Rising Sun

Rising Sun
25


__ADS_3

Pangeran mendapatkan pakaian ganti untuk Kami dari penginapan. Aku langsung mengambilnya dan memakainya di kamar mandi. Aku selesai berpakaian Ketika Pangeran duduk di sisi ranjang membenahi pakaiannya.


"Kita akan melanjutkan perjalanan setelah sarapan"


"Kemana ?"


"Garduete"


"Apa ?" Aku menatap Pangeran Riana tidak percaya. "Tidak...Aku tidak mau" Lanjutku kemudian setelah dapat mencerna apa yang di katakannya. "Ini bukan rencana awal, Aku tidak mau kembali ke Garduete. Kenapa Kau memutuskan seenaknya sendiri tanpa bertanya padaku ?"


"Tidak ada apa-apa yang bisa Kau lakukan disini Yuki. Kandunganmu sudah besar. Kau akan lebih aman berada di sana"


"Tidak akan aman jika Garduete mengetahui siapa ayah dari anak yang sedang kukandung. Aku sudah mempunyai pengalaman buruk mengenai itu" Aku langsung terdiam. Sadar telah berbicara hal yang selama ini kuhindari namun juga kutakutkan. Pangeran menatapku sejenak.


"Aku pastikan anak itu akan aman di sana" Kata Pangeran bersungguh-sungguh sembari menggengam tanganku. Aku tahu Dia serius. Namun jika mengingat bagaimana kehidupan kerajaan yang kejam. Aku tidak mempercayai bahwa anakku akan baik-baik saja di sana.


"Aku akan mencari makan" Kataku melepaskan genggaman Pangeran Riana. Tanpa menunggu jawabannya Aku keluar kamar dan berlalu pergi.


Di ruang makan Aku berhasil mendapatkan beberapa makanan untuk mengganjal perut.


Aku tidak bisa kembali ke Garduete sementara disini Pangeran Arana dan kerajaan membutuhkan bantuanku. Aku tidak bisa tinggal di Garduete. Sekarang Aku harus menemukan cara bagaimana bisa pergi dari Pangeran Riana dan kembali ke rencana awalku.


Aku memang tidak tahu apakah Aku bisa memberikan bantuan. Namun Aku tidak bisa pergi untuk menyelamatkan diriku sendiri.


Aku membawa keranjang berisi makanan menuju kamar saat di persimpangan Aku melihat Pangeran Riana dan seorang Pria separuh baya. Aku cukup berada di dekat Mereka tanpa Mereka sadari, Dalam jarak ini Aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Ini obat perangsang yang hebat. Tidak akan pernah gagal dan aman untuk istri yang sedang hamil. Saya jamin ini khasiat herbal ini. Jika diminum Pria, Dia akan memiliki tenaga kuda yang tangguh, namun jika diminum wanita, Anda akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan dari wanita itu"

__ADS_1


"Terimakasih banyak" Kata Pangeran Riana tenang.


Obat perangsang. Jadi Dia mau memasukkan obat itu untukku. Aku tidak percaya ini.


Pria tua itu pergi dengan wajah senang. Dia masih tidak menyadari kehadiranku. Baguslah. Terdengar langkah kaki menjauh dan tak berapa lama pintu di tutup.


Aku menunggu beberapa saat dengan penuh pertimbangan. Akhirnya setelah memantapkan keberanian Aku menuju ke kamar. Pangeran sedang mandi saat Aku masuk. Bagus. Aku mencari obat yang di berikan pak tua itu di saku bajunya yang di geletakan begitu saja di sandaran kursi. Akhirnya Aku menemukannya.


Buru-buru Aku mengambil botol itu dan membuka isinya. Tidak ada wangi atau apapun yang mencurigakan, Jika ini sampai di tuangkan ke minumanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku menoleh, ada gelas minuman Pangeran di meja. Aku bergerak menuju gelas itu dan menuangkan setengah botol ke dalamnya. Dengan cepat Aku mengaduk menggunakan sendok dan mengembalikan botol ke sakunya, tepat saat Pangeran Riana keluar kamar mandi. Dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Membuatku kesal, Dia sama sekali tidak sungkan berpenampilan seperti itu di depanku. Dia bersikap seolah memang Kami adalah suami istri.


"P_Sha, Kau pasti haus minumlah ini" Kataku serasa mengambil gelas yang telah kutuangkan obat ke dalamnya. Pangeran melarangku memanggilnya dengan sebutan Pangeran, Dia memaksaku menyebut P_Sha yang jelas kedengaran canggung untukku.


Aku berjalan duduk di samping Pangeran yang sudah terlebih dulu duduk di pinggir tenpat tidur sambil mengeringkan rambutnya. Aku ingin Dia merasakan bagaimana tersiksanya jika di cekokin minuman seperti itu.


"Ayo..Minumlah" Kataku serasa menyodorkan gelas tersebut ke dekatnya. Pangeran menerima gelas tersebut. Dia memandangku sesaat. Aku mendorong gelas itu agar mendekat ke mulutnya. "Ayo..Minumlah"


Aku terbelak saat melihat pemandangan di depanku. Butuh waktu lima detik untuk Aku bisa berpikir. Aku langsung berteriak ketika kesadaranku pulih, Dan beranjak berdiri menjauhinya.


Nafasku terasa panas. Aku masih tidak mempercayai apa yang kulihat.


Aku mengibaskan tangan di depan wajahku.


Sial


Kenapa Dia melakukannya.


"P..P_Sha..Apa yang Kau lakukan...Pakai bajumu" Kataku merajuk dengan posisi berdiri membelakanginya. Bukannya memakai handuknya kembali, Pangeran malah menghampiriku.

__ADS_1


"Kenapa..Bukannya Kau ingin melihatku terangsang sehingga memasukan obat ke dalam minumanku"


Aku menoleh sedikit padanya. Terkejut tidak menyangka Dia mengetahuinya.


"Kau tahu semua ?"


"Aku melihatmu di balik tembok saat Aku bersama pak tua. Dan actingmu sungguh buruk Yuki"


Aku mencembik mendengar selorohnya. "Kalau Kau sudah tau itu...Pakai bajumu segera. Apa Kau tidak malu berpenampilan seperti itu di depanku"


"Aku memberimu kesempatan untuk melihat secara leluasa. Ayo kemari..Dan lihat.."


Pangeran menarikku berusaha memalingkan wajahku untuk melihatnya. Aku memejamkan mataku. Berusaha melepaskan diri darinya.


"Tidak Mau...Kau gilaa.."


"Ayoo..Lihat.."


"Lepaskan.."


Aku berhasil melepaskan diri dan berjalan lebih menjauhinya. Pangeran mengambil handuknya dan melilitkannya kembali ke pinggangnya. Dia menghampiriku. Tampak puas.


"Kau tidak perlu menggunakan obat seperti itu untuk merangsangku. Kau yang paling tahu bagaimana Aku di atas ranjang"


Pangeran memalingkan badanku sehingga Kami begitu dekat.


"Bukankah begitu Yuki"

__ADS_1


__ADS_2