Rising Sun

Rising Sun
35


__ADS_3

"Yuki coba lihat ini" Bibi Sheira menghampiriku dengan wajah panik. Aku yang saat itu sedang menyuapi Nara langsung berdiri. Pangeran Riana sedang membantu Gererou untuk membersihkan tempat tinggalnya. Kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sangat hebat. Bayanganku saat pertama kali Mereka datang kemari adalah seperti drama film Korea yang sering kutonton saat SMU.


Seorang Raja atau Pangeran dari dimensi lain tersesat ke dunia ini. Dia terlihat konyol ketika melihat mobil berjalan dan lain sebagainya. Aku sudah sangat siap untuk menonton pertunjukan itu secara langsung. Membayangkan Pangeran Riana kebinggungan dengan mobil yang berjalan atau televisi yang menanyangkan suatu siaran. Tapi harapan tinggal harapan. Mereka bersikap terlalu biasa. Sangat pandai menyembunyikan ketegangan dan mampu mengobservasi sekeliling dan menyesuaikan diri dengan cepat.


Aku merasa kecewa melihat kemampuan Mereka itu.


Aku mengambil koran yang dibawa Bibi Sheira. Headline berita tercetak dengan sangat jelas. Ada fotoku dan Pangeran Riana saat Kami di dalam bus.


"Aku sudah lama berhenti dari dunia itu. Rasanya Mereka tidak punya alasan untuk mengangguku"


"Kau menghilang tiba-tiba waktu itu, dan Sekarang Kau muncul kembali"


"Itu sudah lama berlalu"


"Tidak bagi Mereka" Bibi Sheira mengerutkan kening cemas. Sebentar lagi Mereka pasti akan ke sini mencarimu. Lebih baik Kalian segera pergi. Phil membeli sebuah Vila di daerah barat. Kalian bisa tinggal di sana sampai keadaan aman"


"Aku mengerti" Kataku akhirnya. Aku harus mempertimbangkan keadaan Nara. Sangat tidak aman bagi Kami jika para wartawan datang dan mulai menyelidiki Pangeran Riana.


Mereka tidak akan mendapatkan apapun mengenai Pangeran karena Pangeran bukan orang dunia ini. Namun itulah masalahnya, Mereka tidak akan berhenti. Jika dibiarkan masalah ini akan tercium oleh Polisi. Polisi akan menyelidiki mengenai identitas Pangeran. Ini sangat berbahaya karena Dia belum mempunyai surat surat kependudukan. Pangeran akan dianggap pendatang gelap.


"Kau beritahu Pangeran, Aku akan mempersiapkan keperluan Kalian"


Aku meletakkan mangkuk nasi yang kupegang keatas meja. Rasanya tidak pernah ada tempat aman bagi Kami. Kami selalu dikejar oleh sesuatu. Bibi Sheira mengendong Nara. Ketika Aku baru saja berjalan. Terdengar suara bel pintu berdentang nyaring. Menghentikan langkahku. Aku dan bibi Sheira bertatapan. Jika itu Phil pasti Dia akan langsung masuk ke dalam rumah. Pangeran dan Gererou pun sudah memiliki pasword untuk membuka pintu rumah. Mereka ada di perkarangan samping.


"Bibi berkemaslah. Aku akan melihat siapa yang datang" Kataku mencoba menenangkan. Bibi Sheira mengangguk dengan wajah cemas. Dia membawa Nara. Terdengar suara langkah kakinya saat menaiki tangga. Bel berbunyi lagi.

__ADS_1


Aku melangkahkan kaki. Saat Aku mengintip di layar. Aku menemukan seorang Pria berpakaian Tentara berdiri di depan pintu. Aku tidak dapat melihat jelas wajahnya karena topi yang di kenakannya. Dia tidak mendongak ke kamera.


Aku bernafas lega. Setidaknya Dia bukan wartawan. tentara itu memiliki jabatan yang bagus. Jika Aku melihat pangkat di pundaknya.


Aku membuka pintu. Pandanganku menangkap sorot mata yang pernah kukenali beberapa tahun silam. Dia sudah banyak berubah. Tubuhnya jauh lebih tinggi dan kekar daripada sebelumnya. Dia kini lebih terlihat sebagai seorang laki-laki pertarung ketimbang seorang pelajar yang hanya mengenal buku dan olahraga. Entah apa yang dialaminya beberapa tahun ini. Dia sudah banyak berubah. Aku hampir tidak mengenalinya.


"Raymond" Panggilku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat.


Raymond tersenyum. Lengsung pipi di pipi kirinya semakin meyakinkanku akan sosok di depanku ini. "Sudah lama tidak bertemu Yuki."


"Ah ya, Terimakasih"


"Apa Aku boleh masuk"


Aku menggeser kakiku. Mempersilahkan Raymond untuk masuk kedalam. Raymond terlihat sekilas sedang membaca situasi. Bibi Sheira terlihat mengintip dari atas.


"Bi, Apakah Kau masih ingat temanku. Ini Raymond" Kataku mencoba mencairkan ketegangan di wajah Bibi Sheira.


"Tampaknya Kau sedang sibuk. Tapi Aku tidak akan meminta maaf karena telah menganggumu" Ujar Raymond lagi ketika Aku mempersilahkannya duduk.


"Aku tidak menyangka Kau sekarang menjadi tentara. Aku pikir Kau meneruskan bisnis keluargamu atau menjadi dokter" Aku mencoba bersikap tenang. Duduk dengan cukup nyaman di seberangnya.


"Aku memang yg telah menyelesaikan pendidikanku sebagai seorang Dokter. Namun keinginanku memakai seragam ini lebih kuat daripada yang kubayangkan"


"Dari dulu kau selalu konsisten dengan apa yang Kau tuju"

__ADS_1


Seorang wanita separuh baya yang biasa membantu pekerjaan rumah datang dengan membawa nampan berisi air minum dan peganan ringan. Aku menyusun cangkir dan peganan yang diturunkan oleh wanita itu di atas meja.


"Aku melihat beritamu semalam. Kapan Kau kembali"


"Seminggu yang lalu"


"Sampai kapan ?"


Aku mendongak. Ada nada aneh dalam suara Raymond. Nada yang biasa dia gunakan saat bertanya ketika Dia sedang cemburu. Atau hanya perasaanku saja.


"Aku berniat melahirkan anak ini di sini" Aku berusaha tidak mengubris nada yang Dia gunakan. Bersikap sewajarnya seorang wanita.


Raymond menganggukan kepala. "Laki-laki yang di foto itu. Apakah Dia suamimu ?"


"Ya" Jawabku berhati-hati. Mulai tidak mengerti arah pembicaraan Kami.


"Diakah yang membuatmu pergi dan menghilang waktu itu ?"


"Aku pergi karena ada sesuatu. Tapi bukan Karena Dia. Baiklah Raymond hentikan bertanya mengenai hal yang sudah lalu. Bagaimana kabarmu." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Merasa tidak nyaman dengan obrolan yang ada.


"Tidak ada yang menarik. Aku bekerja dan itu saja"


"Istrimu ?"


"Sayangnya Aku belum menikah"

__ADS_1


__ADS_2