Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 39 – Harta Kerajaan Don-Pa (6)


__ADS_3

“Ayo, cepat Alan!” Archie terlebih dahulu mendorong tubuhku ke depan.


Orang lain di depanku menyerahkan beberapa peso. Dia mengulurkan tangannya, lantas ketika gerbang terbuka, dia masuk. Lalu tertutup lagi. Aku berjalan perlahan ke depan.


“Dua puluh peso.” Ucap salah satu dari mereka.


Aku memberikan dua puluh peso, penjaga itu mengambilnya. Aku mengulurkan tangan, lantas penjaga tersebut memberikan stamp berwarna merah dengan bentuk naga yang meliuk-liuk. Gerbang sedikit terbuka.


“Silakan masuk.” Salah satu penjaga berbicara datar.


Tanpa disuruh dua kali, aku mempercepat langkah, kemudian memasuki gerbang tersebut. Eh? Gerbang tadi bukan menuju ke bangunan toh? Ini masih tetap di lapangan. Aku mendongak, menatap sekitar. Oh... pantas saja terlihat seperti bangunan. Horang di tepinya di beri hiasan seakan-akan aku memasuki bangunan yang besar saja toh... Aku tersenyum berkacak pinggang.


“ALAN!” Aku terkesiap mendengar seruan barusan.


Aku melihat Archie yang sedang menyapa, melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan. Tersenyum lebar. Mataku mendelik, “Kau ini, jangan berteriak seperti itu bisa tidak?”


Archie menggaruk rambutnya, “Hehe, maaf. Tidak sengaja.”


Aku balik badan, mulai melangkahkan kaki. Berjalan. Archie berlari kecil berusaha menyelaraskan langkahku. “Kau mau ke mana, Alan?” Archie tetap berlari kecil, mendongak. Memperlihatkan mata hijaunya yang besar.


Aku sedikit menoleh ke bawah, “Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi yang penting berjalan saja deh.” Aku mempercepat langkah.


“Hei, hei. Jangan terlalu cepat dong jalannya. Aku kesusahan nih.”


Aku berhenti, menatap mata besar Archie. “Siapa suruh kau memakai rok merah muda itu, Archie?” Aku berkacak pinggang. “Dan lihat. Kau sudah seperti perempuan. Hanya perlu sedikit polesan dari riasan saja nih.” Aku tertawa kecil.


Archie melompat. Lantas, BUK! Meninjuku. Aku mengaduh kesakitan. “Rasakan! Sesekali kau cobalah untuk jangan menghakimi penampilan seseorang. Kau juga tahu kan ini penyamaran.”


Aku masih mengaduh, mengelus pipi kananku yang terkena tinju mautnya, kembali melanjutkan langkah kaki. Archie menyelaraskan langkahku sembari menyedekapkan tangannya dan pipinya yang sudah mengembung.


“Wah, lucunya...” Seorang perempuan yang duduk di kursi taman berseru gemas melihat Archie.


Orang itu mendekat, mengangkat Archie. “Wah... adikmu imut sekali...” Archie memeluk perempuan itu, yang entah datang dari planet, universe, dan dari ras apa. Yang tiba-tiba mengangkat dan menggendong seseorang tanpa persetujuan.


“Kakak, bu...”

__ADS_1


Perempuan itu menepuk-nepuk pantat Archie. Memandangiku. “Hm? Ada apa dengan kakakmu?”


“Kakak tidak mau membelikanku es krim.” Dasar Archie! Aku tidak tahu dia belajar akting dari mana, sampai bisa mengelabui perempuan– bukan. Ibu-ibu. Jiwanya sudah seperti ibu-ibu.


“Otototo... jangan khawatir. Kakak kamu pasti mau membelikan es krim kesukaanmu.” Perempuan itu menurunkan Archie dari gendongannya. Archie menapakkan kakinya ke atas tanah. Mengusap pipinya yang sedikit basah. Mungkin karena air matanya.


Perempuan itu menatapku dengan ramah, “Kenapa kamu tidak membelikan es krim untuk adikmu?” Archie berlari kecil, sok memeluk “Kakak” nya yang paling di sayang.


Aku menunduk, mencium kening Archie sambil menahan muntah. Mendongak melihat perempuan tadi. “Karena aku sudah tidak punya uang, Kak.”


Perempuan itu manggut-manggut, merogoh isi tas kecilnya. Lantas memberikan beberapa lembar uang peso. “Ini untuk kalian. Meski tidak banyak, tapi untuk kalian berdua pasti ini jumlah yang besar kan.” Archie menyeka air matanya, tersenyum. Melompat-lompat mengulurkan tangannya.


Perempuan itu tertawa kecil melihat kelakuan Archie. Lantas memberikan uangnya kepada Archie, orang yang paling handal menipu orang lain yang kukenal.


“Yey! Terimakasih Bu– eh, Kak.” Archie menyambut uang tersebut, menyengir lebar.


Perempuan tersenyum. Balik kanan meninggalkan kami berdua. Archie ber-yes pelan. Aku mendelik, mencengkeram pinggang. “Urusan uang saja, kau yang paling cepatnya ya.”


“Hehe... siapa sih yang tidak suka uang.” Archie melompat-lompat kegirangan.


Eh? Sudah dimulai saja? Padahal baru jam sembilan. “Archie, aku pergi jalan-jalan dulu ya. Kita berpisah di sini. Nanti jam sepuluh malam kita bertemu di tempat ini ya.” Belum sempat aku melihat wajah Archie, aku sudah terlebih dahulu mengikuti orang itu, menyibak kerumunan.


***


Aku dan seseorang yang tidak diketahui itu telah sampai di The Little Garden. Kebun kecil yang terletak di belakang Istana.


“Ini sudah pukul delapan, ke mana saja kau? Untung kami di sini tidak ketahuan.” Far mendelik.


Dua orang lainnya menyingkap jubah mereka. Satu orang laki-laki, dan perempuan. “Ayo, kita tidak punya waktu lebih banyak lagi. Acara puncaknya akan dimulai dalam waktu tiga jam lagi.”  Laki-laki itu menyingkap tanah di taman itu yang seperti keramik.


Eh? Aku baru tahu jika ada tempat tersembunyi memakai keramik sebagai pintunya. Tanpa disuruh dua kali, Laki-laki itu melompat ke dalam lubang itu. Disusul Far, dan juga seorang Perempuan. Setelah itu baru aku.


Tuk! Kami mendarat sempurna.


“Eh? Kukira tempat ini tidak memiliki penerangan dan sempit. Ternyata luas juga ya. Meskipun cahayanya hanya menggunakan obor.” Perempuan itu mulai meregangkan otot-ototnya. Pemanasan.

__ADS_1


“Kita tidak boleh membuang waktu. Cepat ikuti aku.” Laki-laki itu meraba-raba dinding. Berusaha mencari tombol. Klik! Lantai yang semula rata, kini lantainya perlahan membentuk anak tangga yang menurun ke bawah.


Laki-laki itu memimpin di depan. Perempuan itu, Far, dan aku mengikuti di belakang. Obor yang berada di dinding akan menyala dengan sendirinya ketika kami melewati dinding yang berobor tersebut.


“Wah... obornya keren. Lain kali aku akan meminta Kaisar untuk membuat obor yang seperti ini.” Perempuan itu dengan santainya berbicara. Meletakkan tangan kanannya di dinding sembari berjalan menuruni anak tangga.


Tujuh menit tanpa henti kami berjalan menuruni anak tangga, Perempuan itu tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan obor. “Kau jangan membuat kebisingan. Miss. E.” Laki-laki itu mengangkat tangan kanannya. Menyuruh berhenti.


Kami telah tiba di lantai dasar. Aku mengintip perlahan, melihat ada empat orang penjaga yang mondar-mandir. Aku merogoh isi kantong kecil, mengambil satu bola sebesar bola tenis meja. Akan tetapi Far memberi kode, menyuruhku untuk tidak menggunakannya.


Laki-laki itu mengintip, Push! Push! Push! Push! Keempat penjaga itu terkapar. “Ayo cepat.” Kami berjalan perlahan menuju gerbang yang besar. Terbuat dari emas dan besi. Terlihat kokoh dan sulit ditembus.


Laki-laki itu menoleh, “Miss. E, gunakan kekuatanmu.” Miss. E menyengir, melemaskan kedua tangannya. Lantas, BUM! Gerbang itu berlubang berbentuk lingkaran. Miss. E berjalan lebih dulu. “Ayo, cepat. Supaya aku bisa tidur lebih awal malam ini.”


***


Kami memasuki ruangan. Aku terkagum-kagum.


Ruangan besar dengan besar 50x50 m². Belasan lampu-lampu gantung terpasang di atas langit-langit. Pedang-pedang, baju zirah, dan beberapa alat perang lainnya terselip di atasnya.


Miss. E berbinar-binar, “Mr. A, lihat ini.” Miss. E menunjuk salah satu dari dua patung yang berbentuk kepala banteng dengan badan manusia, sembari memegang kapak besar di kedua tangannya.


Aku mendongak, “Wah... besar juga ya.”


“Hei kalian!” Far memecahkan suasana menarik ini. “Jangan membuang-buang waktu, dan cepat ke sini.” Kami berdua mengangguk, segera menyusul Far dan Laki-laki yang telah berada di pintu yang terletak di belakang singgasana.


Far mengeluarkan kesiur dingin di tangannya, membentuk sebuah batangan. Laki-laki itu mengambil kunci tersebut, dan seperti yang aku duga. Kunci itu langsung beradaptasi dengan lubang kunci pintu tersebut. Klik! Berhasil!


Laki-laki itu mencoba membuka pintunya, tidak bisa. Hingga menggedor-gedornya pun sia-sia.


Miss. E menatap ke belakang. “Emm... teman-teman. Coba kita lihat ke belakang.” Seketika kami balik badan, melihat ke belakang. Terdengar suara sesuatu merekah dan lenguhan. Seperti suara sapi.


Aku melangkah perlahan, mengintip dari balik singgasana. Besi dari patung itu bergetar, PRANG! Besi dari kedua patung itu berjatuhan. PRANG! PRANG! Ini... mustahil!


Aku balik kanan, “Patung itu bergerak!”

__ADS_1


__ADS_2