Rising Sun

Rising Sun
48


__ADS_3

Telingaku berdenging.


Dua orang penjaga masuk.


"Tuan..Kita harus segera pergi dari sini"


"Bawa wanita ini hidup-hidup"


Seorang penjaga menghampiriku. Dia membuka ikatan yang membelenguku. Namun tidak berapa lama. Kemudian Dia menodongkan senjata padaku. "Jalan" Perintahnya agar Aku mengikutinya.


Aku melangkahkan Kakiku. Mengikuti langkah Mereka. Satu pasukan sudah menunggu Kami di depan. Aku terkejut saat mendapati Raymond berada di sana. Wajahnya babak belur. Rafael menghentikan langkahnya. Menatap Raymond dengan pandangan muak.


"Kami menemukannya sedang menyelinap di ruang kerjamu. Sekarang apa yang harus Kami lakukan dengannya ?"


"Bawa Dia. Dia masih harus hidup untuk menjalankan rencanaku"


Tanganku disentakan untuk Maju. Kami melewati lorong rahasia yang berada di sisi selatan bangunan. Suara rentetan senjata dan ledakan masih terdengar. Aku melirik kearah Raymond yang mengenakan pakaian serba hitam. Luka di wajahnya tidak menyurutkan keberaniannya.


Aku menyadari jika Dia bukanlah lagi pemuda enam belas tahun yang kukenal selama ini. Dia sudah berubah menjadi seorang Prajurit yang tangguh.


Dunia militer mungkin memang tepat untuknya ketimbang Medis.


Kami berdua dimasukkan dalam sebuah ruangan yang gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang membuatku masih bisa melihat sosok Raymond meskipun tidak begitu jelas. Sementara Rafael dan rombongannya pergi. Dugaanku, Mereka sedang menyusun strategi.


"Bagaimana keadaanmu ?" Tanyaku pada Raymond yang diam duduk di seberangku. Raymond menatapku dengan penuh tuntutan. Membuatku ingin melarikan diri darinya.


"Aku bertemu dengan laki-laki itu"

__ADS_1


Aku menatap Raymond sesaat. Dari nadanya, Aku tahu yang dimaksud adalah Pangeran Riana.


"Kami bertarung ketika Aku melihatnya menyelinap ke ruang kerja Rafael. Dari caranya bertarung, Aku berani bertaruh Dia terbiasa membunuh orang. Apa nyaman bagimu bersama mafia Yuki"


"Dia bukan Mafia" Sanggahku cepat. "Kau sendiri untuk apa Kau ke sana"


"Apa maksudmu ?"


"Ruang kerja Rafael. Kau kesana untuk mencari sesuatu"


"Aku bertanya padamu terlebih dahulu"


Aku menghela nafas. Perdebatan ini tidak akan berakhir dengan baik. Aku menatap Raymond sejenak. Mungkin lebih baik Aku menceritakan yang sebenarnya padanya.


"Akan kuceritakan padamu. Kau boleh percaya atau tidak..Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan perdebatan. Jadi diam dan dengarkan saja"


Aku lalu bercerita mengenai asal-usulku. Siapa Pangeran Riana. Dan juga apa hubunganku dengan Rafael. Aku juga menceritakan untuk apa Kami ke dunia ini, yang tidak Kami sangka malah bertemu dengan Rafael. Raymond diam. Mendengarkan. Dia tidak nampak terkejut.


Aku menganggukan kepala. Jadi Raymond melihat saat Pangeran Riana memaksa membawaku kembali kedunianya. Ketika Aku menolak kembali setelah kematian Bangsawan Dalto.


"Orang yang Kau lihat itu adalah Pangeran Riana. Raymond..Aku tidak berharap Kau akan mempercayaiku. Tapi Pangeran bukanlah orang yang jahat. Justru Rafael adalah musuhmu yang sebenarnya. Dia bukanlah orang yang baik. Dia bisa membunuh dengan mudahnya untuk mendapatkan keinginannya."


"Selama ini Aku berada didekatnya untuk menyelidiki kematian atasanku dan putrinya. Juga untuk mencari tahu keberadaan dirimu karena Aku punya keyakinan Dia tahu dimana Kau berada selama ini"


Rentetan tembakan semakin jelas terdengar. Aku terkejut saat Raymond berdiri. Ikatan tangannya sudah dilepas. Dia langsung menghampiriku dan melepaskan ikatanku. Tepat saat terdengar suara penjaga mendekat.


Aku berpura-pura duduk dengan tangan terikat. Raymond berada di langit-langit. Minimnya cahaya membantunya untuk menyembunyikan diri. Ketika penjaga membuka pintu. Dia terkejut mendapati Raymond tidak berada di tempatnya.

__ADS_1


"Sialan kemana Dia ?" Tanya penjaga itu dengan panik kearahku. Belum sempat Aku menjawab, Raymond sudah melumpuhkan dua penjaga itu dengan cepat. Dia membunuh keduanya. Aku berdiri. Raymond mengeledah penjaga untuk mengambil senjata. Dia memberikan kepadaku sepucuk pistol. Aku menatapnya tercengah.


"Kau bisa menggunakannya ?" Tanya Raymond ketika melihat keraguan di mataku. Aku menggelengkan kepala.


"Apa Kau gila...Tentu saja tidak"


Aku bisa bertarung. Tapi hanya menggunakan pedang atau panah. Lekky tidak pernah mengajariku menggunakan pistol. Toh disana juga tidak ada alat perang seperti pistol.


Raymond berdiri didepanku. Dia memegangkan senjata ke tanganku dan mempraktekan cara menggunakan senjata dengan cepat. Dengan tenang Dia menembak mayat seorang penjaga yang tergeletak di lantai, Di dekatnya. "Kau sudah paham sekarang"


"Ya" Kataku masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Bau mesiu menyebar didalam ruangan.


"Bagus. Jika Kau tak yakin, Bersembunyi saja di belakangku. Tapi jangan tembak Aku"


"Aku mengerti"


Kami keluar. Raymond langsung membunuh dua orang penjaga yang baru datang karena mendengar suara letusan tembakan yang baru ditembakkan Raymond tadi.


Baku tembak terjadi. Raymond meringis saat bahunya terserempet peluru. Aku melihat bajunya mulai basah. Bau anyir yang kukenali sebagai bau darah langsung memenuhi indra penciumanku.


Seolah tidak merasakan sakit. Raymond masih melawan. Kami berjalan menuju pintu kecil. Agak lega saat Pangeran Riana tahu-tahu sudah berada di belakangku. Entah darimana Dia muncul. Pangeran tanpa Ragu memberikan senjata pada Raymond yang memang kehabisan pelurunya.


"Yuki, Kau pergi jemput Nara. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Rafael baru akan menyusulmu"


Aku menganggukan kepala tidak mau membantah kali ini.


Aku tidak mau merusak rencana yang telah Kami buat. Aku percaya Pangeran pasti sudah menyiapkan segala sesuatu agar Kami semua bisa kembali dengan selamat ke dunia Kami.

__ADS_1


Aku beringsut menuju lift kecil yang biasa digunakan untuk menaruh makanan dari restoran di gedung ini. Namun saat Aku baru melangkah. Sebuah tembakan terdengar cukup keras didekatku. Lebih keras daripada rentetan tembakan yang ada di tempat ini.


Rasa sakit menebar seketika di punggungku.


__ADS_2