kelvin, fahrenheit, dan derajat temperatur suhu lainnya.

__ADS_1


***


“Oi, kau tidak sedang bercanda, kan?” Bulu kuduk Hast merinding, melangkah mundur perlahan.


“Hah? Kau takut? Kalau takut mending tidak usah menjadi anggota Pasukan Bulan.” Leah mendorong bahu Hast. Hast terdorong, kehilangan keseimbangan. Hampir jatuh ke tanah.


“Ini kan–”


“Ya, ini gua tempat tinggal Frenin, hewan penjaga hutan belantara ini.” Leah duduk santai bersandar dibawah pohon, sambil memakan sandwich yang dia bawa dari kastil.


Either menunjuk mulut Gua, “Jadi kita harus mengalahkan Frenin–”


“Frenin itu apa?” Tanpa rasa bersalah, aku bertanya memotong perkataan Either.


“Frenin itu hewan serigala raksasa. Lihat,” Wass menunjuk mulut Gua yang besarnya tidak seberapa. Seperti Gua biasa pada umumnya.


Beberapa detik kemudian, AARRGGHH! Suara aungan dari mulut Gua terdengar. Memekakkan telinga.


“Kami hanya bisa sampai sini saja. Sudah dulu, bye!” Leah mengangkat tangan kanannya, lalu menurunkannya ke bawah. Membuat Wass dan Leah menghilang. Kekuatan menekukkan ruang.


AARRGGHH!


Tidak ada waktu lagi untuk kami berunding. Tanah bergetar hebat. Serigala itu beranjak berjalan keluar dari Gua. Lima detik, tanah semakin bergetar. Sepuluh detik, semakin hebat. Lima belas, dua puluh detik. Hewan kecil terlihat keluar dari Gua. Menggerung, seperti kucing.


“KYAAA... IMUT BANGET!” Far, Vine, dan Vallen mendekati Serigala kecil tersebut. Tidak tahan ingin mengelus bulu-bulu halusnya yang lembut.


“Hah? Kita disuruh melawan serigala yang imut nan lucu ini?” Brice menunjuk serigala yang berada di pangkuan Vine, memandang serigala itu dengan sinis.


“Hah? Kalian meremehkanku?” Serigala itu meringkuk di paha Vine.


Either mendengus, “Hei kau, serigala kecil! Enaknya kau meringkuk di atas paha Vine! Aku iri tahu!” Aku tidak tahu, apakah Either betulan marah? Atau iri?


“Kau iri? Haha. Ini lembut lho...” Frenin meringkuk, bergelung-gelung imut di paha Vine, menjulurkan lidah. Mengejek Either yang sedang menggeram tangan, mengatupkan rahang.


“Sini kau!” Either membuka genggaman tangannya. Kesiur angin mendesing kencang. “Storm – Either!” badai terbentuk. Daun-daun berputar-putar di satu titik. Pohon-pohon di sekitar berguncang hebat, hingga akar-akar pepohonan hampir lepas.


Tapi sebelum kekacauan terjadi, Vine menjentikkan jari. Seketika desingan kencang menghilang. “Jangan terlalu kasar. Dia kan masih kecil.” Vine mengembungkan pipi. Wajah Either yang merah karena marah, semakin menjadi-jadi merahnya. Lantas membuang muka.


Frenin tersenyum jahat. “Hei, kau bocah rambut putih.” Either menoleh, “Kau tidak bisa seperti ini kan?” Frenin menggerung, mengelus-elus perut Vine, lantas meringkuk. Vine, Far, dan Vallen tertawa kecil melihat tingkah serigala kecil itu, mereka mengelus bulu-bulu lebat Frenin.


Frenin beranjak dari atas paha Vine, turun menginjak rerumputan. “Karena Leah mengirim kalian untuk berlatih denganku, baiklah. Minggu lalu, Leah juga datang ke sini meminta aku melatih kalian. Tapi dengan tidak memakai kekuatan penuhku pastinya.” Frenin menggerung, meregangkan tubuh, layaknya kucing seperti biasanya. Walaupun sebenarnya dia serigala.


“Baiklah. Sekarang kalian boleh bebas menyerangku kapan saja. Silakan.”


Either yang sudah kesal, kembali mengeluarkan desingan kencang dari tangannya membentuk badai kecil. Either menurunkan salah satu kakinya ke tanah, juga menurunkan tangannya. Badai tersebut kian lama kian membesar, seperti badai sungguhan.


Frenin gesit berlari menelan badai tersebut.


“Wah... dia menelan badai Either. Jarang-jarang ada yang kayak gitu.” Vine tertawa kecil. Frenin berjalan sempoyongan sambil menahan badai di mulutnya. Sepuluh detik, dia memuntahkan badai itu kembali keluar. WUUSSHH! Badai Either kembali berkali-kali lipat.


Pepohonan tercabut dari akarnya. Bongkahan besar atap Gua ikut beterbangan. Dedaunan? Jangan ditanya, daun-daun lepas dari ranting kecil mereka. Dedaunan tersebut seperti menjadi pembatas dari badai tersebut.


Pandanganku kabur. Beberapa rumput hijau tercabut, ikut berputar. Bongkahan tanah basah terpecah menjadi butiran-butiran pasir, membuat badai ini seperti badai pasir. Panas, menyesakkan.

__ADS_1


“Hei! Di mana semangat kalian? Jika kalian menyerah hanya sampai sini, kalian akan mati dan menjadi santapanku malam ini!” Frenin mengaung, tubuhnya menjadi seperti serigala remaja. Melesat cepat mencakar kami hanya dalam puluhan detik.


Aku menggunakan kedua tanganku untuk melindungi mataku dari pasir. SRET! Dadaku terluka, SRET! SRET! Terdengar suara perempuan berteriak histeris.


“VINE!” Samar-samar suara Either berteriak terdengar. Jangankan membantu, melindungi diri sendiri saja sulit di tengah badai yang seperti ini.


Teriakan kesakitan dari yang lain terdengar bersahutan. Saat giliranku, Frenin terlihat seperti serigala dewasa. Matanya terlihat hijau menyilaukan. SRET! SRET! Bajuku terlepas. Robek berkeping-keping. Luka tubuhku entah ada berapa, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah masih dapat berdiri tegak, dan melangkah ke depan sedikit demi sedikit.


“Apa kalian sudah menyerah? Apakah kekuatan kalian hanya sampai sini saja? LEMAH! Bagaimana cara Leah memilih anggota Pasukan Bulannya itu? Padahal tahun-tahun sebelumnya anggota Pasukan Bulan bisa melawanku dalam badai ini, meski sedikit. Yah... walaupun akhirnya mereka menjadi santapanku di dalam Gua selama berhari-hari.”


“Adrian! Serap badainya dengan bola kecilmu itu!” Terdengar dari arah kanan seperti suara Brice berteriak menyeruku.


Aku menggeleng, meski aku tidak melihat siapapun. Karena terhalang oleh badai. “Tidak bisa! Bolaku hanya bisa menyerap kekuatan yang sudah dipakai seperti sekarang!”


“Bukannya waktu di sarang laba-laba, kau bisa menyerap kekuatan kami?” Suara itu, suara Either.


Aku menghadap kearah suara, berteriak. “Itu kekuatan yang masih belum terkena ke siapa-siapa. Waktu itu kan kalian mengarahkan kekuatan ke langit stalagmit! Bukan di stalaktit!”


Suara gerungan buas Frenin terdengar jelas, “Kalian sedang membicarakan rencana melawanku? Hah, percuma saja. Urusi diri kalian yang bisa ku mangsa kapan saja!”


Teriakan histeris kembali terdengar sahut-menyahut. Seketika, udara terasa dingin. Dingin di tengah badai? Tidak mungkin. Tapi ini kenyataannya. Sayup-sayup aku melihat butrian air menjadi es kecil seperti jarum yang meruncing tajam.


Jarum es itu berhenti dari arus badai, tidak ikut terombang-ambing. Seperti ada yang mengendalikannya. Jarum itu bergoyang pelan, melesat hilang seperti ditelan badai, laksana peluru.


AARRGGHH! Suara aungan Frenin terdengar jelas. Pasir yang terombang-ambing ke sana kemari berjatuhan kembali ke tanah. Pandangan kami sudah tidak terbatas seperti sebelumnya.


Pandanganku menghadap sedikit ke kanan. Far mengangkat tangannya. Tubuh Frenin terduduk, penuh dengan jarum-jarum tipis. Bercak darah segar terlihat di baju Far, Vine, dan Vallen.


Frenin berusaha keras untuk berdiri namun urung. Kakinya juga terkena jarum-jarum es tersebut, malah lebih banyak dari di sekujur tubuhnya.


“Hah! Rasakan itu serigala mesum!” Either mendengus kesal. Frenin menoleh kebelakang, menatap Either dengan tajam. Badai masih belum berhenti. Frenin beranjak berdiri dari tempatnya tersungkur. Alisnya seperti mengerut, marah. Dia mengibaskan jarum-jarum es tersebut ke sembarang arah, hingga tidak tersisa jarum-jarum es itu. Bekas lukanya yang berlubang kecil, dalam sekejap tertutup. Tubuhnya sehat seperti sedia kala.


Tubuh dewasa Frenin kembali berubah menjadi Frenin kecil. WUUSSHH! Badai yang dibuat bak dinding membentuk runcing seperti tombak besar mengarah ke Brok, dan menusuknya. Tembus, darahnya mengalir deras. Sangat deras. Matanya Vine melotot sembari menutup mulutnya, terkejut.


Wajah Brok pucat. Tidak bergerak sedikitpun. BRAK! Tubuhnya terkapar begitu saja.


Far melangkah kaku menuju Brok. Far merangkak, tangannya bergetar memegang dada Brok yang berlubang. Air mata Far mengalir tanpa dia sadari.


“Hah! Sudah aku katakan bukan? Aku serius.” Frenin tertawa cekikikan melihat tubuh Brok yang terkapar.


Aku menggeram, “Kau! Kau tidak punya hati?! Bisa-bisanya kau tertawa melihat orang lain mati!” Wajah Either memanas layaknya kepiting rebus. Akan tetapi dia tidak bisa membantu banyak. Sebelumnya Either sudah mencoba berbagai cara untuk menyerang Frenin, namun gagal. Angin buatannya otomatis seperti diserap oleh badai ganas itu.


“Adrian! Kau masih ada bola hawa dingin, bukan?” Damo berteriak, mencoba mengalahkan suara amukan badai yang dijadikan sebagai pembatas sekaligus senjata oleh Frenin.


Aku mengangguk. “Bagus! Kita gabungkan kekuatan. Aku bola air, kau hawa dingin.” Ide bagus. Aku juga baru kepikiran tentang itu.


Baiklah, Damo tidak hanya menembak satu-dua bola air saja, melainkan belasan jumlahnya. Bola air sebesar sepak bola, semakin lama, semakin terpecah menjadi butir-butir kecil.


Aku mengerti maksud Damo, mengeluarkan bola kecil, menekan pelan bola itu, lantas melemparnya. Terdengar bunyi desingan tipis, dan dalam waktu beberapa detik, butir-butir pecahan air milik Damo dan butiran air lainnya di sekitar area hawa dingin seketika membeku. Membentuk kerikil-kerikil kecil berwarna biru.


Bedanya teknik milikku dengan kekuatan milik Far adalah dari segi pengendaliannya. Far bisa mengendalikan jarum-jarum yang dia buat. Sedangkan aku–


“Ini ide buruk, Damo.” Gamo menjadikan kedua tangannya sebagai tameng. Luka-luka kecil segera mendatangi kami dengan suka rela. Tak berselang lama, badai pasir seketika berubah menjadi bukan sekedar badai biasa. Badai dingin. Hawa dinginnya segera menusuk tulang.

__ADS_1


Frenin tersenyum lebar.


__ADS_2