
Aku jatuh terduduk. Terdengar tembakan lagi. Seseorang mendorongku masuk ke dalam lift. Sekilas Aku melihat Amore muncul membawa pistol ditangannya. Pangeran Riana tampak sibuk menghabisi musuh yang datang. Sementara itu Raymond berada sangat dekat denganku. Dia memelukku di dadanya.
"Kau tidak bisa mengkhianatiku seperti ini Raymond. Ingat, Jika Ayahku Mengetahui hal ini, Dia bisa menghancurkan hidupmu, Karirmu...Semua yang Kau punya akan musnah" Ancam Amore dengan garang. "Bunuh ****** itu dan kembalilah sebelum Aku berubah pikiran"
Alih-alih menurunkan senjata. Raymond malah menodongkan pistolnya ke arah Amore.
"Bunuh Aku kalau Kau ingin melihat kehancuranmu" Amore mendongakkan wajahnya. Kesombongan nampak jelas di matanya. Terdengar ledakan keras di dekat Kami. Pangeran melemparkan granat ke pintu. Telingaku berdenging. Debu bertebaran di mana-mana.
"Cepat pergi" Perintah Pangeran Riana di sela rentetan senjata yang semakin sering terdengar.
"Pergilah dan Kau akan menyesal" Amore menimpali, Mencoba menggoyahkan Raymond. Raymond terdiam beberapa saat. Berpikir. Aku sungguh tidak ingin Dia mendapat masalah karena hal ini. Namun Aku juga tidak ingin Dia kembali pada Amore. Gadis itu bukanlah gadis baik.
Amore memiliki jiwa yang gelap dan jahat. Dia tidak segan membunuh untuk mendapatkan keinginannya. Dia tahu benar bahwa Dia bisa melakukan apapun tanpa harus takut dengan hukum. Kekuasaan ayahnya baik sebagai Militer maupun Bisnis gelap yang dijalankannya membuat hukum tak ada artinya.
Dialah hukum itu.
Dia bisa memutuskan apakah orang itu pantas hidup atau mati.
Tapi..Sebuah tembakan terdengar. Sangat dekat. Darah keluar dengan kecepatan tinggi. Aku menatap kedepanku. Tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja Aku lihat.
Amore terjerembab ke belakang. Tubuhnya menghantam lantai dengan suara debam yang cukup keras.
Ting
Terdengar suara pintu Lift ditutup. Aku dan Raymond berada bersama didalam Lift.
Kami terdiam.
__ADS_1
Raymond tanpa keraguan. Menembakkan senjatanya. Tepat ke wajah Amore. Aku masih ingat bagaimana daging di wajahnya terkoyak dengan darah yang menyembur ke belakang.
Tak berapa lama pintu lift terbuka. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar. Aku merasakan darah merembes di punggungku. Amore telah menembakku. Raymond membantuku. Kami masuk ke dalam kerumunan orang yang berada di luar gedung. Mobil-mobil polisi berdatangan. Suara sirine mengaung-ngaung.
"Kita harus pergi dari sini" Bisikku pada Raymond. Raymond menuntunku ke sebuah sepeda motor yang terpakir di sudut jalan. Dia mengambil kunci di kantungnya. Aku bergegas naik. Menahan rasa sakit di bahuku. Ledakan kembali terdengar. Aku menatap gedung yang mulai terbakar. asapnya membubung tinggi.
Aku berpegangan dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Raymond melajukan motornya. Menembus kerumunan yang bergerak mendekat untuk menyaksikan apa yang telah terjadi.
Aku menuntun Raymond menuju titik pertemuan Kami. Gererou sudah menungguku bersama Nara.
"Putri, Apa putri baik-baik saja"
"Hanya terluka sedikit" Kataku berbohong. Dari sudut mata Aku melihat Raymond duduk. Darah merembes di perutnya. Ternyata Dia tertembak karena melindungiku dari Amore.
Nara sedang tertidur. Phil memberinya obat bius yang cukup membuat Nara tertidur pulas. Aku bersyukur Nara tidak perlu melihat keadaanku yang seperti ini. Aku duduk di sebelah Raymond sementara Gererou berdiri disampingku sembari menggendong Nara.
"Aku pernah menghadapi yang lebih buruk dari ini" Kata Raymond bersikap sarkatis.
"Maafkan Aku karena Kau terlibat masalah seperti ini. Tadi Anak buah jendral Hito melihatmu kan. Kau telah membunuh Amore. Mereka tidak akan membiarkanmu setelah ini. Lalu apa yang akan Kau lakukan"
"Membunuhnya bukanlah dosa. Aku seharusnya melakukannya dari dulu" Kata Rafael mengingat Amore dengan ekpresi jijik.
"Aku tidak pernah berharap melihatmu seperti ini"
"Aku juga tidak pernah mengharapkan untuk melihatmu seperti sekarang" Balas Raymond seperti biasa. Dia selalu menemukan cara untuk berdebat denganku.
Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi Pangeran Riana sudah datang bersama Phil. Aku lega Dia baik-baik saja. "Yuki bagaimana.."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa" Kataku cepat meski Aku tahu Pangeran sudah melihat lukaku. Dia berada di sana, Jelas Dia tahu Aku tertembak. Tapi Aku tidak ingin membuatnya cemas.
Pangeran melirik kearah Raymond. Bibirnya terkatub. Raymond tampak kepayahan. Phil berjongkok memeriksa lukanya. Dia membalut sementara luka Raymond. Sementara Pangeran membebat lukaku. Kami tidak punya waktu banyak. Kami harus segera pergi dari sini. Sebelum para polisi atau anak buah jendral Hito menemukan Kami.
"Rafael.." Tanyaku ketika Pangeran mengikat lukaku dengan simpul terakhir.
"Mati" Jawab Pangeran singkat.
Pangeran memapahku sembari mengendong Nara di pundaknya. Menuntunku masuk kedalam simbol yang telah dipersiapkan. Aku mencoba bertahan sekuat mungkin. Aku telah kehilangan cukup banyak darah. Aku tidak tahu seberapa parah lukaku. Tapi yang jelas, Aku tidak boleh pingsan sekarang. Aku harus kuat. Sebentar lagi Kami akan kembali ke dunia Kami.
Simbol di kaki Kami mulai bergerak. Sepertinya Serfa telah memulai membaca mantera untuk mengembalikan Kami dari dunia sana.
"Menjauh dari simbol" Pinta Gererou pada Phil dan Raymond.
"Aku serahkan Alviandra pada Kalian" Ujar Pangeran tenang.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku" Janji Gererou penuh keyakinan.
Mataku bertumbuk dengan Raymond. Dia harus segera ke rumah sakit. Tapi itu sangat berbahaya. Mereka akan menemukannya disana dan membunuhnya. Tidak ada tempat yang aman didunia ini untuknya sekarang. Setelah semua yang terjadi, Dia harus hidup bersembunyi seumur hidupnya. Sendirian.
Simbol semakin bergerak cepat. Membentuk pusaran putih seperti Blackhole.
Kami akan segera pergi.
"Tidak ada kehidupan yang lebih baik di sana. Tapi Kalau Kau ingin ikut. Kau hanya punya waktu lima detik untuk kemari"
Aku terkejut mendengar perkataan Pangeran Riana yang ditujukan pada Raymond. Raymond menatap Pusaran di belakangku. Diam.
__ADS_1