
“Apakah kalian sudah menyerah? Dengan cerobohnya membawa hawa dingin ke badai pasir ini. Oh iya, ini kan bukan badai pasir lagi. Karena kalian yang ceroboh mempercepat kematian, aku akan melakukan yang sudah seharusnya.” Frenin kembali menyusut, melakukan manuver gerakan lincah.
SRET! SRET! Cakarnya kembali beradu, dengan kombinasi tombak kecil dibelakangnya. Splash! Frenin bergerak sangat lincah. Splash! Muncul ke depanku, SRET! DUM! Terkena tombak biru dingin yang terbuat dari angin, aku terlempar hingga hampir menyentuh pinggir dari badai dingin tersebut.
Splash! Frenin bergerak pindah ke Either, “Satu tombak untuk kau, manusia mesum!” DUM! Either terdorong beberapa meter, terkena dia tombak sekaligus. Melubangi kedua bahunya.
Bagaimana ini? Frenin kuat sekali. Jika aku mengeluarkan bola kecil yang sama persis seperti Either, percuma saja.
“Adrian!” Tama berseru di kupingku. Aku menoleh, baru sadar jika Tama berada dekat sekali denganku.
“Iya? Ada apa, Tama?” Aku berteriak, meminjamkan kupingku.
Tama menggaruk kepalanya, tersenyum. “Aku sebenarnya bisa menghilangkan badai ini. Tapi aku butuh banyak energi untuk itu.”
“Kenapa tidak dari tadi?!”
“Karena aku butuh banyak sekali energi. Dan setelah itu, aku tidak bisa menggunakannya lagi untuk sementara waktu. Emm... mungkin butuh satu-dua hari, dan tubuhku juga akan menjadi–”
“Jangan berterus-terang sekarang. Langsung saja lakukan!” Aku merangkul bahunya, berjalan perlahan menuju Lizt. SRET! SRET! DUM! DUM! Frenin mencakar dan melemparkan tombak anginnya ke sembarangan arah. Padahal kami hanya perlu berjalan lima puluh meter menuju Lizt yang terlihat bersusah payah mempertahankan kubahnya bersama Vine dan Far.
Fokus Vine teralihkan ketika melihatku dan Tama sempoyongan berjalan, dengan penuh luka-luka. Vine mencolek bahu Far, menunjuk kepada kami berdua.
Tinggal dia puluh meter lagi. Vine, dan Far mengangguk di dalam kubah itu. Diam-diam membuat salah satu sisi kubah tersebut melebar, mendekati kami.
__ADS_1
“Fokus! Jangan buang energi kalian hanya untuk memperluas area kubahnya!” Fokus Lizt berkurang, menoleh kearah Far yang menyeka deras keringat di dahinya.
Tersisa sepuluh meter. Lima meter. Tama berusaha menyentuh kubah yang melebar tersebut. Dua, satu meter. Frenin menoleh, meloncat hendak menerkam kami. BUM! Aku melepaskan tiga selaput tipis berbentuk kubah.
Sebenarnya mudah saja bagi Frenin mengoyak selaput tersebut. Sebelum-sebelumnya aku telah mencoba berbagai cara, termasuk melindungi diriku dan Either dengan selaput tipis berbentuk kubah. Namun sia-sia. SRET! Hanya dalam sekali cakar, selaput itu koyak layaknya jeli.
Kembali ke masa sekarang. Hop! Dapat! Far menyambut uluran tangan Tama, menarik tangannya masuk ke dalam kubah. Dan kubah yang sebelumnya lebar, menjadi bulat seperti sebelumnya.
“Kenapa kalian malah membantu mereka berdua?!” Suaranya meninggi, tetap fokus melihat gerakan dari Frenin. Meskipun gerakannya hampir tidak terlihat.
Entahlah, aku memang tidak melihat Frenin. Namun sepertinya dia sedang menyeringai puas. “Hahaha! Kubah?! Tiga buah kubah? Jangan bercanda! Itu hanya sia-sia belaka. Kau juga tahu kan? Anggota yang terpintar dari semua anggota, Lizt!” Suara tawa Frenin terdengar jelas, seperti memekakkan telinga.
Lizt menelan ludah. Menoleh ke belakang. “Tama, Adrian! Ada apa kalian ke sini?” Lizt berseru, berusaha mengalahkan suara Frenin.
Lizt menggeram. Kubahnya sedikit demi sedikit robek. Walaupun mereka bertiga berusaha melapisi kubah tersebut, tetap nihil. Kekuatan Frenin jauh lebih besar dan kuat. “Aku juga tahu itu. Lalu, apa spesialnya jika kau hanya bisa menyerap kekuatan dan sihir musuh? Dan setahuku dua tahun terakhir, kau hanya bisa menyerap satu bola Damo saja kan.”
“Iya. Tapi jika kau menyalurkan energi di tubuhku, efeknya bisa bahkan sampai bisa menghilangkan badai ini.”
“Lihat!” Far menunjuk ke depan. Itu Either!
Either berdiri tegak sambil merentangkan kedua tangannya. Tubuhnya luka-luka hebat. Darahnya mengalir deras ke bawah hingga membuat refleksi bayangan dari genangan darahnya. “Sini kau, serigala kecil!”
Tawa Frenin terhenti, seketika muncul dan berdiri di atas batu besar, menatap tajam Either. “Apa kau nekat karena Vine?”
__ADS_1
“Hah! Tidak ada. Yang ada dibenakku sekarang hanyalah bagaimana cara untuk menghabisimu!” WUUSSHH! Kesiur angin menderu, angin di tangan Either, warnanya berubah menjadi biru kehijauan.
Frenin mendengus, menggerakkan kaki kanan depannya. Angin dingin berbentuk tombak siap menghunjam Either yang tidak melakukan teknik bertahan. Dalam kata lain, pertahanannya sedang terbuka.
DUM! Tombak angin dingin menghunjam deras “Either!” Lizt menggerakkan gigi, memukul pelan kubah.
DUM! DUM! DUM! Aku menatap saksama, tombak anginnya terlihat seperti terserap dan menghilang. Satu, dua, hingga semua tombak angin yang menghunjam hilang.
Dan hanya terlihat pusaran angin berwarna hijau kebiruan dengan bentuk kubah kecil. Lizt melepaskan kubah, menatap tidak percaya dengan uang di lihatnya. Frenin berjalan mendekat, mengerutkan alis. “Itu bukannya–”
DUM! Frenin terbanting beberapa meter, namun berhasil mendarat sempurna. Menggerung, terlihat waspada.
Kubah angin hijau itu seperti menguap, lenyap. Either menggeram, menatap tajam. Kedua tangannya memunculkan kesiur angin hijau kebiruan. Kesiur angin hijau kebiruan tersebut seperti menyerap badai dingin, seakan mengalir ke kedua tangannya.
“Sekarang sudah selesai, serigala kecil.” Either mengangkat, kemudian menangkupkan kedua tangannya, membuat deru angin semakin kencang.
Either melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Menunduk hingga salah satu lututnya menyentuh tanah, kemudian angin hijau kebiruan tersebut menjadi badai besar. Memerangkap Frenin.
Lizt berseru, “Kubah! Buat dan perkuat kubahnya lagi–”
Either menyela tangan Lizt, “Tidak perlu. Badainya hanya berdampak di dalamnya saja.” Frenin berteriak ketakutan, dia terputar-putar di dalam badai hijau kebiruan. Sementara badai dingin yang bagai jarum yang menusuk, seketika lenyap.
“Yes!” Aku mengepalkan tangan.
__ADS_1
Either tersenyum tipis, mengatupkan tangan. “Selamat tinggal, serigala kecil.”