Rebirth : A Woman With Frozen Heart [Indonesia]

Rebirth : A Woman With Frozen Heart [Indonesia]
Taruhan


__ADS_3

Bisnis dengan Red Tiger Gang selesai tanpa peristiwa besar. Yah.. satu-satunya peristiwa besar yang terjadi adalah penghancuran permata laki-laki milik Tuan Bai Zhang dan pembersihan para pria sampah tertentu...


Serius, bahkan si penulis sendiri merasa ngeri saat menulis bagian penghancuran permata laki-laki sampah itu.


Hari itu dihabiskan dengan Ming Yue pergi ke Restoran Chu Hui untuk menemui Paman Chu. Ming Yue memberi tahu bahwa hutang pria tua itu telah dihapus oleh Geng Harimau Merah dan dia juga menyatakan keinginannya untuk berinvestasi di restoran Chu Hui. Ming Yue ingin Paman Chu menjadi orang yang mengelola restoran dan mengajar para juru masak baru sebagai gantinya. Paman Chu tentu saja setuju dengan investasi itu. Alasannya tentu saja karena dia mempercayai Ming Yue dan sudah menganggap gadis itu sebagai putrinya sendiri.


Ming Yue meninggalkan Restoran Chu Hui setelah membahas rincian pembagian, karyawan, dan renovasi tempat. Dia kembali ke rumah Wu untuk melaporkannya kepada kakeknya dan pergi ke Tianshang De Kongjian bersama Bai Hu dan Qing Long untuk melihat bagaimana si kembar berlatih. Karena mendapatkan persetujuan untuk menjadi kultivator, mereka harus membangun kekuatan mereka terlebih dahulu sebelum menjalani 'The Trial of Nine Tribulation'.


Seiring berlalunya hari, Senin datang dan membawa masalah besar bagi Ming Yue. Saat dia datang ke sekolah, para siswa/i menatapnya dengan tatapan jijik. Awalnya dia bingung tapi setelah mendengar bisikan para murid di sekitarnya, Ming Yue mengerti.


"Sungguh pel*cur, dia masuk ke mobil yang tampak mahal dan seorang lelaki tua ada di dalam!"


"Apa?! Jangan bilang dia.."


"Yah, tentu saja itu yang kamu pikirkan. Dia melebarkan kakinya untuk seorang lelaki tua!"


Mendengar bisikan itu, Ming Yue tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia mengeluarkan energi internal dan jendela di sepanjang lorong tempat dia berjalan, meledak berkeping-keping satu per satu. Jeritan ketakutan dan kesakitan memenuhi lorong, beberapa siswa berjongkok sambil memegangi kepala mereka, beberapa berlari menuju ruang kelas terdekat sementara siswa yang bergosip jatuh ke tanah, mereka mendapat luka sayatan dari kaca yang meledak.


Ming Yue yang berdiri dengan punggung menghadap mereka, berbalik saat dia menunjukkan senyum kejamnya yang dingin. Lorong tempat dia berdiri berantakan tapi selangkah demi selangkah, Ming Yue bergerak menuju para murid yang tadi bergosip. Seolah-olah waktu melambat bagi para murid itu saat mereka melihat Ming Yue mengambil setiap langkah dengan kuat, menuju ke arah mereka. Yang terlihat oleh mereka adalah Iblis Es Wanita yang turun untuk melahap jiwa mereka, pemandangan itu saja sudah cukup bagi mereka untuk menahan napas ketakutan.


"Jangan bicara seolah-olah kalian tahu segalanya." Ming Yue menatap mereka dengan dingin, "Sekarang katakan padaku, siapa yang menyebarkan gosip?" Dia bertanya, melepaskan aura pembunuhnya sedikit. Jumlah sekecil itu sudah cukup untuk menakut-nakuti para murid yang bergosip sampai mereka merasa diambang pintu kematian. Mereka membuka dan menutup mulut mereka beberapa kali, mencoba berbicara tetapi tidak ada kata yang keluar.

__ADS_1


"NAMA." Ming Yue meningkatkan jumlah aura pembunuh yang dia lepaskan saat dia memelototi mereka. Mata yang digunakan Ming Yue saat ini sama seperti Chang'e ketika dia memandang rendah manusia yang berani menentangnya. Rasa dingin di dalam mata yang bagaikan batu giok hitam tersebut bisa membekukan udara dalam sekejap.


Tidak ada yang berani datang dan membantu para murid tersebut, mereka terlalu takut dengan udara berbahaya yang memancar dari tubuh Ming Yue.


"Hentikan, Ming Yue!" Suara seorang gadis berteriak, "Apakah kau tidak merasa malu mengancam orang lain hanya karena mereka tahu tentang tindakan 'tidak senonoh'mu?!"


Lorong menjadi hening, kesunyian yang menakutkan merayap mengisi tempat itu dengan ketakutan. Kepala Ming Yue menoleh sedikit, mata giok hitamnya perlahan bergerak saat menatap gadis itu dari sudut matanya. Ya, gadis itu tidak lain adalah Xiao Yin. Dialah yang melihat Ming Yue memasuki mobil Kakek Wu dan yang menyebarkan gosip tentang tindakan asusila Ming Yue dengan seorang lelaki tua.


"Jadi kau.." Tebakan Ming Yue tepat ketika dia melihat wajah Xiao Yin menjadi pucat. Seringai dingin yang dipenuhi dengan rasa jijik muncul di wajahnya. "Kau bilang aku telah melakukan sesuatu yang 'tidak senonoh'?"


"Iya, kan? Aku melihatmu memasuki mobil mahal milik seorang pria tua di malam hari!" Xiao Yin berkata keras dengan senyum arogan.


"Ya, Pak, tapi sebelum itu.." Ming Yue kembali menatap Xiao Yin, "Aku harus membuat kesepakatan dengan p*lacur yang menyebarkan rumor palsu."


"Kau..! Siapa yang kau panggil, P*lacur?!" Xiao Yin mengamuk.


"Tentu saja KAU. Sekarang, P*lacur Xiao Yin, ayo bertaruh. Jika rumor tentangku terbukti benar, maka aku mengizinkanmu melakukan apa saja padaku." Ming Yue berkata dengan senyum berani, "TAPI.." Ming Yue berhenti sejenak saat senyumnya menghilang seketika.


"Jika rumor itu salah, maka aku akan melumpuhkanmu setengah mati. Sepakat?"


"Siswi Ming Yue, itu--" Kepala Sekolah Gong ingin campur tangan tetapi Xiao Yin memotong kata-katanya dengan miliknya.

__ADS_1


"Deal! Semua orang di sini adalah saksinya!" Xiao Yin berkata dengan percaya diri, dia bertindak seolah-olah dia tahu bahwa dia benar.


"Bagus. Jangan berani-berani mundur." Ming Yue berkata saat dia pergi dengan Kepala Sekolah Gong, menuju ke kantornya. Seringai jahat muncul di wajahnya saat matanya sedikit menyipit. Kilatan berbahaya melintas di mata hitam dingin itu saat Ming Yue berkata dalam hati.


'Orang bodoh hanya mengatakan apa yang dia tahu, tapi orang bijak tahu apa yang dia katakan'


Nah.. Termasuk bagian yang manakah Xiao Yin?


-------------------------------------------------- --------------------------------------------------


Sementara itu.. Di suatu tempat di Q City..


Seorang gadis muda sedang duduk di lantai batu di atap sebuah sekolah menengah tertentu. Dia memiliki wajah yang mirip dengan Ming Yue tetapi dia tidak memiliki kecantikan yang dimiliki Ming Yue. Wajahnya halus dan bisa disebut imut, matanya hitam dan dia memiliki rambut hitam panjang yang hanya mencapai bahu tidak seperti Ming Yue yang rambutnya mencapai pinggang. Gadis itu menatap langit kelabu yang suram, matanya dipenuhi kesedihan.


"Roda nasib mulai berputar.. dan ingatan DIA dalam diriku mulai menghilang satu per satu, kembali ke pemilik aslinya." gadis itu menggumamkan kata-kata itu dengan lembut.


"Jika semua kenangan DIA telah pergi dariku, akankah aku tetap.. Aku..?" Gadis itu tersenyum pahit, "Atau aku hanya wadah untuk kenangan DIA dan bagian dari jiwanya.."


Gadis itu memejamkan mata, air mata mengalir di pipinya yang pucat.


"..Apakah aku harus mati untuk melengkapi jiwanya..?

__ADS_1


__ADS_2