
Setelah meluluh-lantakkan sarang ratu laba-laba, kami pulang dengan selamat. Beberapanya terkapar pingsan, karena terlalu banyak memakai kekuatannya demi menuntaskan misi pertama (aku).
Wass menjentikkan jarinya, Zap! Kami berpindah dalam sekejap mata, ke depan pintu kastil yang lusuh. Kalian tahu kan, kastil tua yang tidak terjaga? Lumutan.
Beberapa hari kemudian.
BRAK! Pintu terbuka nyaring. “Kondisi mereka bagaimana?” Wass mendobrak pintu, membawakan nampan berisi banyak sirup merah.
Lizt menyambut nampan tersebut, “Menurut dari analisis-ku, seharusnya mereka siuman hari ini. Paling lama ketika siang hari.” Wass manggut-manggut, duduk di salah satu kursi di ruangan 10 x 10 meter ini.
Si kembar Gamo Damo siuman. Matanya mengerjap-ngerjap menatap kami bertiga sedang duduk. “Lho? Bukannya tadi aku di dalam Gua, ya?” Damo bersandar di dinding, tetap diatas kasur.
“Kalian sudah siuman? Baguslah.” Jawab Lizt, sambil membuka buku mantranya. Aku beranjak dari tempat duduk, berpindah ke ruang sebelah yang hanya terpisah dengan sekat tipis.
Either dan Brice mulai siuman, mengusap-usap matanya. “Kalian sudah siuman?” Aku mulai duduk di samping mereka. Eh? Kenapa kalimatku sama seperti Lizt?
“Ya– kau lihat sendiri lah. Memangnya kita masih pingsan?” Tatap Either, dengan tajam. Brice menyikutnya, “Itu cuman kalimat basa-basi.”
Brice menatapku dengan lebih baik, “Oh ya, yang lainnya di mana?” Mataku berkedip-kedip, berusaha mengerti maksudnya.
“Oh, kalau yang lain seperti Hast, Vallen, Far. Mereka pergi ke hutan, sedang latihan. Katanya kekuatan mereka masih belum kuat.”
“Cih, mereka itu. Baru saja keluar dari Gua, sudah tiba-tiba latihan keras. ‘Aku harus lebih kuat’ padahal biasanya santai sekali.” Either mencibir.
BRAK! Seseorang mendobrak pintu lebih kencang daripada sebelumnya. “Leah?!” Kami sontak menyebutnya.
Leah masuk, meletakkan babi hutan besar sebelum masuk ke dalam ruangan. “Hahahaha! Berhasil bukan?”
“HEI! KAU DATANG KE SINI HANYA UNTUK MELEDEK KAMI SAJA?!” Gamo-Damo, Either dan yang lainnya berseru kompak.
__ADS_1
“Kalian sudah sembuh bukan? Bagus. Sekarang kita sarapan babi hutan itu.” Leah menunjuk ke belakang.
“KAU SELAMA INI KEMANA SAJA!”
***
Leah tetap tertawa, bahkan saat babi terpanggang sempurna.
Either melirik sebal Leah. “Kenapa sih, kita makan di depan pintu kastil lagi.” Leah menoleh ke Either, lantas kembali tertawa. “Biar hemat biaya. Kau tahu kan tempat tinggal kita saja lumutan.”
Aku menyayat daging babi, meletakkannya di piring. “Kenapa misi pertamaku ke sarang laba-laba itu?”
“Karena di Pasukan Bulan, tidak ada yang namanya misi pertama. Kuat atau tidak, bersiap atau tidak, perintahku tetap mutlak kan. Hahahaha... tapi untunglah kalian tidak mati. Jika tidak, aku harus kembali merekrut para sampah itu lagi tahun depan.”
Suasana hening, hingga daging babi yang membalut tulang-belulang, habis. Leah beranjak berdiri. Pun dengan Wass, berdiri di samping Leah sebagai wakil. “Kita pergi ke istana Markrasta.” Leah menyingkap jubahnya.
Kami segera beranjak dari tempat duduk.
Leah menyunggingkan senyum, “Inilah fungsinya kastil ini. Kalian, segera masuk ke dalam kastil. Kita akan pergi ke istana Markrasta dalam beberapa detik.”
Kami tidak banyak tanya, segera masuk ke dalam kastil. Setelah semuanya masuk, Leah menjentikkan jari. BUM! Bunyi dentuman terdengar hebat, memekakkan telinga. Dan BUM! Begitu saja sampai ke istana Markrasta.
***
Benar beberapa detik, tidak sampai satu menit. Tapi 59 detik. Kastil Pasukan Bulan mendarat kasar di tengah lapangan istana, para prajurit yang sedang latihan mengayunkan pedang, menoleh. Menjadi pusat perhatian dalam sekejap mata.
Pintu terbuka, Leah membawa wine di tangan kirinya, tertawa. “Keren bukan?” Keren apanya? Mendarat sembarangan. Sesuka dia lah, kalau salah pun dia juga yang kena.
Dan ada hal lain yang membuat Pasukan Bulan ini tidak kalah populer dibandingkan Pasukan Matahari yang dipimpin Grove, yaitu aksinya yang suka nyentrik. Seperti saat ini, pergi ke istana dengan kastilnya sekalian.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat, berbisik membicarakan kastil yang mendarat di tengah lapangan. Tak lama setelah itu, diatas langit, muncul empat awan yang bergerak turun ke tengah lapangan. Pasukan Awan. Aku menyipitkan mata, lebih fokus.
Oh! Abel! Wuusshh, mereka turun dari awan, awan yang mereka naiki hilang. Berganti menjadi air yang membasahi sedikit rerumputan di lapangan.
“Cepat, kita masuk ke dalam istana.” Leah berjalan lebih dulu, kami menyusul. Sayang sekali aku tidak bisa mengobrol dengan Abel, walau hanya sebentar. Tapi pertemuan apa yang membuat banyak Pasukan berkumpul?
“Itu karena ada masalah yang sedang dibahas, Adrian.” Seakan tahu pikiranku, Wass menjawab dengan tenang.
Kami diantarkan para pelayan menuju ruang rapat. Dua menit menempuh perjalanan, para pelayan yang mengantar kami undur diri, kembali ke tempat berjaganya. Dua pelayan yang sedang berdiri di depan pintu, membukakan pintu tersebut.
Pasukan Matahari, Langit, Petang, Api Merah, dan tentu saja Kaisar juga dengan wakilnya telah duduk di kursinya, memandangi. Kami masuk, dan Leah duduk di kursi. Kami? Ya berdirilah, apalagi.
Kaisar pura-pura batuk, memulai rapat. “Baiklah. Karena semuanya telah berkumpul, kita langsung saja memulai rapat ini–” Ketua Komandan Pasukan Petang mengangkat tangan, “Tapi, apakah perwakilan anggota kami juga perlu tahu masalah ini?”
Kaisar tersenyum, mengangguk. “Iya. Mereka juga perlu tahu, supaya ada yang mewakilkan pendapat anggota pasukannya. Tentu saja, Pasukan Bulan membawa kedua belas anggotanya sekalian.” Kaisar mencoba bergurau, namun atmosfer ruang rapat semakin tegang.
Ketua dan Wakil Komandan berkumpul di satu tempat. Dan dua puluh anggota di setiap Pasukannya. Pemandangan yang hebat, sekaligus menyeramkan.
Grove, Ketua Komandan Pasukan Matahari memegang pulpen, “Jadi? Apa tujuan kita berkumpul di sini? Bukankah bahaya, jika kita terlalu lama berunding. Maaf lancang, tapi langsung ke intinya saja.”
“Kalian tahu tentang sarang laba-laba?” Kali ini Wakil Kaisar yang memulai rapat penting. Dia menunjuk salah satu titik kecil bergambar laba-laba di peta yang besarnya hampir satu meja.
Ketua Komandan Pasukan Api Merah mengangkat tangan sedada, bertanya. “Tempat anggota Pasukan Bulan berhasil menjalankan misi untuk pertama kalinya bukan?”
Wakil Kaisar mengangguk, “Tepat sekali. Dan laba-laba itu salah satu dari simbol enam hewan mematikan, mereka ada karena untuk menjaga keseimbangan. Tapi di sisi lain kerajaan Haska dan Salazar telah melakukan pergerakan yang serupa. Mereka telah membasmi masing-masing satu dari simbol enam hewan mematikan itu–”
“Memangnya apa saja yang telah mereka bunuh?” Leah memotong pembicaraan Wakil Kaisar.
“Kerajaan Haska telah membasmi sarang dari Kumbang Vesicatoria, dan Kerajaan Salazar telah membasmi sarang dari Ubur-ubur Chrones.” Wakil Kaisar menunjuk laut wilayah kediaman sarang Ubur-ubur Chrones.
__ADS_1
Ketua Komandan Pasukan Petang refleks memukul meja, dahinya keringat dingin. “Oi, oi... bukannya sarang Ubur-ubur Chrones itu tidak ada? Bukannya mereka hidup secara terpisah?!” Suasana di dalam semakin berat.