
Lalu sedetik kemudian. Raymond meloncat. Dia terjerembab di sampingku. Refleks Aku membungkuk untuk menariknya.
Pusaran putih seolah memakan Kami. Aku merasakan perutku seolah diaduk dengan kecepatan super. Kesadaranku menghilang. Peganganku terlepas. Apakah Aku bisa bertahan dalam perjalanan antar dimensi ini ?.
Aku tidak ingat apapun.
Saat sadar Aku telah berada di sebuah Kamar yang kukenali Kamar milik Pangeran Riana. Kapan Kami kembali ke istana. Berapa lama Aku pingsan.
Aku sadar seorang diri. Lukaku telah dibebat. Aroma terapi dinyalakan didekatku. Tidak ada seorangpun disini. Tapi, Aku mendengar suara gemericik air dari dalam pintu kamar mandi. Dari cendela Aku melihat bulan bulat bersinar.
Pintu terbuka. Pangeran tampak terkejut saat memandangku. "Hay.." Sapaku lirih.
"Sudah berapa lama Kau terbangun"
"Baru saja. Bagaimana keadaan Nara dan Raymond ?"
"Kau bisa mengkhawatirkan dirimu dan anakmu saja ?" Aku melihat nada tak suka dari Pangeran Riana. Jika Dia cemburu pada Raymond untuk apa Dia membawanya kemari.
"Dia satu-satunya temanku dari dunia sana" Kataku mencoba memberikan pengertian.
Aku ingin mengatakan sesuatu tapi sesuatu di wajah Pangeran membuatku berhenti. Ada duka dan kesedihan didalam matanya.
"Apa semua baik-baik saja?" Tanyaku akhirnya.
__ADS_1
"Yuki..Bisakah Kau berjanji untuk hidup lebih lama bersamaku"
Aku menatap Pangeran semakin binggung. Pangeran duduk di sampingku. Dia menarikku ke dalam pelukannya. Erat.
Aku merasakan tubuhnya bergetar menahan tangis.
"Apa yang terjadi" Kataku lirih pada akhirnya.
Angin dingin meniup rambutku. Aku duduk di taman memperhatikan Nara bermain. Dia seperti tidak mengenali rasa dingin. Aku menatapnya dan teringat dengan anakku yang lain.
Alviandra.
Kepedihan merayapiku. Apakah Aku masih punya kesempatan untuk melihatnya lagi nanti. Apakah Aku punya kesempatan untuk melihat Mereka tumbuh besar ?.
"Kau butuh istirahat lebih lama"
"Jangan memperlakukanku seperti pesakitan" Hardikku padanya. Raymond menghela nafas.
"Dunia ini tidak cukup buruk...Tapi juga tidak cukup baik, Dimanapun seperti itu...Tidak ada yang benar-benar baik atau buruk. Dua sisi akan selalu ada"
Aku tertawa mendengar selorohnya.
"Aku sudah banyak mendengar kisahmu. Aku tidak menyangka selama ini Kau berulang kali hampir mati. Apakah Kau bahagia hidup seperti ini Yuki ?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah mengharapkan hidup seperti ini. Anehnya, dulu saat kecil Aku membayangkan hidup sebagai seorang putri kerajaan, Berpakaian indah, Bertemu Pangeran yang tampan. Tapi ketika Aku benar-benar menjadi seorang Putri, Aku merindukan kehidupanku yang biasa. Kau tahu...hidup sebagai orang biasa lebih menyenangkan daripada apapun"
Nara sibuk memperhatikan ikan di kolam. Dia tampak serius. Wajahnya semakin mirip ayahnya.
"Hidup di istana sangat kesepian dan berbahaya" Aku memperhatikan Nara dengan sedih. Mengingat kemungkinan Aku tidak akan bisa melihatnya ketika besar dan menjadi Raja kelak.
Peluru di punggungku. Entah bagaimana, Bersarang hanya beberapa mili dekat jantungku. Pengobatan disini tidak sama dengan Dunia tempat Kami. Serfa bisa menyembuhkan lukaku. Tapi Dia tidak bisa mengambil peluruku. Terlalu berbahaya. Raymond yang seorang dokter, Dia sendiri bisa untuk mengambilnya tapi tidak didunia ini. Tidak ada alat yang memadai.
Akhirnya dengan terpaksa Serfa dan Raymond memutuskan untuk membiarkan peluru itu disana.
Tapi....Peluru itu akan menjadi bom waktu untukku. Dia akan dianggap sebagai benda asing di tubuhku. Mengerogotiku dari dalam. Dan...Memperpendek usiaku. Hanya Aku tidak tahu seberapa lama tuhan memberiku kesempatan untuk hidup. Inilah yang dikhawatirkan Pangeran Riana.
Aku menghela nafas kembali.
Dua tahun berikutnya..Pangeran Riana menikahi dua orang Putri dari kerajaan lain untuk dukungan. Karena Raja meninggal dunia akibat sakit. Dan perebutan kekuasaan di mulai. Pangeran butuh dukungan untuk mempertahankan posisi dan negaranya. Malam sebelum pernikahan Pangeran berada di kamarku. Mengetahui kehamilanku yang ketiga.
Aku berusaha menerima semuanya. Aku mempercayai Pangeran Riana. Dia sudah berusaha semampunya. Pernikahan ini adalah satu-satunya jalan terakhir yang bisa di gunakannya. Untuk bertahan melindungiku dan Nara.
Meskipun berat Aku mengizinkannya Menikah. Tapi, Pangeran tidak pernah menemui Istri-istrinya setelah pernikahan. Bahkan saat malam pengantin. Pangeran tidak pernah menyentuh Mereka. Dia tidak mengatakan hal itu padaku. Tapi, Aku tahu. Terus terang hal ini terlalu kejam untuk para putri itu.
Tahun ketiga, Ketika Aku melahirkan Putraku yang Kuberi Nama Hazel Bardansah. Perselisihan terjadi antara Aku dan Pangeran (Raja) Riana. Dia tanpa persetujuanku mengirim Alviandra ke tempat pelatihan yang Aku tidak ketahui untuk belajar berperang dan hidup. Aku merana. Berpisah dengan Alviandra sudah cukup berat. Tapi Pangeran Riana memisahkanku juga dengan Nara.
Tahun ke lima, Aku kembali hamil dan melahirkan seorang Putri yang sangat cantik. Aku menamainya Claira Bardansah. Pangeran sudah melarangku untuk melahirkannya karena kondisi badanku tidak memungkinkan untuk proses melahirkan. Dia membujukku bahwa jika Aku sudah cukup sehat, Dia akan memberikanku lagi seorang anak. Tapi tidak sekarang. Namun, Aku dengan keras kepala menentangnya. Aku tahu kehamilanku yang keempat ini, Menjadi pemicu bom waktu dalam tubuhku. Tapi Aku tetap ingin gadis kecil ini hidup. Dia punya hak untuk hidup.
__ADS_1