
Ujian ketiga. Aku dan seseorang bernama Yan, dipanggil untuk ketengah arena. Aku, yang baru saja duduk, kembali berdiri. Berjalan cepat menuju arena.
“Kalian sudah siap?” Seorang wasit (mungkin?) bertanya memastikan.
Kami berdua mengangguk. “Siap. Mulai!”
GONG! Gong dipukul, pertanda pertandingan dimulai.
Aku refleks mundur satu langkah kebelakang, waspada. Yan tersenyum tipis, aku melihatnya. Wushh Yan gesit kearahku. BUM! Aku melempar bola kecil ke lantai. Asap mengepul hebat. Aku mundur selangkah, menendang Yan yang bingung sepersekian detik. Dan terkulai jatuh.
Dua detik, asap itu mendadak hilang. Aku melempar tiga bola kecil. Yan menggeser sedikit kaki kirinya, menghindar. Dia mendorong tubuhnya, Menyeringai lebar, kesiur angin kecil menyelimuti tangan kanannya.
Tornado terbentuk. Tubuhku terombang-ambing di dalam tornado tersebut. Lima belas detik, tornado itu hilang. Mataku berputar-putar, pusing. Seperti ada burung di atas kepala.
Tanpa ampun, Yan kembali membuat tornado. Kesiur angin terbentuk dari bawah lantai tempatku berpijak. Aku menjentikkan jari, menarik ketiga bola yang teronggok bisu menggelinding. Yan menoleh kebelakang. Tidak sempat. Yan membeku, kesiur angin yang mulai terbentuk menjadi tornado, seketika menghilang. Yan, sekujur tubuhnya membeku, dengan ekspresi wajah terkejut yang ikut membeku.
“PEMENANGNYA ADALAH ADRIAN!” Para peserta bertepuk tangan, sahut-menyahut.
“Hahaha... nyaris saja, aku hampir kalah.” Aku mengeluarkan bola kecil, menghangatkan tubuh Yan, yang membeku. Dua menit lengang, es mulai mencair.
Yan tersenyum getir, “Wah... tidak kusangka, aku kalah darimu. Aku kira kau orang yang lumayan bisa aku jadikan bantu loncatan.” Dua bola kecil menggelinding di lantai, lantas mengambilnya. “Wah, wah, wah... begini-begini pun, aku punya sepuluh kekuatan yang berbeda lho.” Sempurna sudah. Wajahku seperti iblis yang menguasai alam semesta.
***
Pertandingan selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya berjalan dengan unik. Orang yang unik, kemampuan yang unik, dan seleksi yang unik. Kalian tidak salah dengar, seleksi. Para ketua komandan bisa memilih pasukan yang mau dia rekrut sesuka hatinya. Walaupun mereka tidak berguna sekalipun.
Ujian ketiga, selesai. Matahari hampir menyingsing, segera berganti. Para peserta dikumpulkan kembali ke tengah arena, memanggil mereka satu persatu. Kemudian ketua komandan akan mengacungkan tangan jika mereka ingin merekrut salah satu peserta ujian.
“Nomor 43, maju. Gagal.”
“Nomor 45, maju. Gagal.”
__ADS_1
“Nomor 53, maju.” Mengejutkan. Hampir semua ketua komandan mengacungkan tangan. Para peserta lain berseru, terkejut, tidak menduga. Juga aku.
“Nomor 61, maju. Gagal.”
“Nomor 62, maju. Gagal”
“Nomor 63, maju.” Tiga ketua komandan mengacungkan tangan sekaligus. Wih... mantap, Abel!
Abel melihat ketiga ketua dan wakil komandan itu sejenak, “Saya akan bergabung dengan Pasukan Awan.” Hahaha... temanku itu.
“Peserta nomor 63, akan bergabung dengan Pasukan Awan!”
Pembawa acara tersebut kembali mengecek nomor urut di tangannya, “Nomor 64, maju.” Mendadak, jantungku berdetak kencang. Napasku menderu. Aku menelan ludah, melangkah ke tengah arena.
“Baik. Untuk para ketua komandan, silakan.”
“Tunggu, aku masih belum menyuruhmu bicara.” Salah satu komandan berdiri. Sekarang, sepasang mata tertuju padaku, yang berdiri di tengah arena.
Ketua komandan itu beranjak dari kursi, mengacungkan tangan. “Aku yang akan merekrut anak itu. Dan kau juga tidak bisa memilih sekarang, karena tidak ada ketua komandan yang mengangkat tangannya selain aku.” Dia menatap tajam mataku, lantas kembali duduk.
Fiuh... aku hampir tidak diterima. Tapi... aku masuk ke Pasukan Bulan, ya? Aduh... tapi tunggu, suaranya mirip dengan yang suara orang yang bicara seenaknya di microphone itu kan? Berarti... dialah yang diomeli oleh Fang! Jika ketuanya saja seenaknya, bagaimana dengan anggotanya?
Menara jam menunjukkan pukul enam sore, juga bertepatan dengan selesainya ujian seleksi kali ini. 237 peserta yang diterima, sisanya gagal. Tapi beruntungnya, aku, Abel, Fang, dan Thomi berhasil direkrut. Meskipun kami diterima di pasukan yang berbeda.
***
Sebelum kalian tidak semakin bingung, akan aku ceritakan sedikit tentang hal dasar.
Saat ini, kerajaan terbagi menjadi delapan wilayah. Yang otomatis memiliki delapan kerajaan. Kerajaan Markrasta, Kerajaan Alixia, Kerajaan Don-Sa, Kerajaan Haska, Kerajaan Yanpat, Kerajaan Salazar, Kerajaan Don-Pa, dan Kerajaan Don-Da.
__ADS_1
Masing-masing kerajaan memiliki kekuatan militernya sendiri untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya dari serangan kerajaan lain, jika sewaktu-waktu mereka ingin merebut wilayah kekuasaan secara paksa.
Dan salah satu dari kekuatan militer Kerajaan Markrasta adalah tujuh pasukan, yang masing-masing dari setiap pasukan memiliki ketua komandan yang memimpin dan mengarahkan pasukan mereka sesuai dengan perintah Raja.
Pasukan Matahari.
Pasukan Awan.
Pasukan Langit.
Pasukan Api merah.
Pasukan Petang.
Pasukan Bulan.
***
Bulan berangsur naik, para peserta telah kembali ke tempat tinggalnya. Beberapa dari mereka menangis, sesak, sedih, bahkan menyalahkan diri sendiri mengapa dia tidak bekerja keras selama ini, menyesal kenapa selama ini dia hanya duduk santai, berusaha tidak mengetahui apa-apa.
Termasuk kami, para peserta yang diterima. Pun kembali ke rumah baru kami.
“Tunggu apa lagi? Pegang tanganku, kita akan kembali ke kastil.” Ketua Komandan Pasukan Bulan, Leah. Mengulurkan tangannya.
Aku mengangguk, menyambut uluran tangan tersebut. Tanpa menanyakan aku sudah siap atau belum, BUM! Terdengar suara memekakkan telinga dari kaki Komandan Leah, melenting jauh ke atas, menuju “kastil”.
Sepuluh menit berjalan seperti sepuluh jam. Aku berusaha menahan mual sebisa mungkin, sampai. Kami telah sampai ke kastil Pasukan Bulan. Tempat dimana para pembuat onar berada.
Aku mendongak melihat sekitar, “Tapi Komandan, di mana kastil yang Anda maksud?” Komandan Leah menepuk bahuku, kuat sekali. Sampai robek karena efek dari tepukannya tersebut.
Komandan Leah menunjuk ke belakang. Aku berputar ke belakang, wah... sebesar ini? Di tengah hutan belantara?
“Bukan hutan belantara.” Wakil Komandan mengusap keringat. “Kita berada tepat di hutan terlarang. Tempat dimana para monster hutan tidur nyenyak.” Tidur nyenyak?!
Komandan Leah merangkulku, “Ck, segera masuk.” Aku dan Wakil Komandan mengangguk, berjalan. Tepat ketika pintu kastil itu dibuka, lengang. Tidak ada siapapun.
__ADS_1
“HEI KALIAN! TIDAK SOPAN SEKALI MENGABAIKAN PENDATANG BARU KITA! JANGAN TERUS MERINGKUK DI KASUR, DAN SEGERA KEMARI!” Nyaring sekali teriakan Komandan Leah, hingga bergeming telingaku mendengarnya.