
Besoknya. Pagi-pagi buta sekali, Archie grasak-grusuk. Mencari ini mencari itu. Memotong ini memotong itu. Menulis ini menulis itu.
Aku beranjak dari lesehan yang beralaskan kasur tipis, menuju ruang tengah. “Ada apa sih, Archie? Masih jam empat pagi kok sudah ribut sekali? Biasanya juga kau yang paling keras suara mengoroknya.”
Archi menoleh, lantas kembali menulis sesuatu besar-besar di atas kardus yang telah dia potong. Entah menjadi berapa potong, aku tidak memperhatikannya.
Aku kembali ke kamar, menutup pintu. Lantas melompat ke kasur yang lebih tinggi.
***
Maka, awal-awal sekali setelah siangnya Archie menjadi peramal yang masih memakai bola kristal retaknya tersebut, kami langsung pergi ke rumah, menyiapkan bahan dagang untuk dijual, lantas kami kembali lagi ke pusat kota untuk menjual bahan makanan tersebut.
Archie memperbaiki sedikit demi sedikit gerainya yang lusuh tersebut, memasang kardus yang bertuliskan promo “gila-gilaan” dari Archie. Harga bumbu-bumbu yang sebelumnya 100 peso per 100 gram, menjadi 24 peso per 100 gram. Promo tersebut terpampang besar-besar. Saking besarnya, promo bahan makanan yang lain, atau seperti buah, kalah besarnya dibandingkan promo bumbu masakan ini.
Hari pertama, kedua, ketiga. Sambil memperbaiki gerainya yang bisa dibilang tidak layak. Hanya ada beberapa pelanggan yang datang ke gerai kami. Archie sibuk memperbaiki gerainya, sedangkan aku sibuk melayani pelanggan yang ingin membeli dagangan kami. Ya... meskipun bisa dibilang sedikit, tapi lumayanlah jika dibandingkan beberapa hari lalu.
“Archie, apa kau mau aku bantu?” Aku mendongak, melirik Archie yang menyeka keringat di langit ruangan.
Archie melambaikan tangan, “Tidak perlu. Aku bisa mengerjakannya sendiri kok. Kamu urus saja bagian pelayanan.”
Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Fokus pada bagianku sendiri. Karena di hari kelima, pembeli, khususnya ibu-ibu mulai berbondong-bondong mendatangi gerai kami. Entah itu mereka hanya melihat-lihat saja, atau memang mau membeli dagangan kami.
Salah satu ibu-ibu mengangkat bawang merah dan meletakkannya di tangannya, “Wah, bawang merahnya besar sekali ya.”
“Iya besar sekali. Dan yang paling penting, terlihat segar.” Ibu-ibu lain menimpali.
Aku tersenyum ramah, mengambil salah satu bawang merah di raknya. “Tepat sekali. Bawang merah ini memang besar bu. Dan seperti kata ibu yang di sebelah, bawang merah ini dipetik langsung dari kebunnya. Makanya terlihat segar. Bukan hanya bawang merah lho bu, tapi juga bumbu-bumbu, dan buah-buah yang lain.”
Aku menunjukkan beberapa dagangan yang lain, sembari membolak-balikan barang tersebut serta menjelaskannya kepada mereka seramah dan sesingkat mungkin.
Maka, satu minggu setelahnya, gerai milik Archie sudah mirip seperti toko buah dan sayur kecil. Pembeli berbondong-bondong memasuki gerai kami. Tergiur dan berbisik-bisik kepada yang lain tentang harga diskon barang yang kami jual. Tidak lupa, aku dan Archie menyelipkan kertas di atasnya tentang kualitas, dan digunakan untuk apa saja barang tersebut.
Satu minggu? Ya. Satu minggu. Aku tidak tahu kekuatan apa yang dimiliki tubuh mungil Archie, namun dia sanggup bekerja delapan belas jam tanpa istirahat sekalipun. Itu jelas mengerikan. Sekaligus menakjubkan.
__ADS_1
Bagaimana nasib gerai sebelah yang menjual barang yang sama dengan kami? Mereka terpaksa membeli barang dengan kualitas yang sama dengan kami, dan menjualnya dengan harga yang sedikit lebih mahal. Namun, itu tak mengurangi jumlah pelanggan kami.
Jika barang yang diminta sang pembeli sudah habis, mereka dengan terpaksa harus membeli di gerai sebelah dengan harga yang tentu saja sedikit lebih mahal. Tapi mau bagaimana lagi? Toh barangnya mereka perlunya hari itu juga.
Hmm... kok tidak ada hambatan ya?
Tentu saja ada. Sebelum gerai kami seramai sekarang, banyak sekali orang yang menguntit kami. Mereka memereteli gerai setengah jadi milik kami. Sehingga, Archie harus memutar otaknya agar fondasi yang dimiliki gerai ini tidak bisa hancur, atau dipereteli sekalipun.
Kadang petugas Kerajaan yang meminta uang sewa gerai, yang melihat gerai kami. Bilang harga sewanya harus dinaikkan. Archie jelas tidak keberatan. Tapi, bukankah ini... ah sudahlah, jangan dibahas.
***
Namun yang paling penting, jelas kami menghasilkan koin peso lebih banyak. Bahkan koin tersebut lebih dari cukup untuk membeli bibit terbaik dari Kerajaan sebelah.
Saat ini, aku dan Archie duduk bersebelahan di halaman belakang. Menatap bintang-bintang yang terhampar, seakan diserakkan begitu saja. Malam ini, hawanya sedikit lebih hangat daripada sebelum-sebelumnya.
“Hei, Alan.” Archie tersenyum. Duduk sambil menaruh lentera di sampingnya. Mendongak memandangi bintang yang jumlahnya tidak kami ketahui. Namun yang jelas, jumlahnya sangat banyak.
“Terimakasih.”
Alisku mengerut, meski tetap memandangi bintang di atas sana. “Terimakasih? Untuk apa?”
Kini dia tertawa kecil, melambaikan tangan, “Masa kau tidak ingat tiga minggu terakhir kita melakukan apa saja?”
Aku mengembuskan napas, “Tentu saja aku ingat. Aku tidak pikun. Seperti ramalan kau yang selalu berubah-ubah setiap kali pengunjung datang ke tempat peramal kau itu.”
Archie tidak bereaksi, malah melanjutkan perkataannya sebelumnya. “Awalnya aku menemukanmu di halaman ini. Lalu segera menggendongmu masuk ke dalam rumah kayu ini. Dan kau tahu? Untung saja sebelum ketiga prajurit Kerajaan Don-Pa diutus ke sini, aku sudah mengangkut daganganku ke pusat kota.”
Aku menyodorkan teh hijau yang kubawa sebelumnya. Archie tersenyum lembut, menyambut teh tersebut. “Archie, bukankah sudah kubilang? Mereka itu mencariku, bukan mencarimu.”
Archie menyeruput teh hijau, bereaksi seolah-olah terkejut dengan pernyataanku itu. “Eh? Bukan aku? Lalu siapa? Kamu? Ah mustahil.” Archie tertawa melambaikan tangan.
“Terserah kau saja.”
__ADS_1
“Hei! Hei! Jangan cemberut begitu dong. Cerita kilas baliknya jadi tidak seru nih.” Dia beberapa kali menyikutku pelan sembari tertawa.
Archie kembali menyeruput teh hijau. Mengubah topik pembicaraan. “Kau tahu, Alan? Sungguh tidak terasa, seminggu lagi kita akan menghadiri festival kembang api yang meriah setiap tahunnya. Karena kau bukan penduduk sini, akan kuberitahu. Festival kembang api itu–”
“Aku sudah tahu. Dan kalaupun aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu.” Potongku.
Archie menghela napas, “Kau itu... pantas saja kau tidak punya pasangan.”
Alisku mengernyit, “Maksudmu?”
Archie meletakkan gelas teh hijau yang dia minum ke samping. “Iya. Kau tidak punya pasangan bukan? Dan lagi... kau tahu? Kau malah tidak punya selera humor yang bagus. Jelas sekali tidak ada yang mau denganmu. Apalagi dekat-dekat. Jadi, bersyukurlah aku memungutmu–” Tepat sebelum dia meneruskan pembicaraan, aku terlebih dahulu menjambak rambutnya, menjepitkan kepalanya di ketiak, lalu menggesek ubun-ubunnya dengan tinjuku.
“Hei! Hei! Hei! Aku masih berumur enam belas tahun, kakek tua!” Aku meniru gayanya.
Dia memberontak. “Hei! Ketiak kau bau sekali. Lepaskan aku! Aku tersiksa!” Maka sebelum dia memberontak lebih kuat lagi, aku melepaskannya. Tertawa lepas melihat wajah Archie yang memerah sembari mengeluarkan ingus.
“Ini! Gajimu!” Archie memberikan kantong kecil dengan entah berapa koin peso yang dia berikan.
Aku menyambutnya, memeriksa. “Hei! Kenapa gajinya hanya 500 peso? Keuntungan usahamu naik berkali-kali lipat sejak ada aku.”
“Hei! Hei! Itu gajimu selama tiga minggu. Kalau kau bekerja selama satu bulan, beda lagi.”
“Memangnya berapa?”
“600 peso.”
“Itu sama saja! Ini penipuan!” Kami saling pandang. Lantas kami tertawa lepas. Sembari menatap bintang-bintang yang bertaburan di angkasa lepas.
Maka. Biarlah ini menjadi gaji pertama dan terakhirku. Darinya.
***
Satu minggu terlewat tanpa terasa. Tepat pada malam hari. Festival itu dimulai.
__ADS_1