Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Ujian Seleksi (1)


__ADS_3

“Hahaha... tahun ini pesertanya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, ya!” Terdengar sayup-sayup suara seseorang bicara lantang dan antusias di microphone. Mungkin sekitar dua orang, mereka ribut sedang memperebutkan microphone tersebut.


“Suara pengeras suara itu bahkan sampai memekakkan telinga, ya. Walaupun kita berada di luar istana sekalipun.” Fang, sejak tadi terus mengomel tentang microphone itu. Dan gendang telinganya sampai mau pecah. Katanya.


Seperti kata orang yang memegang microphone tersebut, hari ini banyak peserta yang mengantri sedari tadi. Bahkan di tengah hari yang terik ini. Ya... untunglah kami sudah stay disini semenjak pagi. Ya, memang banyak. Bahkan waktu kasir antrian belum buka pun, banyak sekali orang-orang berjejer, mengantri.


“Selanjutnya.” Aku segera melangkah. Petugas kasir itu merobek salah satu kertas di buku note. “Namanya siapa?” Tanya kasir itu dengan mata yang sedikit memerah akibat terus-menerus berada di dalam pos tersebut dari pagi buta.


“Adrian.” Aku berusaha tersenyum, agar wajah kasirnya tidak kusut-kusut amat.


“Berikutnya.”


...----------------...


“Kamu dapat nomor berapa, Adrian?” Fang gesit menilik kertasku.


“Nomor 64.”


“Sayang sekali ya. Sepertinya Thomi ketiduran di bar tadi. Dan ketika bangun, dia kebingungan karena tidak ada siapapun lagi di bar.” Abel tersenyum puas. Menopang kepalanya dengan tangan, menjadikannya sandaran.


Tidak lama setelah Abel tersenyum, suara lantang terdengar mengisi jalan lorong. “ABEL! ADRIAN! FANG!” Gawat! Itu Thomi!


“Kabur Fang! Adrian! Thomi marah!” Wajah Abel mendadak berubah. Dari tersenyum menjadi tempias. Aku dan Fang berlarian di lorong menyusul Abel yang sudah berlari jauh.


Thomi mendengus, mengentakkan tangannya, membuat lendir kuning  sebesar batang pohon kecil, menjalar mengenai kaki kami. Lantas menarik tangannya, lendir tersebut menjadi keras.


“Hei! Kenapa kalian meninggalkan aku sendirian di bar, hah!” Thomi melangkah perlahan. Mengepalkan tangan, gumpalan lendir kuning memenuhi tangannya, lalu mengeras. Berlari, bersiap memberi ‘pelajaran’ kepada kami bertiga yang meninggalkannya diam-diam.

__ADS_1


Tepat sebelum tinjunya teracung mengenai kami, semburan api mendadak muncul ke hadapan kami berempat, dan melelehkan lendir kuning Thomi. Kami jatuh terpelanting ke belakang.


“Kau! Jangan menggunakan kekuatan untuk menindas orang yang lemah, dong!” Seseorang muncul dari balik kepulan api sebelumnya, muncul di depan kami bertiga. Thomi mendengus, jengkel. Seseorang muncul secara tiba-tiba. Dan terlebih lagi, dia tidak mengenalnya.


Thomi mengembalikan lendir yang mencair ke tubuhnya semula. Menggumpal di tangan, lalu segera menyerap di tubuhnya. “Siapa kau? Berani sekali mengganggu aku!”


Aku, Abel dan Fang tertawa terpingkal-pingkal. “Hei, dia bukan ingin menyerang kami.” Abel menyeka air matanya karena tertawa.


“Dia teman kami. Dia marah karena kami iseng meninggalkannya sendirian di bar. Itu saja. Jangan terlalu di buat serius.” Abel merangkul Thomi yang wajahnya memerah karena marah, mencoba menjelaskan kepada seseorang yang muncul dengan kekuatan api tersebut.


Orang itu. Yang sebelumnya wajahnya bernyala-nyala seperti api, seketika padam layaknya habis di siram air satu ember. Lantas tertawa canggung, “Hahahaha... maaf, kukira dia berniat merundung kalian. Karena badannya terlihat kekar, makanya aku salah paham. Perkenalkan namaku Na-ese Anwuru. Panggil saja Anwuru.” Tepat setelah dia memberitahu namanya sendiri, api menyelimuti dia dan lantas menghilang dari hadapan kami.


Thomi termangu, “Wah... sepertinya itu nama bangsawan ya?”


GONG! GONG! GONG! Suara gong berbunyi nyaring. Lalu dilanjutkan dengan suara seseorang yang memegang microphone, setelah suara gong terhenti.


...----------------...


Sepuluh menit lengang. Semua peserta berkumpul.


“Kukira di mana, ternyata di tempat ini toh.” Gumam seseorang di sampingku.


Lantas aku menoleh, “Memangnya ini tempat apa?” Orang itu juga menoleh, kemudian menjelaskan. “Itu Koloseum. Tempat dimana para prajurit bertarung, menumpahkan banyak darah. Tidak hanya melawan sesama prajurit, namun juga para prajurit yang bertahan dipaksa untuk melawan hewan ganas pada masanya. Dan semua itu hanya sekedar untuk memuaskan seorang kaisar.”


Aku menelan ludah, “Tapi itu zaman dulu. Koloseum ini pastinya hanya replika. Karena Koloseum yang asli sudah runtuh sejak jutaan tahun lalu.” Orang itu santai menjelaskan tentang Koloseum, sambil mengangkat bahu. Kemudian berjalan lebih cepat, meninggalkanku.


“SELAMAT DATANG! DI UJIAN SELEKSI PASUKAN PEMILIK KEKUATAN!”

__ADS_1


“WUUUU!!!!” Penonton bersorak-sorai.


Biar aku jelaskan. Koloseum, seperti kata orang itu, tempat dimana pertumpahan darah terjadi hanya untuk kepuasan kaisar semata. Arena yang besar, dengan berderet kursi penonton yang kosong-melompong dari bawah hingga ke atas. Dan kami di suruh berkumpul ke tengah-tengah arena.


Trompet mulai dimainkan. Para komandan dan wakil komandan bermunculan setelah trompet tersebut selesai dimainkan, lantas mereka duduk di atas. Memperhatikan kami.


Lengang beberapa detik. Kemudian para peserta berteriak semangat melihat secara langsung para ketua komandan dari setiap pasukan. Meskipun mereka berada di atas, menonton kami.


Beberapa menit setelah mereka duduk, trompet kembali berbunyi. Seseorang mengenakan jubah oren dengan bulu-bulu lembut di samping jubahnya, beserta mahkota di kepalanya, datang. Lantas duduk di tengah-tengah kursi diantara ketua komandan, yang memang sengaja di kosongkan.


Seseorang berdiri dari kursi ketua komandan, “Baik, semuanya. Hari ini aku yang akan menjelaskan tentang ujian seleksi tahun ini. Aku Grove, ketua komandan dari pasukan matahari.” Peserta bersorak-sorai, berteriak semangat sembari memukul-mukul tangannya keatas langit.


“Wahh!! Itu Grove! Ketua komandan dari pasukan terbaik dari yang terbaik!” Seseorang berseru, mengepalkan tangan.


“Hahaha..! Aku harus masuk ke pasukan matahari itu!” yang lain menimpali.


Pasukan Matahari. Pasukan terbaik dari yang terbaik. Menurut penjelasan Pak Arion waktu si sekolah, Pasukan Matahari itu sendiri banyak memperoleh bintang dari tugas-tugas yang mereka berhasil selesaikan. Dengan anggota yang memiliki kekuatan dahsyat, bahkan pertarungan mereka sampai mempengaruhi keadaan alam sekitarnya.


Lalu pasukan terburuk dari yang terburuk, Pasukan Bulan. Pasukan yang paling sedikit memiliki bintang. Selain itu, Pasukan Bulan juga sering melakukan kekacauan daripada kebaikan.


Setelah sorakan mereka berhenti, Grove mulai bicara. “Jadi, ujian seleksi ini sama seperti tahun lalu, ada tiga jenis ujian. Ujian tertulis, ujian kekuatan, dan ujian bertarung satu lawan satu. Itu saja.” Grove kembali duduk.


Kertas-kertas mulai bermunculan dari atas. Aku dan peserta lain mengambil satu dari banyaknya kertas tersebut. Aku menoleh, Abel, Fang dan Thomi tidak ada, terpencar di tengah kerumunan.


Ujian pertama, ujian tertulis. Sebenarnya ujian ini tidak terlalu sulit, kami hanya ditanya tentang nilai-nilai dasar dari etika, moral, dan lain sebagainya.


Tiga puluh menit berlalu, selanjutnya ujian kedua. Di tengah arena disediakan lima target yang terbuat dari batu bata. Setiap gelombang hanya lima peserta yang maju dipanggil berdasarkan nomor urut. Yang belum dipanggil menunggu duduk ke kursi Koloseum.

__ADS_1


Ujian kedua cukup memakan waktu, karena pesertanya ada seribu orang. Dua jam berlalu, saatnya ujian ketiga sekaligus ujian penentu akan segera dimulai.


__ADS_2