
Setelah melalui begitu banyak rintangan, akhirnya aku berhasil menyelamatkan Lizam dari para penculik tersebut, dan segera pergi menuju keramaian.
“Dari tadi kamu sudah sadar kan, Lizam?” Aku menatap Lizam yang sedang ku gendong.
Lizam tersenyum, lantas berdiri. “Hehe, terima kasih Adrian. Kalau kamu tidak ada, aku tak tahu lagi bagaimana nasibku.”
Aku mengangguk, “Oke. Tapi aku mau mencari adik-adikku dulu.”
“Aku ikut.” Sahutnya antusias.
----------------
Lima belas menit, akhirnya ketemu. Kukira mereka menyelip-nyelip ke gerai atau tempat seperti apa. Ternyata mudah saja mencari mereka. Menuju pusat acara festival kembang api.
Aku dan Lizam menghampiri mereka, segera memperkenalkan Lizam. Dan entah muncul angin dari mana, Tetam langsung akrab dengannya.
Abel maju, menyelaraskan. “Untung kalian tidak terlambat, karena puncak festivalnya sebentar lagi. Eh, tadi kamu ke mana saja, Adrian?”
Aku canggung, menggaruk kepala. Tapi untung lah Tetam yang bilang kembang api nya akan di mulai. Ternyata sifat banyak omong nya bisa menyelamatkan orang ya.
Kami segera mencari tempat duduk, menyaksikan puncak festival tersebut. Anak-anak, remaja bahkan sampai dewasa menuju kemari. Anak-anak yang mereka bawa berlarian tidak sabaran. Tidak lupa juga dengan para pedagang yang selama pagi sampai malam ini hanya berada di gerai, menjaga gerai mereka. Kini, semuanya duduk di tengah lapangan, menunggu puncak festival tersebut.
“Adrian.”
Aku menoleh, “Ya? Ada apa Lizam?”
“Sekolah kami juga menyiapkan kembang api, untuk acara festival ini lho.”
“Oh ya?” Aku mendekat, mulai tertarik.
“Sebenarnya sudah biasa, bahkan setiap tahun acara festival ini diadakan. Setiap sekolah diwajibkan membuat kembang api ini. Katanya untuk memeriahkan festival tahunan ini.”
__ADS_1
Lizam menyeruput teh, “Dan kebetulan sekolah kami terpilih berkontribusi untuk membuat kembang api di puncak acaranya.”
Kepalaku memiring, “Berkontribusi? Apa itu?”
Lizam tersenyum, “Berkontribusi itu artinya ikut. Ikut membuat kembang api, Adrian.” Aku ber-oh pelan, lantas mengangguk.
Lizam menunjuk keatas, kembang api sudah melesat keatas langit malam dengan bintang-bintang yang menghiasinya.
*Psyuu... DUM!
Psyuu... DUM!
Psyuu... DUM*!
Mataku berbinar, melihat kembang api. Bukan, bukan berarti aku baru pertama kali melihatnya. Tapi karena ketika meletus, kembang api itu membentuk motif yang indah.
Kembang api pertama membentuk hati yang besar yang bertangkai kan layaknya mawar. Dan terdapat tulisan “Love” di tengah-tengah hati tersebut. Mereka yang menjalin hubungan, tersenyum sambil berpegangan tangan erat.
Kembang api ketiga, keempat, dan seterusnya tidak kalah bagusnya. Dan saat kembang api terakhir di nyalakan, kami yang berada di lapangan takjub, seolah membeku.
Tepat saat kembang api itu meletus, membentuk banyak murid serta guru yang riang menulis “SELAMAT TAHUN BARU” besar-besar. Yang kami kagumi bukan itu, melainkan letusan tersebut berjalan seperti video. Bukan yang meletus sekedar muncul bentuk-bentuk tertentu.
Suara tepuk tangan meriah, satu-dua dari mereka tertawa, bilang kembang api terakhir tadi adalah yang paling bagus dari yang pernah dia lihat selama ini.
Aku dan Lizam. beranjak dari tempat kami duduk. Kami bersalaman, dan Lizam pergi. Menghilang di sapu keramaian.
Tetam dan Abel mendekat. Kami mulai berjalan. “Adrian, Lizam yang tadi mana? Bukannya dia bersama kamu ya?” Tetam masih menyeruput minumannya, bertanya heran.
“Oh, dia pamit duluan. Katanya sih ada urusan, jadinya dia tidak sempat pamit ke kalian. Oh ya, ini ada hadiah dari Lizam untuk kalian. Aku juga dapat. Katanya sebagai ucapan terimakasih.” Aku tersenyum.
Abel dan Tetam meraih bungkusan kecil tersebut dari tanganku. Mereka terkesiap, “Ini, ini, ini... sungguhan? Aku tidak sedang mimpi kan? Abel, cubit aku–” Belum genap Tetam bicara, Abel sudah menarik rambut Tetam dengan kencang, full power.
__ADS_1
Tetam mengaduh kesakitan, wajahnya masam. Tapi kembali manis saat melihat isi kantung itu sekali lagi. “Ini serius kan? Kita di kasih Lizam 3.000 emas!!! HAHAHA... KAYA... AKU KAYA–”
“Kayak ayam maksudnya, Tetam?” Abel memotong Tetam, cengengesan.
Dan kalian tahu? Di sepanjang jalan, dari tempat festival sampai pulang. Tetam menyeringai lebar, sambil sesekali tertawa, dan bilang “Aku kaya. Aku kaya.” Abel tidak membalasnya seperti tadi, sudah bosan. Dan memutuskan menutup telinganya, pun sama denganku.
“Ibu... Tetam pulang...” Dia riang langsung masuk ke rumah.
“Iya nak. Makan malam kalian sudah ibu siapkan di meja makan. Jangan lupa makan malam ya, ibu mau tidur. Sudah jam sembilan juga. Setelah makan, cuci muka, sikat gigi, baru tidur ya.” Tabiat ibu selalu begitu, banyak bicara.
Kami mungkin hanya anak dari transaksi jual-beli antara sepasang suami-istri dan sang penjual anak-anak. Tapi mereka berdua sudah menganggap kami bertiga seperti anak mereka sendiri.
Seperti kebanyakan sifat ibu pada umumnya, selalu cerewet kalau urusan makan atau yang lain. Dan di tempat baru ini, aku bertemu banyak orang. Bahkan aku mempunyai banyak teman setelah acara festival tersebut. Dan aku sedikit melupakan adikku sendiri, Natan.
Aku, Abel dan Tetam menempuh sekolah di sana selama enak tahun. Sekolah yang di renovasi tidak terlalu berubah banyak. Hanya ada beberapa perbaikan, dan lorong-lorong kelas yang awalnya berdebu dan lembab. Siapa sangka bisa di sulap menjadi sekolah yang seolah baru di bangun beberapa hari lalu.
Apakah anggarannya cukup? Mungkin jawabanku sangat amat cukup, bahkan lebih. Karena Pak Arion dan guru-guru yang lain telah menyulap tiga tempat di tiga lantai sekolah menjadi perpustakaan dengan buku-buku yang paling lengkap dan update.
Banyak murid yang antusias dengan perpustakaan tersebut. Selain bersih dan nyaman, mereka bisa baca buku sambil rebahan atau sambil tengkurap. Tapi yang membedakan perpustakaan ini dengan sekolah lain adalah murid tidak boleh meminjam buku, atau membawanya keluar dari perpustakaan.
Ini sudah kebijakan sekolah agar meminimalisir kerusakan, atau kehilangan buku. Bagi mereka yang secara tidak sengaja ataupun sengaja merobek buku, akan dikenakan sanksi membayar 10 koin perak, dan menulis ulang halaman yang mereka robek di kertas lembar buku hukuman, lalu menyerahkannya ke guru yang menjaga perpustakaan tersebut.
Materi pelajaran? Apalagi. Bahkan para guru di sana, menjelaskan dengan singkat dan muda di pahami.
Dengan semua kemajuan tersebut, sangat disayangkan. 6 tahun kemudian aku dan Abel, beserta teman seusia kami harus berpisah, lantaran kami telah lulus dari sekolah.
Ibu dan Ayah juga bilang, bahwa kami harus menempuh jalan baru. Dan jangan melulu tinggal tinggal dirumah. Tetam masih belum menyusul kami, karena dia harus menyelesaikan sekolah dua tahun lagi.
Umur kami genap 16 tahun, dan kami berdua direkomendasikan ke kerajaan untuk menjadi salah satu dari sekian banyak regu dari kerajaan.
Ini awal mula perjalananku. Dan aku tidak menyangka sebelumnya bahwa ada kekuatan besar yang mengharuskan kami berkorban. Aku Adrian, dan kisah ini baru saja di mulai.
__ADS_1