Rising Sun

Rising Sun
51


__ADS_3

Meskipun Pangeran menentang kehamilanku dengan alasan keselamatanku, Dialah yang paling mencintai Claire. Dalam waktu sekejap Claire menjadi Putri kesayangannya. Dan sesuai ramalan dari Putri Duyung, Claira sangat dekat dengan Ferlay. Pangeran akan sangat kerepotan kedepannya menghadapi Mereka berdua. Tapi Aku tidak mengharapkan Pangeran bersifat bodoh yang akan melukai Mereka.


Aku berumur Tiga puluh tiga tahun ketika Pangeran mengasingkanku ke sebuah istana kecil. Karena tuduhan mencoba membunuh Istrinya yang lain. Pangeran menghukumku untuk pergi ke istana itu sampai Dia memutuskan Aku boleh kembali. Raymond ikut bersamaku. Begitu juga dengan Claire. Hazel dikirim ke pelatihan. Dia bersama dengan Alviandra. Selain itu Pangeran tidak mengizinkan orang lain mengikuti Kami.


Sifat Pangeran yang terlalu keras pada Mereka membuatku khawatir. Namun Aku tidak bisa berbuat banyak. Dia memblokir segala aksesku untuk bisa berkomunikasi dengannya. Dia tidak menenggokku sama sekali. Aku hanya mendengar mengenainya.


Apakah hatinya sudah berubah ?.


Aku berusaha mempercayainya. Namun kadang dalam hati kecilku...Terjadi pergulatan batin.


Menyedihkan.


Aku terus menunggu Pangeran.


Tapi Dia tidak kunjung datang.


Setahun


dua tahun


dan....Lima tahun...tepat saat enam belas tahun kematian Pangeran Sera. Pendeta suci mengundangku kembali ke kuil suci. Bersama dengan Raymond, Claire, Lekky dan Ferlay. Kami pergi menuju kuil suci.


Ketika menampakan kaki untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun lamanya. Aku terkejut. Rasanya...Pangeran Sera berada cukup dekat denganku.


Aku seolah bisa merasakan kehadirannya.


Hari pertama Aku berjalan-jalan disekitar bangunan Kuil bersama Raymond. Mengingat kembali semua kenangan yang dulu. Kesedihan. Kebahagiaan. Kebodohanku di masa muda.


Banyak hal yang kusesali. Tapi juga banyak hal yang kusyukuri.


Raymond berdiri didekatku. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing setelah Aku menceritakan bagaimana Pangeran Sera bisa meninggal.

__ADS_1


Kami berdiri dibalkon sebuah Menara. Matahari baru saja terbenam. Dari tempatku, Aku bisa melihat bagaimana pohon suci tumbuh dan berkembang di tengah hutan yang luas.


Di taman bawah, Aku melihat rombongan Pangeran Riana baru saja datang. Pendeta suci rupanya mengundangnya juga. Alviandra, Hazel dan Nara berada dalam rombongan. Aku mengenali sosok Teman-teman Bangsawan Pangeran Riana. Siang tadi Aku bertemu dan berbincang dengan Pendeta suci. Bertemu dengan Pangeran Arana yang telah lebih dulu datang sebelum Aku.


"Lebih baik Kau istirahat. Hari ini Kau sudah cukup bertemu dengan banyak orang"


Raymond menegurku. Aku memalingkan wajah sedikit untuk melihatnya. Raymond banyak membantuku. Dia selalu berada di sisiku sebagai seorang sahabat. Raymond tidak pernah menikah atau dekat dengan siapapun di sini. Dia selalu mengikuti kemanapun Aku pergi.


"Pendeta mengundang kita berkumpul untuk makan di taman. Aku ingin pergi ke sana" Pintaku sembari menatapnya dengan pandangan memohon.


Raymond menatapku sejenak. Kemudian Menghela nafas setelah terdiam cukup lama.


"Biasanya Aku akan menentang keputusanmu. Tapi hari ini keluargamu berkumpul, Kau butuh udara segar bersama mereka. Hanya ingat Yuki" Raymond mengangkat telunjuknya dengan ekpresi serius. "Hanya karena Aku mengizinkanmu pergi bukan artinya Kau bisa bertindak sesuka hati"


"Tenanglah Aku mengerti"


Raymond akhirnya mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Aku mengikutinya. Kami akhirnya tiba ditaman. Tapi Pangeran Riana tidak ada. Aku bertemu dengan Alviandra, Nara dan Hazel. Mereka menyapaku dengan ramah. Aku memeluk mereka satu persatu.


Pendeta suci...Masih sama seperti terakhir Aku melihatnya. Dia tidak berubah meski sudah beberapa tahun berlalu. Duduk di sudut lain. Berbicara dengan Bangsawan Xasfir. Bangsawan Voldermon muncul beberapa saat kemudian. Menghampiriku dan langsung duduk didekatku.


"Aku.." Kata Bangsawan Voldermon kebingungan.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti"


Bangsawan Voldermon ingin meminta maaf karena tidak pernah menemui atau menghubungiku semenjak Aku diasingkan. Aku tahu. Pangeran melarangnya.


Aku berusaha mengusir kesedihan dihatiku. Sekuat tenaga mencoba berpikir positif. Bahwa Dia masih mencintaiku seperti dulu.


Bangsawan Voldermon diseret oleh Hazel tak berapa lama setelah mengobrol denganku, Mengajaknya untuk bertemu dengan Pangeran Arana. Aku menatap semua orang yang kucintai satu persatu. Seorang pemusik yang memegang alat musik seperti gitar, ditemani seorang wanita penyanyi berdiri di sisi yang lain.


"Ini adalah lagu yang dipesan oleh pendeta suci untuk mengenang Pangeran Sera. Lagu ini dinyanyikan Pangeran di tempat ini, Untuk Putri Yuki" Kata Penyanyi itu menunduk hormat kepadaku. Aku tersenyum membalas sapaannya.

__ADS_1


Musik mulai dimainkan. Pemetik lah yang bernyanyi. Aku memejamkan mata. Bersandar di sandaran kursi dengan bantal-bantal besar. Raymond menyelimuti kakiku agar tidak kedinginan. Dia duduk disampingku.


"Jika Kau lelah, Kita bisa kembali ke kamar"


"Tidak.." Tolakku. "Aku ingin disini berkumpul bersama mereka"


"Kau pucat"


"Aku tahu...Aku mohon...Biarkan Aku bersama mereka..Aku ingin melihat Mereka...Ini adalah hal langka untukku. Aku sudah lama merindukan suasana seperti ini"


Raymond membenahi sandaran bantal dikepalaku. Aku memperhatikan semua orang satu persatu. Lekky tidak ada disini. Aku berharap Dia tidak mendengar apa yang kupikirkan.


Tawa Claire.


Ketenangan Nara


Gerak gerik Alviandra


Keingintahuan Hazel


Semua perjuangan dan penderitaan selama ini hanya untuk Mereka. Melindungi Mereka.


Tiba-tiba Aku merasakan lelah.


"Yuki.." Aku langsung mengenggam tangan Raymond yang memang menggengam tanganku sembari tadi. Memintanya agar berhenti.


"Kau akan baik-baik saja kan" Bisikku lirih padanya. Raymond menatapku tercengah. "Jangan biarkan Mereka tahu. Aku tidak ingin merusak moment ini"


Raymond menelan ludah sesaat.


Dari sudut mata Aku melihat pendeta suci menatapku. Dari sorot matanya Aku bisa melihat kalau Dia sudah menduga hal ini akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2