REINKARNASI DEWA SEMESTA AWAN

REINKARNASI DEWA SEMESTA AWAN
Tetesan embun


__ADS_3

Kini Yang feng sudah mulai sadar, Yang feng tampak menggerak gerakkan jari tangan nya dan perlahan mulai membuka mata nya.


"syukurlah kau sudah siuman.." kata Li mei merasa sangat senang melihat Yang feng sudah sadar, sambil memegang tangan Yang feng..


"aku berada dimana..?" tanya Yang feng dengan bingung melihat kearah Li mei..


"tenanglah.. Kau sekarang berada dirumah kami. Kau tidak sadarkan diri selama tujuh hari setelah bertarung untuk membantu kakek.." kata Li mei menenangkan Yang feng..


"lalu dimana pak tua itu sekarang, apakah dia baik baik saja..?" Yang feng mengkhawatirkan keadaan pak tua itu..


"dia adalah kakek ku. Kakek baik baik saja, dia sekarang sedang berburu di hutan.." jawab Li mei, yang ternyata pak tua tersebut adalah kakek Li mei..


"kau jangan terlalu banyak bergerak dulu. kau beristirahat lah, biar aku merebus kan tanaman obat herbal yang diberikan kakek untuk mu.." kata Li mei kemudian dan beranjak..


"terima kasih.." ucap Yang feng..


Li mei tersenyum lalu pergi ke dapur untuk merebus ramuan obat herbal yang diberikan kakek nya.


Tidak lama berselang, pak tua itu pun datang dan membawa binatang buruan yang seperti biasa nya.


"mei'er.." suara pak tua itu memanggil Li mei, datang dari pintu belakang..


"kakek.." jawab Li mei, sambil membawa mangkuk ramuan herbal..


"apa dia sudah siuman..?" tanya Si Kakek menanyakan kondisi Yang feng..


"sudah kek, dia baru saja siuman.." jawab Li mei..


"hoh.. Cepatlah kau berikan ramuan herbal itu pada nya selagi hangat, biarkan aku membersihkan diri dulu.." kata si kakek kemudian..


"baiklah kek.." kata Li mei, lalu pergi mengantarkan ramuan herbal tersebut kepada Yang feng..


Setelah meminum ramuan herbal yang diberikan Li mei, Yang feng duduk melakukan kultivasi untuk memulihkan energi nya.


Yang feng menerobos ke alam kesadaran nya. dua jiwa Yang feng tampak menyala mirip bintang kecil yang melayang diatas ruang danti'an milik nya.


Seperti tetesan embun, energi Yang feng pun kini perlahan mulai menetes melalui jalur meridian mengisi ruang danti'an nya.


tiga hari melakukan kultivasi, ruang danti'an milik Yang feng kini terlihat semakin membesar.


Yang sebelum nya berwarna bening, kini ruang danti'an milik Yang feng mulai menimbulkan warna kehijauan. jiwa yang ketiga nya pun mulai menyala dan masih tampak redup.

__ADS_1


'boom..boom..


kini Yang feng sudah berada ditingkat akhir tahap pendekar ahli.


Setelah tiga hari melakukan kultivasi, pagi sekali Yang feng sudah bangun dan beranjak dari tempat tidur menuju halaman rumah.


Yang feng melakukan latihan untuk menguatkan otot, serta meningkatkan kecepatan pergerakan jurus yang ia pelajari selama ini.


"tuan muda.. apa kau sudah merasa baikan ..?" tanya Si kakek saat melihat Yang feng sudah menghentikan gerakan nya..


" oh..Kakek.." Yang feng menoleh dan menghampiri Si kakek..


"sekarang tubuhku sudah jauh lebih baik dari sebelum nya.." kata Yang feng merasa senang..


"baguslah, aku ikut senang mendengar nya.." ucap si kakek dengan tersenyum sambil menepuk pundak Yang feng..


"kek..namaku adalah Yang feng. kakek dapat memanggil namaku saja.." kata Yang feng memberitahu kan nama nya..


"hmm.. kalau begitu, bagaimana kalau aku memanggil mu dengan panggilan feng'er..?" kata si kakek..


"terima kasih kek, itu akan lebih baik.." ucap Yang feng..


"Sekarang aku akan berburu ke hutan, Kau beristirahatlah jika merasa lelah, jangan terlalu dipaksakan.." kata si kakek lalu hendak pergi..


Si kakek diam sebentar untuk memperhatikan keadaan tubuh Yang feng, setelah Si kakek merasa cukup yakin..


"baiklah jika kau ingin ikut. tapi sebelum kita pergi, biar aku memberitahu mei'er lebih dulu agar dia tidak mencari cari tahu keberadaan mu.." kata sikakek kemudian..


Saat sikakek hendak melangkah kedalam rumah, Li mei muncul didepan pintu lalu menghampiri mereka berdua.


"apa kondisimu sudah terasa lebih baik..?" tanya Li mei pada Yang feng..


"aku sudah jau lebih baik sekarang, bahkan lebih baik dari sebelum nya. terima kasih atas kebaikan nona Li mei yang sudah mau merawat ku.." ucap Yang feng tulus..


Li mei tersenyum dengan indah, menambah kesempurnaan kecantikan pada wajah yang ia miliki.


"kamilah yang seharusnya berterima kasih padamu. kau menemukan situasi seperti itu juga karena berusaha menolong kami. Jika tidak ada kau, tidak tau bagaimana jadi nya nasib kami.." kata Li mei, kemudian menundukkan kepala dengan wajah terlihat sedih..


"itu benar feng'er, kamilah yang seharusnya berterima kasih padamu.." ucap Si kakek menimpali, merasa tidak enak..


"hoh..tidak masalah. itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang yang sedang kesulitan.." kata Yang feng cepat, berusaha tertawa untuk mencairkan suasana..

__ADS_1


"ayolah kek, kita bisa pergi sekarang.." ajak Yang feng kemudian..


"mei'er, kami pergi dulu. Kau berhati hatilah dirumah.." kata kakek nya berpesan pada Li mei..


"baik kek.." jawab Li mei..


kemudian mereka pun pergi menuju hutan dengan membawa peralatan berburu mereka.


Perjalanan kehutan lumayan jauh, butuh waktu selama dua jam untuk sampai di hutan tempat biasa si kakek berburu.


"kek..siapa mereka, orang orang yang menyerang kakek waktu itu..?" tanya Yang feng, saat mereka sedang beristirahat di hutan..


Yang feng dan Si kakek sudah selama tiga jam melakukan perberburuan. sekarang mereka sudah mendapatkan tiga ekor kelinci dan dua ekor ayam hutan.


"mereka adalah orang orang suruhan wali kota.." jawab sang kakek..


"lalu mengapa mereka menyerang kakek..?" tanya Yang feng lagi..


Si Kakek pun memberitahu mulai dari awal kejadian yang telah diceritakan Li mei pada nya.


"Suatu hari, salah satu putra walikota bersama teman teman nya datang untuk makan di kedai milik paman mei'er. Putra walikota tersebut melihat kearah mei'er yang kebetulan baru mulai bekerja disana, mereka menggoda mei'er dengan berlaku tidak sopan. Melihat perlakuan mereka terhadap mei'er, paman nya pun marah lalu mengusir mereka. Beberapa hari kemudian, putra walikota tersebut datang kembali bersama orang orang suruhan ayah nya. Mereka meminta paman mei'er untuk menjodohkan mei'er pada putra walikota tersebut. karena paman mei'er menolak, Mereka akhirnya pergi dengan marah. Takut hal buruk akan terjadi pada mei'er, keesokan harinya paman mei'er pun menyuruh nya untuk kembali kesini. baru selama dua bulan mei'er berada disini, mereka datang dan memaksa untuk membawa mei'er.." kakek nya menceritakan dengan rinci..


"berarti, bukan tidak mungkin orang suruhan wali kota yang lain nya akan datang lagi kemari.." kata Yang feng memperkirakan..


"aku juga berpikir begitu. aku cuma berharap mereka tidak datang lagi.." kata Si kakek khawatir..


"kek, berapa lama perjalanan dari sini ke kota..?" tanya Yang feng, tiba tiba seperti memikirkan sesuatu..


"sekitar lima hari jika tidak menemukan kendala.." jawab sikakek..


"selama berapa hari aku tidak sadarkan diri..?" tanya Yang feng lagi..


"selama tujuh hari. ada apa feng'er.!? apakah kau memikirkan sesuatu..?" tanya Si kakek..


"kek. Berarti sudah selama sepuluh hari sampai hari ini. aku takut orang suruhan lain nya sudah datang, saat mengetahui orang suruhan yang pertama tidak kembali.." Yang feng menghitung waktunya..


"benar juga apa katamu, aku tidak pernah memikirkan itu sebelum nya.." jawab Si kakek mulai panik..


"lalu bagaimana dengan nona mei..?" kata Yang feng meminta pendapat Si kakek..


"feng'er lebih baik kita kembali sekarang, aku takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada mei'er.." Ajak Si kakek tanpa banyak berpikir lagi..

__ADS_1


Kemudian merekapun bergegas untuk kembali ke rumah. Berbeda saat berangkat ke hutan, kini Yang feng dan Si kakek berlari dengan cepat menggunakan teknik meringankan tubuh mereka..


__ADS_2