
Setelah berbicara ringan beberapa menit, Lizam mengajakku keliling perpustakaan. Suasananya tidak terlalu senyap, keheningan terisi sebagian dengan suara antusias anak kecil.
Emm... aku tidak tahu, apakah Lizam sepopuler itu? Perempuan sepantaran, bahkan sedikit lebih dewasa dari kami menatap wajah Lizam. Berbinar-binar matanya, sudah seperti melihat pemandangan yang teramat bagus.
Sesekali mereka saling dorong, berbisik-bisik ingin menyapa. Bahkan ada memberanikan diri berusaha menyapa Lizam. Lizam menoleh ke sumber suara, juga menyapanya. Kemudian lanjut berjalan, sembari menjelaskan tempat-tempat yang telah kami lewati.
Aku menyikut Lizam, “Ternyata kah populer, ya.”
“Populer dari mana? Setiap hari aku memang selalu berada di dalam perpustakaan ini, jadi wajar saja jika ada yang menyapa.” Lizam mengangkat bahu, menunjukkan ruangan selanjutnya.
“Nah, ruang sebelumnya yang kita lewati adalah rak buku untuk genre romance, sekarang kita berada di ruangan yang penuh dengan buku-buku sejarah.” Aku mendongak, melihat betapa banyaknya buku-buku sejarah.
Lizam duduk di salah satu kursi, “Sebenarnya buku sejarah yang tercatat hanya sedikit. Mungkin sekitar seratus buku,” Dia mengambil salah satu buku dengan judul “Terbelahnya Benua”, membuka isi halamannya dengan cepat. Memperlihatkannya kepadaku, “Lihat, tidak ada yang tertulis, kan? Meskipun buku di ruangan satu ini terlihat banyak, akan tetapi yang benar-benar tertulis hanya seratus buku. Itu pun tidak tebal, sekitar dua ratusan halaman. Dan sisanya hanyalah lembaran kosong tiada arti.”
“Oh ya,” Dia menggeser kursinya, mengambil salah satu buku di rak. “Ini buku sejarah terbentuknya delapan kerajaan saat ini.”
“Sejarah terbentuknya kerajaan? Memangnya bukan dari sananya, ya kerajaan itu?” Aku menggaruk-garuk kepala.
Lizam tertawa “kecil” sambil menepuk-nepuk bahuku, “Tidak, kerajaan awalnya memang adalah warisan turun-temurun. Tapi sekarang rasanya tidak lagi. Setelah selesainya suatu insiden, kerajaan yang dahulunya makmur, aman, sejahtera. Mulai bertengkar di meja rapat, memperdebatkan soal kekuatan militer, yang satunya soal uang, pendidikan, pembangunan, dan lain sebagainya.”
Lizam menghela napas. “Baiklah. Ratusan tahun yang lalu, terdapat sebelas kerajaan yang masing-masing mempunyai ciri khas dan kelebihan di bidangnya masing-masing pula. Intinya, mereka saling membutuhkan.”
Lizam kembali menyapa orang-orang yang memanggilnya, kemudian melanjutkan. “Nah, suatu hari terbetik kabar bahwa kerajaan dengan kekuatan militer yang kuat kalah, hanya dengan sebuah rombongan. Yang tentu, ternyata rombongan ini dari kerajaan lain. Tapi bukan salah satu dari kesebelas kerajaan itu. Bahkan wajahnya pun tidak ada yang mirip dengan kerajaan manapun.”
“Setelah diselidiki, ternyata rombongan yang mengambil alih kerajaan yang mereka serang adalah nama kerajaan yang tidak pernah ada sebelumnya. Lebih tepatnya, mereka tidak pernah mendengarnya.” Lizam bergeser mendekat, memperlihatkan gambar ilustrasi dari rombongan tersebut dari buku.
Aku menatap saksama, rombongan tersebut mengenakan jubah merah dengan keliran rumit berwarna kuning keemasan. Hmm... aku kurang tahu, namun gambar ini seperti...
“Lizam. Gambar ini nampaknya kok seperti anu ya? Pemimpin yang berpidato sambil mengangkat tangannya. Lalu yang mendengarnya juga mengangkat tangan setinggi-tingginya. Mereka seolah berkata–”
__ADS_1
“Aku pun mengiranya juga begitu, awalnya.” Lizam mengembuskan napas.
Lizam balik badan. Menyenderkan bahunya ke sisi-sisi meja. “Persis seperti insiden ‘Perburuan Penyihir’ bukan? Yang membedakannya hanya warna dari jubahnya, akan tetapi keliran dari jubahnya tetap sama. Berbentuk naga kuning keemasan, dari bawah lengan jubah, hingga bahu jubah. Lalu, ditambah dengan sedikit motif awan yang juga berwarna kuning keemasan di depan dan belakang jubah mereka.”
Lizam balik badan lagi, merogoh saku bajunya, memperlihatkan foto kecil. “Kau lihat, Adrian. Jika kedua foto ini disandingkan, maka–”
“Terlihat sama.” Aku mengambil foto itu dari tangan Lizam, menaruhnya disamping foto jubah pemimpinnya. Lizam mengangguk. Mengambil kembali foto itu, lalu menyimpannya di dalam saku.
“Insiden sebelas tahun yang lalu, aku masih ingat dengan jelas kejadian itu.” Lizam tersenyum getir.
“Perburuan Penyihir, itu hanya omong kosong. Kami, para bangsawan diwajibkan untuk menonton hasil tangkapan dari yang katanya usaha menangkap para penyihir. Mereka menganggap para penyihir adalah sumber masalah, sumber kelaparan, sumber penyakit dan lain sebagainya.” Lizam menghela napas panjang, diam. Seperti termenung.
***
Sebelas tahun yang lalu.
Terbetik sebuah kabar bahwa para pendeta berhasil menemukan sumber masalah dari adanya bencana kelaparan, kekeringan, dan kematian tanpa sebab yang jelas.
Lizam terlihat antusias sekali membaca surat kabar tersebut dengan judul yang terletak besar sekali di tengah surat kabar itu, yang bertuliskan “Perburuan Penyihir Berhasil!” Kemudian dia membaca tulisan di bawah judulnya yang bertuliskan, “Bencana kekeringan, kelaparan, dan kematian sebentar lagi akan segera hilang. Siapa biang keladi dibalik bencana yang tiada henti ini?”
Lizam terus membaca surat kabar itu. Setiap baris yang dia baca, berubah pula ekspresinya. Hingga halaman terakhir. Dia bergumam, “Hei, bukankah kekuatan dan sihir itu hanya sebelas dua belas? Dan yang lebih parahnya lagi, targetnya adalah penduduk yang tidak ingin menikah, tidak punya anak. Bahkan jika anak mereka ketahuan tidak punya kekuatan, pun dibakar hidup-hidup? Bukankah ini seperti...”
BRAK! Pintu kamar Lizam terbuka. Engsel pintu kamarnya bahkan rusak. Lizam berseru terkejut. Ayah dan para penjaganya!
Ayah mendekat, wajahnya merah padam. “Lizam! Sudah berapa kali Ayah bilang? Jangan kau sentuh koran itu! Itu tidak cocok untuk anak-anak seperti kau!”
Dia mengambil salah satu koleksi buku dongengku di rak buku, melemparnya ke mejaku. “Kau lebih baik baca cerita dongeng itu saja, kau mengerti?” Ayah mengambil surat kabar itu dari genggaman tanganku. Balik kanan.
“Ayah!” Aku berseru, suaraku tercekat.
__ADS_1
Ayah memalingkan wajahnya. “Ada apa lagi, hah?”
“Di surat kabar itu tertulis bahwa yang mereka tangkap itu bukannya hanya warga biasa–”
“Anak kecil, jangan ikut urusan orangtua! Ayo, bergegas. Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Ayah berjalan cepat, memperbaiki posisi gelang peraknya.
“Tapi kan Ayah sendiri yang menyuruhku untuk berpikir kritis? Kenapa sekarang malah tidak boleh ikut campur–”
“KAU TIDAK AKAN PAHAM, LIZAM! AYAH KATAKAN SEKALI LAGI. INI URUSAN ORANGTUA! KAU YANG MASIH KECIL TIDAK AKAN PAHAM ISI DARI SURAT KABAR INI! YANG KAU PAHAM HANYALAH ‘PERBURUAN PENYIHIR ITU SEHARUSNYA TIDAK ADA’. BUKANKAH BEGITU, LIZAM?” Ayah menghardikku. Para pengawal itu menelan ludah. Ayah sedikit mengangkat kepala, menyuruh mereka segera menyiapkan delman.
“Ayah jahat!” Aku berteriak parau.
Ayah menoleh, mengernyitkan alis. “Jahat?”
Aku mengangguk dengan air mataku yang bertumpahan, “Iya! Menyuruhku membaca buku tebal yang tidak ada gunanya itu! Lalu setelah aku membaca banyak buku tidak berguna itu dan sedikit saja berpikir kritis, Ayah malah bilang aku hanya anak kecil. Dan bilang, aku tidak tahu apa-apa!”
Ayah terkekeh, “Tuh, itu buktinya kau masih kecil, Lizam. Jangan menyangkalnya. Kau memang lebih pintar dari kawan sepantaran kau. Bahkan mengalahkanku waktu berumur lima tahun, kau jauh lebih pintar. Tapi anak kecil, tetaplah anak kecil. Mereka hanya tahu apa yang dibaca dan dibertahu orang-orang disekelilingnya. Bahkan kau mengira orang yang terkekang di penjara itu sebagai orang yang jahat bukan?”
Iya, Lizam mengakui bahwa dia masih kecil. Anak kecil memang selalu membutuhkan kasih sayang. Entah dia pintar ataupun tidak. Akan tetapi, urusan ini berbeda. Ini bukan tentang anak kecil dan dewasa. Itulah isi benak Lizam yang menggeram melihat ayahnya pergi, hilang di kelokan.
Setelah wujud ayahnya hilang dari hadapannya, Lizam terduduk. Menangis sekuat tenaga. Salah satu pelayan yang kebetulan berjalan kearah kamar Lizam, mendengar tangisan Lizam. Sang anak dari Majikannya tersebut.
Dia bergegas berlari menuju sumber suara tersebut, dan mendapati Lizam sedang duduk menangis. Pelayan itu melihat pintu yang ambruk, dan buku dongeng yang sedikit lecet. Dia tahu bahwa ini perbuatan dari majikannya.
“Kamu tidak apa-apa, Tuan Muda?” Dia memeluk erat tubuh Lizam yang tengah menangis.
Lizam mendekap erat-erat, “Ayah jahat Bi. Dia selalu marah-marah, menyuruhku membaca ini, membaca itu. Harus berpikir kritis lah, harus itulah.” Lizam memeluk pelayan itu erat sekali.
Ayah dan Ibunya sibuk karena banyak pekerjaan yang harus mereka handle, dan Lizam sendirian dengan hanya ditemani beberapa pelayan dirumahnya.
__ADS_1
Hari acara eksekusi “Perburuan Penyihir” telah tiba. Lizam, ayah, beserta ibunya pergi menyaksikan eksekusi tersebut. Juga dengan rakyat-rakyat kecil yang berdatangan, ingin melihat siapa biang keladi dibalik keringnya tanah mereka.
Para “Penyihir” Yang mereka klaim sendiri itu, mereka ikat di tiang. Penuh sesak, bahkan beberapa dari mereka ada yang telah tidak bernyawa, karena tidak bisa bernapas. Dan pada saat itu, Lizam terkejut melihat seseorang yang sangat dia sayangi, terikat tidak berdaya. Menatap sekelilingnya dengan tersenyum getir.