
KRAK! KRAK! Baja yang melapisi tubuhnya merekah. Kedua patung tersebut melenguh panjang, menggetarkan ruangan ini.
Laki-laki itu membunyikan kakinya, menggeram tangan. Kesal. “Ck, merepotkan. Makhluk begini kenapa malah dijadikan penjaga di dalam bawah tanah seperti ini. Pantas saja kekuatan tempur mereka tidak seberapa.”
“Tidak seberapa apanya? Satu bulan yang lalu saja kau sempat kewalahan mengurus penjaga tembok.” Jawab Miss. E dengan nada sebal.
AARRGGHH!
Aku pernah mempelajarinya di sekolah. Minotaur. Makhluk manusia berkepala banteng. Tapi bukannya makhluk itu hanya mitologi?
Aku memalingkan wajah, “Bukannya Minotaur itu hanya makhluk mitologi ya?”
AARRGGHH!
Far menggenggam tangannya lebih erat. Hawa dingin mulai terasa. Rambut pirang Miss. E mengambang. Dia menyedekapkan tangan, tersenyum.
Wajah Laki-laki di belakang Far seram. Dia menatap tajam kedua minotaur yang melompat ke permukaan keramik. Melenguh panjang.
Mereka sudah bersiap dalam mode tempur masing-masing. Laki-laki itu memukul-mukul kedua tangannya. “Jangan membuang waktu, kita habisi makhluk itu. Atau kita yang akan menjadi santapan lezatnya.” Pandangan kami mengarah padanya, mengangguk.
***
Nasib. Kami terpecah menjadi dua kelompok. Far dengan Miss. E, menangani satu Minotaur. Minotaur satunya aku dan Laki-laki berwajah seram.
Kedua Minotaur itu melenguh nyaring, memekakkan telinga.
“Kau panggil saja aku Mr. S.” Mr. S bersiap mengambil ancang-ancang. Aku mengangguk. Juga bersiap mengambil ancang-ancang.
AARRGGHH! Minotaur mendengus, menggesek-gesekkan kaki kanannya ke depan dan belakang, tubuhnya condong ke depan. Tangannya bersiap. Bersiap menghabisi kami.
Mr. A mulai berlari ke sebelah kanan. “Mr. A! Kita berpencar! Alihkan perhatian makhluk itu.” Aku mengangguk, ikut berlari ke arah yang berlawanan.
BUM! Bola sebesar tenis aku lempar. Kaki Minotaur sedikit bergeser, bahunya sedikit tergores. Namun tidak mengeluarkan darah. AARRGGHH! Minotaur itu mendengus, menoleh menatap tajam ke arahku.
WUS! WUS! WUS! Angin bertiup dari arah berlawanan. Angin berbentuk runcing mengenai dan menembus bahu dan pergelangan tangan Minotaur. Darah mengucur deras dan bersimbah di lantai. Minotaur mengaung panjang.
AARRGGHH! Minotaur mengibaskan kapaknya. “Menunduk!” Seru Mr. S.
__ADS_1
Dalam sepersekian detik aku melihat, waktu seperti di perlambat. Kapak besi, tajam dan tidak ada karatan sama sekali tengah menyapu sekitar. Kapak tersebut persis hendak menghantamku. Jaraknya hanya sejengkal tangan.
Aku berteriak dalam hati. Cepat Adrian! Cepat merunduk! Kapak besi itu sebentar lagi akan mengenai dan memotong lehermu! Aku berusaha untuk menunduk, tapi sulit sekali. Ayo Adrian! Cepat! Jangan mati dulu! Natan, adikmu. Kau masih belum tahu dia ada DI MANA!
PRANG! Kapak besi tersebut mengenai salah satu pilar di dekatnya. Fiuh, aku berhasil menunduk. Hanya beberapa helai rambutku saja yang terpotong karenanya.
“Refleks kau lambat sekali Adrian.” Miss. S berseru di seberang.
***
Di sisi lain. Lebih tepatnya di ruangan lain. Far dan Miss. E tengah berjuang mati-matian menghadapi satu Minotaur di sana.
“Miss. E, kekuatan milikmu itu sebenarnya apa?” Far berseru mengalahkan suara lenguhan Minotaur, telapak tangan kanannya mengeluarkan hawa dingin, segera membentuk limas segitiga.
Miss. E tertawa berlari cepat, mengecoh Minotaur. AARRGGHH!
“Hei, jangan marah begitu dong, hehe.” Miss. E menghilang, lalu muncul di pundak Minotaur. Menghilang lagi, lalu muncul kembali di depan dada Minotaur dan menusukkan dua jarinya. Dada Minotaur sedikit memiliki bekas bolong kecil, karena tangan mungil dari Miss. E yang menusuknya.
Suara raungan Minotaur dan tawa dari Miss. E bercampur aduk, suaranya saling bertabrakan.
Far mengembuskan napas. Kedua telapak tangannya muncul kesiur angin dingin. Hawa di sekitarnya ikut terpengaruh. “Hei kenapa di sini mendadak dingin?” Miss. E berlari mondar-mandir mengelilingi tubuh Minotaur.
“Menjauh dari sana Miss. E!” Far berteriak berusaha mengalahkan tabrakan suara dari Miss. E dan Minotaur tersebut. Tubuh Miss. E berlari secepat kilat yang hanya terlihat seperti garis-garis berwarna kuning, dalam beberapa detik menjauh dari tubuh Minotaur.
Wajah Minotaur memerah, meraung marah. ZRAK! ZRAK! Keempat tombak es menghunjam, menusuk dan menembus dada Minotaur.
AARRGGHH!
Minotaur seketika berlutut memegangi dadanya, berusaha menghentikan pendarahan meskipun hal itu sia-sia. “Ma.. nu.. si.. a.. jangan.. coba.. coba.. meng.. ambil.. kotak.. i.. tu..” Kapak di tangannya jatuh ke lantai, membuat lantai di ruangan tersebut retak, memakai tangannya tersebut untuk menutupi darah segar yang keluar dari mulutnya.
Far mengembuskan napas, kesiur angin dan tombak es tersebut menguap. “Kau tidak bisa memerintah orang tak bisa kau kalahkan. Bahkan spesies kalian saja hampir punah.” Miss. E berlari, mengambil sesuatu di leher Minotaur.
Far mengangkat tangannya, hawa dingin segera menusuk tulang-belulang. SROOM! Sekujur tubuh Minotaur seketika langsung membeku. Miss. E berdiri di sampingnya, menyengir lebar. Memberikan kalung dengan permata zamrud kepada Far.
“Sebenarnya seberapa kuat kau, Miss. F? Atau kau boleh kusebut Mr. F?”
“Mr. F?” Far mengernyit, mengambil kalung tersebut.
__ADS_1
“Iya. Setidaknya itu yang Mr. A katakan tentangmu. Mr. F.”
***
Kembali ke sisi sebelumnya. Aku dan Mr. S masih kewalahan menghadapi Minotaur yang satu ini. Peluh keringat mengucur deras di dahiku, segera merambat ke leher dan bajuku.
BUM! Bola kecil meledak. Minotaur itu tidak bergeming sedikitpun.
“Dari mana dia mendapatkan baju zirah itu?” Napas Mr. S menderu, tangannya mengeluarkan angin berbentuk tombak runcing.
PRANG! Serangan Mr. S hanya sia-sia. Tombak runcing yang terbuat dari angin tidak cukup hanya untuk menggores sedikit baju zirah besi Minotaur itu.
AARRGGHH! Minotaur meraung keras. Segera mengentakkan salah satu kakinya ke keramik lantai. Suara besi-besi di sekitarnya bergema, lampu-lampu gantung yang tersusun rapi di atas bergoyang tidak karuan, seakan hampir jatuh ke lantai dan siap menghunjam kami dengan itu.
AARRGGHH!
PRANG! PRANG! Baju zirah, helm, pedang, busur, dan peralatan tempur yang menyangkut di lampu gantung mulai berjatuhan satu persatu.
“Mr. A! Di atasmu!”
PRANG!
Pedang panjang jatuh, tertancap di atas keramik.
AARRGGHH!
Kami berdua tersungkur di lantai. Kabar baiknya, kami baik-baik saja.
“MANUSIA SERAKAH!” Minotaur itu berteriak nyaring.
Aku duduk, celingak-celinguk. Mencari tahu siapa yang bertbicara barusan. Plak! Mr. S menamparku. “Yang berbicara itu si Makhluk besar itu.” Matanya sinis menatap Minotaur tersebut.
Mr. S beranjak berdiri, memasang kuda-kuda. Bersiap. Juga aku, berdiri menepuk-nepuk debu di baju dan celanaku, lantas bersiap mengambil ancang-ancang.
“Gunakan bola yang mengeluarkan hawa yang sangat panas itu, Mr. A.” Far berseru dari kejauhan. Berjalan sembari menepuk-nepuk bahunya yang menempel kepulan debu.
Miss. E tertawa terbahak-bahak, berlari. Dalam sepersekian detik, dia telah berdiri di depan kami dengan rambut panjang berwarna pirang yang mengambang.
__ADS_1
AARRGGHH! Minotaur mendengus, hawa panas dari dengusannya sampai memengaruhi suhu ruangan di sekitar. “MAU KALIAN ADA SEPULUH ORANG SEKALIPUN, TETAP TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU!”
Pertarungan 1 vs 4 pun, dimulai.