
"Aku disini mewakili seorang teman. Jika itu menganggu, Aku akan pergi" Kataku tanpa berbasa-basi.
Rafael tidak mengatakan apapun. Aku lantas melenggang pergi dengan cepat. Berada didalam sana bersamanya membuatku sesak. Aku tidak menyangka, Aku masih merasakan takut saat berhadapan dengannya. Perasaanku seperti berhadapan dengan seorang narapidana yang menyeramkan. Ketika Aku keluar ruangan, Aku melihat kelebat bayangan penjaga yang mengawasiku secara tersembunyi. Aku melepaskan sepatu hak tinggi. Berjalan cepat tanpa peduli pandangan orang dengan penampilanku. Kepanikan mulai menguasaiku.
Aku mengetuk cincin di jariku. Menandakan Aku akan keluar dari gedung.
Namun ketika Aku berbelok disudut lorong, sebuah pukulan mendarat tepat di tengkukku. Pandanganku langsung gelap. Aku ambruk tidak sadarkan diri.
Aku terbangun dan merasakan sakit di kepalaku. Saat kesadaranku belum pulih, Seember air dingin disiramkan ke wajahku. Aku tidak dapat bergerak bebas. Kedua tanganku diikat keatas, Dengan tali yang disimpulkan sedemikian rupa ke sebuah pipa besar yang melintangi ruangan ini. Aku berdiri dengan posisi setengah berjinjit. Ketika panca indraku mulai fokus, Aku sudah berada di sebuah ruangan yang temaram dan pengap. Bau anyir tercium. Ada suara denting besi dan gesekan sepatu di atas ku. Ruangan ini hanya diterangi sedikit lampu dengan Watt rendah. Aku memicingkan mata, Kemudian mengerjap untuk menyingkirkan sisa air yang masih menetes di pelupuk mataku. Membuat pandanganku terganggu. Rasa pusing membebaniku. Tengkukku terasa sakit sehingga sukar untuk digerakkan.
Terdengar seseorang menarik kursinya di hadapanku. Aku mendongak dan mendapati Rafael sudah duduk berhadapan denganku. Matanya menatapku dengan kepuasan yang ganjil.
Aku membalas tatapannya dengan kesal. "Kau tidak berubah Putri. Masih liar seperti dulu" Nada suaranya seperti seseorang yang baru berjumpa dengan teman lamanya dan terkejut ketika menyadari tidak ada perubahan apapun dengan temannya itu. Tapi Aku tahu, Dia hanya sekedar berbasa-basi. Aku tidak ingin memberikan apa yang Dia mau.
" Jadi Kau ternyata menjatuhkan pilihan pada Riana ?. Apa yang terjadi dengan Sera ?. Apa Mereka saling bertempur dan Dia terbunuh ?"
"Aku rasa apapun yang terjadi dengan Kami bukan urusanmu Rafael"
__ADS_1
Tentu saja Dia tidak tahu jika Pangeran Sera telah meninggal dunia. Aku tidak yakin Rafael mempunyai kekuatan untuk berhubungan dengan orang dunia sana.
"Ck..Ck...Kau masih saja seperti itu. Aku terkejut Riana sanggup bertahan denganmu"
"Lebih mengejutkan lagi saat mengetahui Kau masih hidup"
Rafael memiringkan kepalanya sedikit. Dia tersenyum namun malah membuat wajahnya tampak menyeramkan. "Neraka belum ingin menerima kehadiranku"
"Bagaimana bisa Kau kemari ?" Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaranku.
"Saat itu Pasukan sera mengejarku. Aku berhasil meloloskan diri ke dalam kuil. Hanya seorang perawan tua di dalam kuil itu. Aku berhasil memaksanya untuk mengirimku ke dunia lain."
"Aku akan melakukan apapun untuk hidup." Tegas Rafael. Dia berbicara tanpa keraguan. Matanya dalam menatapku. Aku sangat membenci matanya itu. "Justru lebih menyenangkan berada di dunia ini" Lanjutnya ketika melihatku hanya terdiam. "
"Ngomong-ngomong Putri, Awalnya Aku tidak menyangka akan berada di dunia ini. Tempat Kau dibesarkan. Aku terdampar dan menemukan keberuntungan dari orang yang menolongku. Seorang Jendral tua yang bodoh beserta anak gadisnya. Cukup mudah meyakinkan mereka. Tidak butuh waktu lama, Terutama gadis itu. Dia mau melakukan apapun yang kukatakan. Mempercayaiku begitu besar" Rafael tersenyum geli ketika berbicara. "Dia bahkan memberikan obat yang kuberikan padanya kepada ayahnya tanpa lebih dulu memeriksanya. Kau tidak bisa menyalahkanku. Bukan Aku yang *****"
"Kau meracuni jendral itu ?, Dia yang menolongmu. Ah...Tapi Kau bisa membunuh pamanmu yang membesarkanmu selama ini. Tentu saja Kau bisa membunuh orang lain. Kau memang orang yang kejam"
__ADS_1
"Salah. Aku hanya memberikan obat bius untuknya. Sehingga bisa memasukkab mobilnya ke jurang berserta putrinya. Mungkin ada baiknya Kau berada disana saat itu. Melihat bagaimana wajah wanita itu saat Mobil yang Dia kendarai bersama ayahnya berjalan masuk kedalam jurang. Tatapan mata yang menyadari bahwa lelaki yang telah ditolong ayahnya dan dinikahinya adalah Iblis" Rafael berujar dengan bangganya. Kesombongan yang tidak berubah dari dalam dirinya setelah beberapa tahun lamanya.
"Kau harus berterimakasih padaku. Jika Aku tidak membunuh Pamanku. Maka malam itu Kau akan berada di ranjangnya" Tunjuknya didepan wajahku tepat.
"Aku tidak merasa harus berterimakasih padamu untuk apapun"
Rafael tersenyum. Dia kemudian berdiri. Berjalan pelan menghampiriku. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku berusaha mundur tapi ikatan ditanganku dan posisiku saat ini tidaklah baik. Dalam sekejap Rafael sudah menarik pinggangku dan mendekapku di dadanya. Wajah Kami begitu dekat.
"Aku memanfaatkan mantan pacarmu untuk membalas dendam. oh ya...Aku turut berduka untuk kematian anak pengasuhmu" Bisiknya lirih membuatku terperanjat. Aku sudah menduga jika semua kejadian yang menimpa Bibi Sheira adalah ulahnya. Namun Aku tidak menyangka Dia akan mengakuinya sendiri dengan mudahnya.
"Aromamu adalah favoritku. Aku tidak pernah melupakan bagaimana ketika tubuhku memasukkimu"
"Jangan mendekat..Kau binatang" Kataku berusaha mengelak.
Rafael menjambak rambutku. Menengadahkan wajahku dengan kasar untuk menatapnya. Dia tersenyum licik. Membuatku merasa ingin meninjunya.
"Binatang...Kau bisa saja memakiku semauku. Tapi Binatang ini..Akan mengingatkanmu bagaimana Dia menyentuhmu waktu itu"
__ADS_1
Aku belum sempat mengatakan apapun saat Rafael menciumku. Kedua tanganku terikat sehingga membatasi gerakanku. Aku menghentakkan kakiku ke lantai mencoba membebaskan diri. Bau alkohol tercium dari mulutnya.
"Hen..." Kata-kataku terputus ketika Dia menciumku semakin dalam.