
“Bagaimana keadaannya?” Airiz menoleh ke samping ruangan dengan tirai tipis berwarna biru sebagai sekatnya.
Daisy balas menoleh di balik tirai, “Baik.Tapi Fang belum siuman.”
“Aduh... mungkin aku terlalu terbawa suasana.” Karl menggigit kukunya, sambil mondar-mandir sedari tadi.
Di bilik lain, Karl cepat menyingkap tirai, “Abel dan Tetam sudah siuman!” Aku, Airiz dan Daisy refleks menoleh. Lantas berjalan cepat ke bilik Karl.
Airiz langsung mengompres Abel dan Tetam tanpa di suruh, “Cepat, Adrian, Daisy, ambil air minum dua galon dan satu nampan penuh daging!” Kami refleks mengangguk.
Aku dan Daisy segera berjalan keluar dari bilik ruangan. Tiba-tiba langkahku terhenti, Eh? Daging? “Daging untuk apa, Ai?” Aku balik badan menatap Airiz.
“Jangan banyak tanya, Adrian! Cepat sini!” Belum sempat Airiz menoleh, Daisy sudah lebih dulu menarik tanganku, kemudian keluar dari ruangan.
Tanpa sepatah kata pun, Daisy tetap memegang tanganku, berjalan cepat menuju ruangan yang lain. “Memangnya ada apa dengan daging, Daisy?” Aku berusaha mengimbangi kecepatan berjalan Daisy yang tergesa-gesa.
Daisy menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada pandangannya ke depan sembari tetap memegang tanganku. Kali ini lebih kuat cengkeramannya.
“Untuk sementara ini jangan banyak tanya dulu. Nanti setelah semuanya selesai, baru aku beri tahu apa yang membuat kami terburu-buru.” Aku menelan ludah, tidak banyak tanya lagi.
Setelah beberapa detik kemudian, kami pun sampai ke bilik penyediaan makanan.
“Oke. Kamu bawa satu nampan daging bakar ini, dua galon yang ini, aku yang akan membawanya.” Daisy tidak menoleh sedikit pun. Dia membawa dua galon besar, lalu keluar ruangan berjalan cepat.
Punggung Daisy hilang di balik pintu. Aku bergegas membawa satu nampan berisi daging ayam bakar utuh. Kemudian berjalan cepat, keluar dari bilik makanan tersebut.
Tak kusangka Daisy sudah di pertengahan jalan ke bilik sebelumnya. Aku berlari cepat, menyusul Daisy.
Gawat! Aku bisa tersesat kalau kehilangan jejak Daisy!
Beberapa detik setelah Daisy sampai ke bilik, aku pun juga telah sampai ke sana. Airiz segera mengambil segalon air dari salah satu tentengan Daisy dan berjalan cepat ke bilik Abel dan Tetam.
Daisy masuk ke bilik tersebut, kemudian di susul aku. Airiz dan Daisy meletakkan galon tersebut di atas meja berbentuk melingkar dengan warna coklat dan disertai corak yang sedikit unik.
“Sini nampannya.” Aku mengangguk, memberikannya ke Karl.
Karl berdiri tepat di depan ranjang Tetam. Airiz dan Daisy juga berdiri, akan tetapi mereka berdiri di depan ranjang dari Abel.
__ADS_1
Abel siuman. Dia tidak bertanya apa-apa, langsung menyambar galon besar yang berisi air itu, lalu meminumnya tanpa jeda.
Beberapa detik kemudian, Tetam juga ikut siuman. Wajah Tetam berubah seratus delapan puluh derajat. Wajahnya berubah seperti orang yang kelaparan tidak makan dua minggu.
Tetam melihat Karl memegang nampan yang berisi satu ekor ayam bakar utuh. Tetam tersenyum, langsung menyambar ayam itu dan memakannya dengan ganas.
“Kamu lihat sendiri bukan?” Tubuh Daisy mencondong kearah Tetam.
Daisy menyilangkan tangan, memperhatikan Tetam yang sedang makan lahap dengan saksama. “Alasan kami terburu-buru tadi, ya karena ini. Mereka lahap sekali makan dan minum. Kalau mereka tidak diberi air dan daging. Daging sebenarnya khusus untuk Tetam. Jika tidak di beri dengan cepat, mereka akan mengamuk, aku tidak tahu mereka akan mengamuk seperti apa. Yang jelas beberapa tahun silam, mereka sangar sekali ketika mengamuk.”
Aku menunjuk salah satu dari mereka, “Sekarang mereka–”
“Mereka tidak sadar.” Airiz memotong kalimat ku. Seperti akan tahu aku mau bicara apa.
Ayam bakar utuhnya, sekarang hanya menyisakan tulang-belulangnya saja. Tetam langsung kembali menyambar galon air yang di sampingnya.
“Lho? Karl? Airiz? Daisy? Adrian? Kita di mana sekarang?” Abel meletakkan galonnya yang telah kosong dia minum, melihat sekitar, sedang mencerna keadaan, kemudian bertanya.
“Sekarang kita ada di bilik rumah sakit. Kamu dan Tetam pingsan saat sedang latihan.” Airiz menyilangkan tangannya.
“Siapa pemenangnya?” Tetam meletakkan galon minumannya.
“HAH?! BEN DAN THOMI?! Hei! jangan bercanda Adrian!” Seketika Tetam naik pitam, marah besar.
Airiz mencoba menenangkan Tetam. Setelah Tetam sudah mengatur napasnya dengan teratur, baru Airiz mulai bicara.
Airiz menatap datar Abel, “Latihan tadi yang dibutuhkan bukan untuk melatih kekuatan. Latihan tadi, kita menyuruh kalian hanya untuk mengambil ketiga gulungan itu kan?” Abel berpikir sejenak, lalu mengangguk.
Kerl berlari ke bilik kami dengan terengah-engah, “Kalian! Fang sudah siuman!” Kami berenam langsung pergi ke bilik sebelah untuk mengecek keadaan Fang.
“Fang, kamu sudah siuman?” Aku berdiri, memegang tangannya.
Fang mengangguk pelan, tersenyum. “Hei, kita kan baru kenal. Jangan sok akrab begitu lah.”
“Mana ada! Aku hanya khawatir.”
Aku mengambilkan gelas air di meja, membantunya minum.
__ADS_1
“Oh iya, Ben dan Thomi ke mana?”
“Mereka lagi membeli makanan. Katanya untuk hiburan karena mereka sudah menang.” Karl menyenderkan bahunya.
Tidak berselang lama, Thomi dan Ben datang, membuka pintu bilik ruangan lebar-lebar. “Hai, kami membawa makanan kesukaan kalian nih!” Ben melambai-lambaikan tangan, tersenyum. Membawa sekantong plastik dengan belanjaan yang lumayan banyak.
“Lho? Semuanya ada di bilik Fang toh.” Ben menaruh belanjaannya di atas meja, di samping ranjang Fang.
“Kami juga membawa makanan kesukaan kalian lho. Nih, lihat.” Thomi menyeringai, membukakan kantong plastik belanjaannya.
Karl, Kerl, Airiz serta Daisy berkerumun melihat.
Karl mengobrak-abrik isi kantong belanjaan, “Kue kering, pastel, donat strawberry. Tunggu, ini donat coklat jamur ya?”
“Hah? Mana donat coklat jamurnya?!” Wajah memelas Fang langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Karl mengambilkan donatnya untuk Fang. Fang menyambut kegirangan, lantas dia memakan donat itu dengan lahap.
“Ayo, silakan di pilih. Kalau kurang, masih ada banyak di kantong belanjaan punya Ben.” Thomi sudah seperti pedagang keliling yang menjual barang-barangnya.
Ben mengangguk, mengambil kembali kantong belanjaannya dan ikut membuka kantongnya lebar-lebar seperti Thomi. “Hm, betul sekali. Di sini ada banyak jenis makanan. Ada donat strawberry, donat coklat jamur, donat selai keju, dan banyak donat-donat yang lainnya.”
Aku mendekat, mengambil donat selai keju. “Tumben kalian yang traktir kami.”
“Iya dong. Kan karena kami pertama kali menang.”
Tetam, dan Abel mendekat. Mengambil beberapa donat. “Nih, Fang. Donat coklat jamurnya masih ada banyak.” Tetam mengambilkan donat coklat jamur kepada Fang.
Fang mengambil donat tersebut, lalu memakannya dengan lahap.
Daisy menjilati tangannya yang berlumuran selai donat. “Nah, setelah makan-makan, kita akan mulai latihan kembali ya.”
Tetam terkesiap, “Eh? Tapi bukannya sekarang sudah hampir malam ya? Tuh, lihat jendelanya.”
Airiz mengambil dua pastel lagi, “Tenang, kami sudah minta izin ke orangtua kalian kok.”
Aku mengangkat tangan, “Tapi, luka yang mereka terima kan masih belum sembuh total.”
__ADS_1
“Oh, itu tenang saja. Kekuatanku kan bisa cepat menyembuhkan orang lain.” Airiz mengeluarkan api berwarna campuran dari merah, ungu, dan oranye di telapak tangannya.
Thomi mengepalkan tangannya, “Yes! Peraturannya?”