Rising Sun

Rising Sun
36


__ADS_3

"Kenapa ?"


"Entahlah. Mungkin ada yang salah denganku"


Raymond mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir teh di depannya. Aku tertegun saat mengenali gelang yang berada di lengannya. Gelang terbuat dari anyaman yang sudah mulai pudar warnanya. Aku ingat memberikan gelang itu didepan gerbang sekolah ketika Aku berpamitan. Itu kejadian yang sangat lama.


Pintu samping bergeser. Suara langkah Kaki yang kukenali milik Pangeran Riana menyadarkanku. Pangeran berhenti saat melihat Kami. Dia mengenakan kaus putih dan celana jeans yang kotor dengan tumpahan cat. Rambutnya sengaja diikat kebelakang. Aku tidak mengerti kenapa Pangeran tidak mau memotong rambutnya seperti apa yang dilakukan Gererou.


"Aku baru saja akan mencarimu" Kataku membuka obrolan. suasana menjadi begitu tegang. Bibi Sheira mengintip dari atas dengan cemas.


"Ada apa ?"


"Bibi akan mengajak kita pergi jalan-jalan. Sekarang Dia sedang berkemas dengan Nara"


Pangeran menghampiri Kami. menggeser dudukku dan duduk di sampingku. Terlihat Raymond kembali mengobservasi Pangeran Riana.


"Ini temanku Raymond" Aku nyaris tersedak saat mengatakannya. Pangeran mengetahui hubungan Kami dahulu. Aku khawatir sifat cemburunya akan meledak.


Pangeran mengulurkan tangan. Raymond menjabatnya. Keduanya tidak saling mengatakan apapun. Tapi Aku membayangkan bagaimana dua tangan yang saling bertaut itu saling meremas. Seolah menunjukan seberapa kuatnya masing-masing dari Mereka.


"Aku datang kemari karena temanku di kepolisian memberiku info mengenai suamimu" Jantungku langsung seolah berhenti berdetak ketika mendengarnya.


"Kau seorang Tentara bagaimana bisa Kau mau repot mengurusi masalah di kepolisian"


"Aku sedang sengang" Jawab Raymond acuh sembari membalas tatapan Pangeran Riana.


"Katanya para wartawan menyelidiki suamimu dan tidak menemukan informasi apapun mengenainya"


"Suamiku bukan artis. Dia punya hak untuk tidak mempublikasikan dirinya" Bantahku cepat.

__ADS_1


"Walau tidak mempublikasikan dirinya setidaknya kepolisian memiliki data-datanya"


"Kami sudah siap" Aku menoleh. Bibi Sheira tampak turun dari tangga sembari mengendong Nara. "Cepatlah kalian berdua berganti pakaian. Mana Gererou. suruh Dia segera bergegas"


"Baik Bibi. Raymond maaf Kami harus berganti pakaian" Aku menyentakan tangan Pangeran. Memintanya untuk segera berdiri mengikutiku. Pangeran berdiri dengan tenang namun waspada. Gererou masuk ke dalam tepat ketika Aku baru akan mencarinya. "Kita harus segera berganti pakaian" Kataku ketika Dia mendekat. Tanpa bertanya Gererou masuk ke dalam kamarnya. Terdengar suara Bibo Sheira yang berbasa-basi dengan Raymond di belakangku.


"Jadi apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran ketika Kami sudah berada di dalam kamar. Aku menceritakan soal koran dan kemungkinan wartawan yang akan menyerbu kemari. Pangeran melepaskan pakaiannya dengan santai didepanku. Menarik pakaian bersih dari lemarinya. Aku memalingkan wajah tidak mau melihatnya.


"Lalu mantan kekasihmu ?"


"Aku tidak tahu kenapa. Dia kemari. Tapi Aku rasa Dia sedang mencari info mengenai dirimu ?"


"Apa hak Dia mencari tau mengenaiku ?"


"Sebenarnya tidak ada. Tapi Raymond adalah seorang aparat. Biasanya antara satu instansi dengan instansi lain memiliki hubungan yang baik. Untuk sekarang lebih baik menghindarinya. Aku tidak ingin melihatmu di penjara"


"Dia belum bisa melupakanmu"


"Lalu apakah itu harus menjadi salahku ?"


Pangeran menarikku ke pelukannya. "Bagaimana bisa Kau selalu menggoda laki-laki dimanapun Kau berada"


"Aku tidak melakukannya. Hentikan kecemburuanmu yang tidak beralasan ..mmmpp"


Ucapanku terputus saat Pangeran mencium bibirku kuat. Aku mencoba mendorongnya namun gagal. Pangeran memaksaku hingga Aku mundur. Dia mengangkat pantatku dengan kedua tangannya. Hingga Aku duduk di atas meja. Air liurnya menetes di sela bibirku.


"Hentikan...kita...buru-buru..." Aku mencoba menghentikan Pangeran yang melepaskan pakaianku. "Para wartawan..."


Namun Pangeran selalu tidak dapat di cegah. Dia membalikkan badanku membelakanginya. Memasuki diriku sedemikaian rupa. Aku menutup mulutku. Berharap apa yang Kami lakukan ini tidak terdengar orang lain.

__ADS_1


Kami baru turun setengah jam kemudian. Raymond sudah tidak ada. Aku jadi lega sendiri. Gererou memasukkan barang ke dalam mobil. Pangeran masuk ke dalam kursi pengemudi. "Apa Kau yakin ?" Kataku tak percaya.


"Tunjukan saja jalannya. Jangan terlalu cerewet Yuki"


Aku dan Bibi Sheira duduk di kursi penumpang. Sementara Gererou berada di samping Pangeran. Pangeran menyalakan mobilnya. Aku memegang Nara erat.


"Santai saja Yuki. Wajahmu seperti pesakitan"


Pangeran memajukan mobilnya. Agak terkejut Dia bisa menjalankan dengan baik. "Kita akan kemana ?" Tanya Pangeran sembari menatapku dari balik spion mobil.


Aku menyalakan GPS dari handphoneku. Terdengar suara seorang wanita di sana. "Ikuti saja perkataannya" Kataku memberikan Handphoneku pada Gererou. Pangeran tampak berguman. Matanya menatap serius ke belakang.


"Ada apa ?" Kataku refleks mengikuti arah pandangannya. Jalan tidak begitu ramai. Ada beberapa mobil di belakang Kami.


"Mantan pacarmu mengikuti kita ?"


"Apa ?" Kataku terkejut. "Apa Kau yakin ?. Bagaimana Kau bisa tahu ?"


"Aku melihat laki-laki itu keluar dari mobil itu tadi" Jawab Gererou enteng.


"Apa Kau yakin Dia mengikuti Kita ?"


"Coba kita buktikan"


"Bagaimana caranya ?"


"Pegangan yang erat" Jawab Pangeran cepat sebelum Dia menginjak gas.


Aku terjerembab ke belakang. Nara tertawa senang. Dia mengira Kami sedang bermain. mobil hitam di belakang Kami ikut melaju. Tidak di ragukan Raymond mengikuti Kami. Pangeran mengemudikan mobilnya. Mencoba mengatur jarak. Aku berpegangan erat. Bibi Sheira memeluk Nara agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"Astaga. Lampu merah" Jeritku ketika melihat lampu jalan yang baru saja menyala merah. Sementara mobil Kami melaju dengan cukup kencang di jarak 50 meter dari lampu itu.


__ADS_2