
Tok! Tok! Tok! “Halo, apa asa orang di sana?” Suara ketukan pintu menjadi semakin nyaring.
Aduh... bagaimana ini...
Tanpa sadar, pelipisku mengucurkan air keringat. Meski sedikit. Aku menyapu pandangan, melihat. Apa yang bisa dipakai agar tidak ketahuan.
Dua kali, tiga kali aku mengitari kamar dengan cepat. Berharap ada sesuatu yang bisa... apa saja pokoknya.
Tok! Tok! Tok! “Jangan bersembunyi, bukalah pintunya. Kami hanya bertanya sesuatu.”
Dua detik, lima detik, sepuluh detik, suara ketukan pintu terdengar kembali. “Halo, apa ada orang di rumah? Kami hanya sebentar kok.”
Aku menyeka keringat di pelipis yang sebesar biji jagung. Duh... di mana ya...
Ah! Aku baru ingat. Aku belum membuka lemari di samping dipan. Aku melangkah cepat, menuju lemari tersebut dan membukanya. “Nah, ini dia. Tapi, kenapa dia menyimpan barang yang seperti ini ya?” Ah sudahlah! Yang penting pakai dulu.
Tok! Tok! Tok! Suaranya kini terdengar menakutkan. Aku cekatan memakai wig, baju yang besarnya seperti jubah, topi kerucut, janggut palsu, dan sebuah tongkat kayu yang ujungnya seperti meliuk.
Tok! Tok! Tok! Suara itu kembali terdengar. Zap! Aku cekatan balik badan, membuka pintu kamar. Lantas berlari kecil menuju pintu utama, membukanya.
Kriett... Aku membuka pintu, menyipitkan mata dan sedikit membungkukkan badan, kemudian tersenyum ramah. “Ya? Ada apa? Maaf menunggu lama. Sepertinya aku sudah terlalu tua hanya untuk sekedar membukakan pintu. Ayo masuk dulu.” Basa-basi mempersilakan masuk.
Salah satu dari ketiga orang yang mengenakan zirah besi menggeleng, tersenyum. “Tidak. Maaf kami telah lancang mengetuk pintunya terlalu kencang, Kek.” Orang itu kembali tersenyum, sedikit membungkukkan badan.
Aku mengangkat salah satu tangan setengah dada. Tersenyum lembut. “Ah, tidak apa-apa. Maklum, tidak ada orang yang tahu bahwa yang tinggal di sini hanya tersisa seorang kakek-kakek.” Aku tertawa renyah. Wah... sepertinya aku berbakat akting.
Orang di sampingnya berdeham, “Kami tidak lama Kek. Kami hanya mau bertanya, apakah Kakek melihat anak muda dengan tinggi begini (sedadanya), dengan rambut sedikit acak-acakan, dengan baju dan celana yang sedikit robek. Pernah melihat, Kek?”
Aku mengelus janggut, “Oh, aku melihatnya tadi pagi.”
“Di mana Kek?” Salah satu dari mereka antusias bertanya.
“Hmm... aku tidak tahu, apakah kalian mencari anak muda yang bagaimana. Tapi tadi pagi, ketika aku keluar berniat jalan-jalan. Aku melihat anak kecil. Mungkin dia remaja. Tapi cirinya seperti yang kamu sebutkan.” Aku tertawa renyah. Namun mereka tidak bergeming.
__ADS_1
“Remaja berusia sekitar tiga belas tahun, atau lima belas ya? Mungkin sekitar begitu. Dengan baju yang beberapa bagiannya yang robek. Aku merasa kasihan melihat anak semuda itu terkapar pingsan di tanah.” Aku mengelus-elus dada. Mencoba menghayati peran.
“Jadi, aku segera kembali ke rumah, menyeduh susu hangat untuknya. Tapi...”
“Tapi apa Kek?” Salah satu dari mereka menyeka pelipisnya. Entah karena apa.
“Tapi setelah aku kembali dengan membawa segelas susu hangat, anak muda itu hilang.” Aku melangkah, mereka mengikuti. “Aku tidak tahu ini akan berguna atau tidak untuk kalian bertiga. Tapi masih ada bekas jejak anak muda itu terkapar.”
Kami sampai. Tidak sulit berjalan pelan untuk sampai ke samping halaman. Aku menunjuk bekas jejak itu, “Hanya itu yang bisa kubantu.”
Ketiga prajurit yang mengenakan baju zirah menatap bekas jejak itu, saling tatap, kemudian mengangguk. “Baiklah Kek. Terimakasih sudah memberi informasinya.” Prajurit yang di tengah merogoh sesuatu. Memberikan bungkusan dengan isi beberapa permen dan sepotong kue coklat. “Ini untuk Kakek. Maaf kami mengganggu waktunya.”
Aku tersenyum lembut, mengangguk. “Iya, terimakasih juga,” Aku mengambil bungkusan tersebut. “Kebetulan sekali, cucuku sedang menuju ke pusat kota Kerajaan Don-Pa. Pasti dia senang dengan hadiah ini.”
“Kalau begitu, kami pamit dulu.” Ketiga prajurit itu kembali membungkuk, lantas pergi.
***
Di kamar yang sama.
Aku menggaruk kepala, “Maaf, habisnya tadi aku panik. Ada tiga prajurit berzirah mengetok pintu.”
“Hei! Apa susahnya tinggal dibuka. Tidak harus memakai kostumku segala.” Archie balik badan, melangkah dan memasukkan kostum tersebut ke dalam lemari.
Aku berjalan, duduk di atas kasur. “Masalahnya adalah mereka mencariku.”
Archie memelotot, “Mencarimu? Hei! Jangan mengada-ada. Memangnya untuk apa mereka mencarimu? Kurang kerjaan sekali mereka.”
“Kau tunggu di sini ya. Aku akan membuatkan teh hangat dulu.” Archie tersenyum lembut, balik kanan. Melangkah menuju pintu dan keluar.
Lima menit. Kuhabiskan sendirian di kamar 3x3 meter di atas kasur. Melamun memandangi kayu yang telah dibakar di tungku. Meskipun ini siang, tapi tidak perlu juga menyalakan perapian. Aneh.
Drrt... pintu terbuka. Archie tersenyum membawa dua buah teh hangat dan satu gelas air putih di atas nampan. “Minum dulu, Lan.” Archie mengambil nampan sebelumnya dan meletakkan nampan yang baru. “Tunggu ya, aku taruh dulu ke dapur.” Aku mengangguk.
__ADS_1
Archie entah sudah berapa kali, dan berapa kali kalian bosan mendengar ini. Dia balik badan, melangkah menuju pintu dan keluar. Dan beberapa saat kemudian dia muncul kembali ke kamar ini sembari membawa kursi. Meletakkannya, duduk di samping ranjang.
“Jadi, apa alasan ketiga prajurit itu sampai datang ke sini? Lebih tepatnya ke desa ini?” Archie meraih gelas teh hangat, menyeruput.
Pun sama denganku. Mengambil teh hangat, lantas menyeruputnya. “Seperti yang kubilang, mereka ke sini mencariku.”
“Bagaimana kah tahu, jika mereka sedang mengincarmu? Toh dari penampilan, kau hanya remaja biasa. Tidak ada spesialnya bukan? Dan juga kau tidak memiliki kekuatan.”
Aku mengernyitkan alis, “Bagaimana kau tahu aku tidak memiliki kekuatan? Sebelumnya aku tidak pernah berkata seperti itu.”
Archie melambaikan tangan, “Aku tahu. Karena aku bisa mengetahui apakah seseorang memiliki kekuatan, atau tidak. Mudah saja.”
Aku sedikit tersedak, “Memangnya ada kekuatan yang seperti itu?”
Archie tidak menjawab. Hanya melambaikan tangan. “Oh iya. Mulai besok dan seterusnya, kau harus menemaniku bekerja.”
“Bekerja? Bekerja di pusat kota?” Teh yang kuminum habis. Kuletakkan gelasnya ke atas nampan. Archie mengangguk. “Iya. Karena menumpang hidup di rumah orang itu tidak gratis. Masih mending kau terkapar di desa. Jika di pertengahan kota, mungkin seorang Alan si tukang bohong akan dieksekusi.” Aku menelan ludah. Archie tertawa renyah, sekali lagi melambaikan tangan.
***
Besoknya.
“Eee... kau serius? Ini pekerjaanmu?” Mulutku menganga.
Archie menurunkan alisnya, “Kau tidak suka?”
“Tapi kan ini kuno. Mana ada zaman sekarang orang percaya pada ramalan di tengah siang bolong.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Sepertinya kalian bisa menebaknya. Kostum yang mirip dengan penyihir : wig, janggut, jubah besar, dan sebuah tongkat yang ujungnya meliuk ke dalam.
Kring Kring! Suara lonceng di depan pintu berbunyi, tanda seseorang memasuki tempat ini. Tempat yang penuh dengan barang-barang dan bintang-bintang di atas langit. Juga tidak lupa dengan bola kristal berwarna ungu mengilap.
“Masuk.” Suara Archie terdengar ramah.
__ADS_1
Klien itu menyingkap gorden yang dijadikan sebagai pengganti pintu, lantas duduk bersila. “Saya mau tahu, ramalan apa yang akan terjadi pada saat festival kembang api.”