Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 28 – Hancurnya Keseimbangan (3)


__ADS_3

Lima belas menit, aku kembali ke meja makan. Tentunya masih melanjutkan makan siangku.


“Tadi tuh, kamu ke mana sih?” Far yang telah mengambil sirup, kembali duduk. Aku menoleh, lalu melambaikan tangan. Tidak tertarik membahasnya.


Pun ketika kami selesai makan siang dan kembali ke kastil nyentrik itu, Far masih penasaran kenapa aku dipanggil. Aku tertawa kecil, hanya diam. Sesekali mata Wass melirik pembicaraan aku dan Far. Mungkin untuk memastikan aku tidak membocorkan informasi itu.


59 detik kemudian, kami telah kembali ke tempat semula. Hutan belantara, tempat para monster tidur nyenyak disana. “Baiklah, kalian bisa tidur siang sekarang.” Leah meregangkan tubuhnya, duduk di sofa, menutup kepalanya dengan buku besar, lantas tidur.


Yang lain tanpa disuruh pun, mereka pasti akan tidur siang. Baiklah, karena sekarang tidak ada yang harus aku awasi seperti mereka yang belum siuman selepas misi membasmi sarang laba-laba, aku juga bisa tidur nyenyak sekarang.


Aku tertidur lelap. Mimpi indah.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang memanggilku. “Ian..”. “Adrian...”. “ADRIAN!” Aku terkejut, bangun dari rebahan. Ternyata Wass yang membangunkanku.


Aku mengucek-ucek dan membersihkan kotoran mata, lalu mendongak melihat Wass yang tengah berkacak pinggang. “Eh? Kenapa, Wass?”


“Bangun. Hari ini kita menjalankan misi.” Wass beranjak keluar, menyisir rambutnya menggunakan tangan.


Misi? Aku menengok kearah jendela. Masih malam kok. Kenapa ada misi? Bukannya misi hanya diberikan siang hari ya? Seperti menangkap sapi yang terlepas dari kandang, mengambil kucing dari atas pohon.


Walaupun kedengaran mustahil, tapi untuk menambah-nambah bintang, kami yang masih siuman waktu itu terpaksa harus menerima misi tersebut. Kenapa? Karena point minus di Pasukan ini adalah seratus bintang. Dikurang dua puluh bintang karena telah membasmi sarang laba-laba, berkurang menjadi delapan puluh. Mungkin sekarang hanya tersisa minus lima puluh bintang. Dalam beberapa hari, itu sangat lumayan.


“Justru inilah misi yang biasa dijalankan Pasukan Bulan.” Wass sedikit menoleh ke belakang, kemudian hilang. Pergi keluar.


Aku beranjak berdiri, meregangkan badan. Lima menit kemudian, aku pergi dan tiba diluar pintu kastil. Mereka telah berbaris rapi. Aku segera mempercepat langkah, kemudian berdiri mengisi barisan yang masih kosong.

__ADS_1


Leah menoleh ke Wass. Wass mengangguk, lalu Leah kembali menatap kami semua. “Karena semuanya telah lengkap, kita akan langsung mengerjakan misi malam ini. Misinya sangat sederhana, jika dibandingkan dengan misi-misi sebelumnya.” Semua hening, tidak ada jawaban. Tetap berdiri tegak.


“Misinya adalah menghancur-leburkan markas musuh. Karena tidak jauh dari sini terdapat sarang para Pasukan Malam dari Kerajaan Don-Pa yang sedang mencoba menggali informasi dari Markrasta, membaur dengan penduduk biasa.” Wajah Leah terlihat lebih serius, dan tentu saja berkarisma.


Leah menancapkan bilah pedang tipis dan panjang ke tanah, “Aku tidak tahu jumlah pasti dari Pasukan Malam, tapi karena Malam hari ini hampir semua penduduk telah kembali ke rumah masing-masing. Dan tentunya ciri dari Pasukan Malam adalah mereka tetap berjaga pada Malam hari. Indra penglihatan dan pendengaran mereka sedikit lebih unggul daripada Pasukan kita.”


“Kabar baiknya, Wakil Kaisar telah menginformasikan tempat berdiam para Pasukan Malam. Dan kita hanya perlu menuruti rute ini, kemudian musnahkan, lalu bunuh semua Pasukan Malam. Tanpa kecuali.” Aku menelan ludah. Membunuh semua Pasukan Malam? Apa itu tidak berlebihan?


Wass mengembuskan napas, “Justru itu jalan terbaik untuk keselamatan negara kita, Adrian.”


Hah? Dia seperti tahu isi hatiku. Apa jangan-jangan kekuatannya adalah... Belum selesai aku membatin, Wass keburu menjawabnya. “Aku bisa membaca pikiran orang, Adrian. Tapi sayangnya ini bukan kekuatan, namun keahlian.”


***


Kami berpencar menjadi empat kubu, masing-masing kubu beranggotakan empat orang, melompat-lompat dari satu dahan ke dahan pohon yang lain.


Wass memberikan komando. Waktunya beraksi. Gamo dan Damo memandangi dua anggota Pasukan Malam yang berjaga di belakang gubug. Beberapa detik, setelah kedua orang itu lengah, Gamo-Damo gesit menusuk masing-masing dari mereka menggunakan bulu merah milik Brice.


Bulu tersebut bukan hanya berfungsi untuk melumpuhkan lawan, tetapi juga untuk mendeteksi keberadaan orang yang menggunakannya. Brice memejamkan mata, lalu mengacungkan jempol. Tandanya berhasil.


Wass yang menatap Brice, mengalihkan pandangnya kembali ke depan. Fokus. Saat terjadi ledakan di gubug, kita langsung maju serempak, habisi mereka, tapi sisakan satu orang yang masih hidup. Buat dia pingsan saja. Pesan telepati. Itu kemampuan dari Wakil Ketua Komandan Pasukan Bulan.


BUM! Tersulut api setinggi batang pohon disekitar, dengan asap tipis yang membaluti api tersebut. Perhatian Pasukan Malam terpusat menuju ledakan di gubug tersebut.


Lima detik emas. Gamo-Damo terlihat melangkah ke hadapan mereka yang tengah sibuk meruntutkan kejadian ledakan di gubug tersebut. Perhatian mereka tentang gubug yang terbakar itu lenyap ketika Gamo-Damo menampakkan batang hidungnya di hadapan mereka.

__ADS_1


Dalam pencernaan informasi mereka, Gamo-Damo yang tersenyum berdiri di hadapan mereka dan membelakangi gubug terbakar itu, Gamo-Damo lah dalang dibalik kejadian ledakan tersebut. Yang telah membakar habis bubuk mesiu dan persenjataan di dalam gubug yang hancur lebur hingga kayu-kayunya menjadi hitam, lapuk.


“Beraninya kau, bocah!” Seru salah satu dari mereka.


“Sepertinya mereka salah memilih tempat bermain.” Yang lain menimpali. Melemaskan kedua tangannya. Pemanasan.


Tepat sebelum mereka menyerang si Kembar Gamo-Damo, kubu kami melesat melompat, turun ke tanah. Menancapkan pisau. Tiga dari mereka mati terkapar, dan satu sisanya dibuat pingsan.


***


“Katakan informasi yang kau punya, lalu kau bisa bebas.” Leah membuka sarung pedang di pinggangnya. Orang tersebut menatap ngeri. Tidak ada logikanya orang yang tengah melepas sarung pedang akan menjamin sanderanya lepas hidup-hidup.


Orang itu menelan ludah, “Mana mungkin aku memberitahumu! Meskipun–”


“Meskipun apa?” Leah mengelus mata bilahnya dari gagang hingga mata pedangnya.


“Hiiyy!!” Pun tetap menolak. Menggeleng kuat.


Vallen menutup mulutnya dengan kain dan mengikatnya erat-erat. Leah mulai melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Dari kenapa mereka datang ke Kerajaan Markrasta, hingga seluk-beluk akal bulus kemungkinan Kerajaan Don-Pa.


Lima menit, bukan. Tujuh menit cukup untuk itu. Semua jejak-jejak sudah diratakan dengan tanah oleh Brok dan yang lain. Sisa anggota Pasukan Malam tetap bersikukuh menolak menjawab dengan menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.


“Sudah?” Leah menoleh ke Wass. Wass mengangguk. Mencatatnya baik-baik. Leah menyeringai senang, langsung menebas leher sisa anggota Pasukan Malam. Kepalanya terbang dan tergeletak begitu saja, dengan darah yang mengalir deras membasahi lantai.


“Vallen, bersihkan juga tempat ini.”

__ADS_1


__ADS_2