
“Haduh... baru juga sembuh, malah di suruh latihan lagi.” Mata Fang menyipit, menggaruk rambutnya yang mengembang.
“Memang sebelumnya tidak ada latihan malam ya?”
Fang mendekatkan wajahnya ke wajahku, bertatapan. “Adrian, kamu lihat wajahku.” Aku mengangguk.
“Lihat wajahku. Apa wajahku ini terlihat seperti terbiasa latihan malam?” Aku menggeleng.
“Nah itu tahu sendiri. Mana latihannya di hutan dalam pula.” Fang beranjak berdiri. “Ayo, kita harus cepat selesai latihannya. Semakin cepat, pulangnya juga semakin awal.”
...****...
Latihan kami kali ini bukan bertarung, melainkan mengumpulkan lilin yang di sebar sebanyak mungkin. Waktunya lima belas menit. Setelah lima. belas menit, bel dari menara akan berbunyi selama dua menit. Kami di larang keras mencuri, mengambil, atau bertarung dengan tim lain.
“Ambil yang di kiri itu, Adrian.” Fang menunjuk lilin di samping pohon.
Aku menengok, mengambil lilin itu. Lumayan, tiga lilin sekaligus. “Sudah berapa banyak yang terkumpul Fang?” Fang mulai menghitung lilin di tangannya, kemudian lilin di tanganku.
“Totalnya ada sebelas, sepertinya sudah cukup. Ayo, kita langsung pergi ke menara.”
Fang berjalan lebih dulu, aku menyusul di belakangnya.
Latihan ini terlihat mudah. Tidak ada rintangan, perkelahian ataupun yang lainnya. Hanya saja kami harus hati-hati berjalan, karena gelap. Tidak ada penerangan, dan kami tidak diperbolehkan untuk menyalakan lilin.
Gong! Gong! Gong!
Suara lonceng menggema keras ke seluruh penjuru hutan, kecuali yang telah dibatasi Daisy menggunakan kekuatannya. Sehingga suara lonceng yang di pukul tidak mengganggu warga sekitar.
“Cepat, Adrian! Loncengnya sudah di pukul.” Belum sempat menjawab, Fang telah duluan lari menuju sumber suara.
Aku mencengkeram lilin di tanganku dengan kuat, lantas bergegas menyusul Fang pergi ke sumber suara.
...****...
Kami sampai dalam waktu satu menit. Masih tidak ada siapapun di depan gerbang menara, kecuali aku dan Fang. Bisa dibilang kami tim pertama yang sampai ke depan menara ini.
“Hai, Adrian.” Ben berlari kecil, menyapa.
Thomi menyusul Ben dari belakang, napasnya menderu kencang. “Jangan seenaknya lari begitu dong!”
Ben menyeringai sembari mencolek-colek dagu Thomi. “Kamu takut hantu ya...” Thomi menepis colekan tersebut, pipinya memerah.
__ADS_1
“Hei kalian.” Seseorang tiba-tiba melompat turun. Mendarat di tengah-tengah kami.
Daisy celingak-celinguk, “Mana Tim Abel?” Kami mengangkat bahu berbarengan.
“Kami disini.” Beberapa detik kemudian, Tetam muncul dari balik bayang-bayang, merangkul Abel yang tertidur.
Airiz muncul entah datang dari mana, langsung melempar api kecil ke baju Abel. Abel yang tertidur, matanya langsung melek karena kepanasan di lempar api, loncat sambil menepuk-nepuk api kecil di bajunya.
“Baik, semuanya sudah berkumpul. Lilin yang kalian ambil tadi, letakkan di atas nampan ini.” Airiz berjalan mundur beberapa langkah, menunjuk nampan yang ada kedua tangan Daisy.
Milikku dan Fang, totalnya ada sebelas. Thomi dan Ben, delapan. Daisy melihat tangan kami yang menaruh lilin ke atas nampan. “Tetam? Kalian berdua tidak membawa lilin sama sekali?”
Tetam hanya mengangkat bahu. Menyikut Abel yang masih membersihkan kotoran matanya. Airiz mencengkeram pinggangnya, menggeleng-geleng.
“Baiklah, latihan hanya sampai disini saja. Sekarang kalian boleh pulang ke rumah masing-masing. Atau kalian mau diantar pulang dengan kekuatanku?” Kami mengangguk serempak.
Airiz tersenyum tipis, menghela napas. Dia mulai mengangkat tangan, bertransformasi menjadi manusia setengah elang yang diselimuti api.
“Waw... Phoenix.” Mata Thomi menatap tanpa berkedip.
Tanpa menanyakan sudah siap atau belum, Airiz langsung mengangkat kami semua dengan cakarnya, terbang. Daisy menghilangkan selaput transparan yang dia buat sebelumnya. Lalu ikut naik ke punggung Airiz.
“Ya jelas bedalah. Phoenix itu burung yang bulunya terbuat dari api. Dan biasanya, apinya tidak panas.” Gestur Thomi sudah seperti guru yang ahli di bidang perburungan.
Fang, dan yang lainnya menahan tawa melihat Thomi yang sedang menjelaskan. “Heh, apa? Kalian mengejekku ya?” Wajah Tetam memerah, melambaikan tangannya, berusaha menahan tawa.
Thomi urung menjelaskan. Pipinya yang sudah merah, semakin menjadi merah. Dia menyedekapkan tangan, membuang muka. Seolah terlihat sangat marah.
...****...
Tiga hari kemudian, tidak terasa sudah memasuki hari festival saja.
Aku, Abel, dan Tetam bangun kesiangan. Jam dinding menunjukkan pukul delapan. satu setengah jam lagi acara festivalnya akan dimulai. Kata Abel begitu sih.
Hari biasanya kami mandi bergiliran, melakukan apa saja sambil menunggu giliran. Tapi karena kami di desak oleh waktu, terpaksa kita bertiga harus mandi berbarengan di satu kamar mandi. Ya kamar mandinya memang hanya ada satu sih.
“Kamu buka baju duluan, Abel. Baru aku.”
“Enak saja kamu Tetam! Kamu duluan, baru aku. Aku kan kakakmu.” Abel menepis tangan Tetam yang hendak membuka bajunya.
“Bagaimana kita buka baju dan celananya bareng-bareng?” Aku menengahi.
__ADS_1
Abel dan Tetam saling lirik, berpikir. Beberapa saat kemudian, mereka mengangguk. “Oke, kita buka baju dulu ya. Satu... dua... tiga...” Kami serentak membuka baju.
“Sekarang celana.”
“Satu...”
“Dua...”
“Tiga...”
Kami membuka celana masing-masing. Tersenyum, saling pandang, melihat harta karun yang lain.
“Hahaha...! Kecil sekali punyamu Abel!” Tetam menunjuk harta karun Abel sambil. cekikikan.
Alis Abel mengerut, “Ih, punyamu kecil juga tahu!” Abel langsung menutupi harta karunnya itu.
“Iya, tapi tidak sekecil punyamu, Abel.” Tetam tertawa, mengambil gayung dan menyiram kepala Abel.
Abel hendak membalas Tetam, namun terhenti. “Eh, kalau punya Adrian?” Tangan Tetam yang mau menyiram Abel, refleks berhenti. Kemudian mereka langsung menoleh kearah aset berhargaku.
Mata mereka mengerjap-ngerjap. Berusaha beberapa kali mengusap matanya, seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Wah... punyamu besar sekali, Adrian.” Tetam refleks mau menyentuh aset berhargaku, namun aku menepisnya.
“Hei, kalian mau mandi atau membanding-bandingkan punya kalian sih?” Nada ku meninggi, menahan rasa malu.
Mereka berdua mengangguk. Melanjutkan kegiatan mandi. Saling menyirami kepala, menggosok punggung. Beberapa kali kami saling mengkeramas rambut.
Dua puluh menit selesai mandi. Kami berlarian telanjang bulat menuju kamar, lalu mencari stamp masing-masing dan segera memencet tombol untuk memakai baju.
Setelah memencet tombol tersebut, baju langsung keluar dari stamp nya dan otomatis menempel ke tubuh kami dengan sendirinya.
Kami bertiga saling dorong, melihat baju yang sedang kami kenakan. Waw... elegan. Kami sudah seperti anak dari keluarga bangsawan.
“Adrian, Abel, Tetam. Ayo sarapan dulu.” Ibu memanggil.
Aku dan Abel langsung berlarian girang ke dapur. Tetam lagi asyik bercermin, sampai-sampai tidak merasa kami sudah keluar kamar.
Ibu menaruh sosis-sosis dan makanan lainnya untuk sarapan pagi ini. Tumben, biasanya tidak sebanyak ini.
“Tentu saja, nak Adrian. Hari ini kan kalian akan pergi ke acara festival. Pasti lah kalian harus mengisi perut dulu sebelum pergi ke sana.” Ibu tersenyum. Ikut duduk, sarapan.
__ADS_1