Rising Sun

Rising Sun
24


__ADS_3

"Terimakasih" Kata Pangeran tenang.


"Pa.."


Aku langsung menutup mulutku. Menyadari lirikan Pangeran yang memperingatkan.


"P_sha, Aku lapar Apa kita bisa memesan makanan juga"


"Apa kita bisa mendapatkan makanan untuk istriku ?" Tanya Pangeran sembari mengandeng tanganku. Dia menggengam tanganku erat.


"Sudah malam. Dapur sudah tutup. Tapi kalau Kau mau Aku bisa menyediakan beberapa kerat roti dan buah"


"Terimakasih"


Penjaga itu pergi sebentar. Tak berapa lama Dia kembali dengan membawa keranjang berisi roti dan buah-buahan.


"Kalian akan kemana"


"Algina. Aku ingin membawa istriku melahirkan di tempat kelahiranku, Tapi banyak sekali pemeriksaan di sepanjang jalan. Memperlambat perjalanan Kami"


"Sedang terjadi perebutan kekuasaan di istana semenjak meninggalnya Sera Madza"


"Kita memilih waktu perjalanan yang kurang tepat"


"Ada air panas untuk mandi"


"Terimakasih"


Pangeran mengambil keranjang buah. Merangkul pinggangku mesra layaknya seorang suami kepada istrinya. Kami berjalan menuju kamar yang di tunjuk. Pangeran memeriksa seluruh kamar dengan seksama untuk memastikan keamaannya. Aku berdiri di sudut dengan wajah binggung. Aku tidak tahu harus bagaimana. Selama ini Aku menghindari berduaan dengannya apalagi di dalam kamar.


"Mandilah" Kata Pangeran sembari menyerahkan handuk kepadaku. Aku menerimanya ragu.


"Bagaimana dengan Pangeran Arana dan Lekky"


"Aku akan mencari kabar Mereka selama Kau mandi"

__ADS_1


Aku menghela nafas Aku memang butuh mandi. Rasanya guyuran air dapat menenangkan syarafku yang tegang. Aku mengambil handuk yang di berikan pangeran. Berjalan menuju kamar mandi. Pangeran Riana duduk di pinggir tempat tidur dan membuka gulfnya.


Aku membasuh seluruh badanku dengan air. Mencuci rambutku dengan shampo. Setelah selesai, Aku mengeringkan diri dan memakai kain katun yang kulilitkan begitu saja di tubuhku. Aku tidak mempunyai pakaian ganti. Aku tidak mungkin mengenakan pakaianku kembali. Kami menerobos semak di hutan sepanjang perjalanan. Pakaian ini sudah kotor. Memaksa memakainya akan membuat gatal di kulit. Terpaksa Aku memakai kain yang kulilitkan sedemikian rupa di tubuhku.


"Aku sudah selesai" Kataku ketika Aku keluar kamar mandi. Aku tertegun saat mendapati Pangeran hanya bertelanjang dada. Dia duduk di kursi dekat meja. Refleks Aku memegang perutku. Dia tidak mungkin menyerangku apalagi Aku sedang hamil.


"Arana dan yang lain bersembunyi di tempat aman. Lekky menyusul mereka. Kau sudah bisa tenang sekarang ?"


"Syukurlah kalau begitu" Kataku sembari duduk di atas tempat tidur. Aku mengeringkan rambutku yang kubiarkan tergerai.


Pangeran menatapku aneh.


"Apa ?" Kataku saat menyadari pandangannya.


"Kau tampak seperti wanita jika begini"


"Tapi Aku memang wanita" Kataku binggung.


Pangeran tersenyum. Dia berdiri mendekatiku. "Aku sudah lupa kalau Kau wanita. Bagaimana kalau Aku mencoba mengingatnya"


Aku menahan tubuhnya secara spontan. Sialnya Aku malah meletakan kedua tanganku di dadanya. Aku menatap Pangeran terkejut. Pangeran menahan tanganku di dadanya ketika Aku akan menariknya.


"Kau menyentuh dadaku..Apa Aku harus membalasnya juga ?"


"Tidak mau...lepaskan Aku.." Kataku berusaha melepaskan cekalan tangannya yang menahan tanganku di dadanya.


"Kita sudah sering saling melihat sebelumnya. Untuk apa Kau merasa malu"


"Lepaskan Aku" Kataku menolak. Pangeran mendekatiku. Aku memalingkan wajahku cepat. "Berhenti mengodaku atau Aku akan berteriak"


Pangeran melepaskan cekalannya. Aku menatapnya kesal. Sementara Dia membalas tatapanku dengan senyum kepuasan.


Tapi tanpa rasa bersalah Dia kemudian mengambil handuknya dan menuju kamar mandi.


Aku duduk di dalam kamar. Memandangi pemandangan yang terlihat dari cendela kecil di tempatku berada. Aku sangat mengantuk. Hari sudah lewat tengah malam. Pangeran baru saja keluar kamar mandi. Wangi sabun menyebar dari tubuhnya.

__ADS_1


"Kau ingin tidur di kursi atau di atas tempat tidur" Tanyaku langsung ketika Dia mendekat. Pangeran melirik tempat tidur.


"Tempat tidur cukup luas untuk kita berdua"


"Jangan bercanda lagi" Kataku gusar. "Aku sangat mengantuk. Kau pilih ingin tidur di tempat tidur atau di kursi panjang itu"


Pangeran meletakan handuk yang dikalungkan dilehernya ke sandaran kursi pendek. "Aku punya solusi yang lebih baik dari itu"


"Apa.."


Pangeran mengulurkan tangannya. Sebuah hentakan di leherku mengaburkan pandangan. Gelap. Aku tak sadarkan diri seketika.


Terdengar cicit burung yang begitu nyaring di luar. Terdengar langkah kaki dan suara gerobak yang di dorong. Aku membuka mataku. Menyadari hari sudah pagi. Tengkukku terasa sakit.


Apa yang terjadi ?


Ketika kesadaranku pulih Aku menyadari sedang tidur di atas lengan Pangeran Riana. Bergegas Aku bangun. Terkejut saat mendapati diriku tanpa busana dan hanya di tutupi selembar selimut.


Aku tidak ingat apapun yang terjadi semalam. Pangeran Riana membuatku pingsan. Apakah Dia menyentuhku ketika itu. Aku melirik Pangeran yang masih tidur dengan pulasnya dengan bertelanjang dada.


Pelan-pelan Aku menyikap selimut yang menutupi Kami untuk melihat apakah Dia berpakaian atau tidak.


"Kau tidak perlu mengintip seperti itu jika Kau melihatnya. Aku akan dengan senang hati menunjukan padamu"


Aku menarik tanganku cepat. Pangeran ternyata tidak memakai pakaian sama sekali di balik selimut. Artinya semalam Kami tidur bersama tanpa busana.


"Kenapa kita bisa seperti ini"


"Menurutmu"


"Aku bertanya serius. Apa yang Kau lakukan padaku ?"


"Bukankah di usia kandunganmu sekarang Kau sudah boleh di sentuh. Kau sangat hebat semalam membuatku kelelahan hingga terlambat bangun"


"Hentikan candaanmu yang mengerikan itu. Kau membuatku pingsan. Tidak terjadi sesuatu apapun diantara Kita"

__ADS_1


"Bagaimana Kau bisa yakin ?" Pangeran menatapku penuh percaya diri. Aku beringsut turun tidak ingin menanggapi perkataannya. Membiarkannya masih terbaring di atas tempat tidur tanpa kain yang menutupinya.


__ADS_2