
Suara tabuhan berkumandang nyaring dari kejauhan. Bersahut-sahutan semenjak pagi. Aku duduk di tengah ruangan. Di sebuah kursi tanpa sandaran. Sementara itu, Para pelayan mengelilingiku. Mereka menata rambutku. Memoles wajahku dengan kuas. Aku merasa beban berat di kepalaku saat sebuah Mahkota diletakan di sana.
Hiasan pengantin wanita kerajaan Garduete. Aku menyentuh cincin kawinku dengan Pangeran Sera yang masih kupakai sampai sekarang. Kebimbangan merasukiku. Ingin rasanya Aku menghentikan semua kekonyolan ini. Tapi akal sehatku melarangku. Satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan anak ini adalah kembali ke duniaku yang dulu. Untuk meredakan ketegangan yang terjadi, Arana sampai harus menikah dengan seorang wanita yang begitu di bencinya. Dia mengorbankan dirinya untuk mengamankan kerajaan dan anak ini. Raja dan Ratu Argueda sudah memberiku restu untuk menikah lagi. Mereka telah datang semalam dan berbicara langsung denganku. Menurut Mereka pernikahan ini yang terbaik untuk menyelamatkan garis keturunan kerajaan.
Entah rasanya Aku merasa seperti sapi peliharaan dan bukan sebagai manusia. Yang hanya dibutuhkan untuk menghasilkan keturunan. Aku ingat pernikahanku dengan Pangeran Sera dulu demi menyelamatkan Pangeran Rianam Dan sekarang Aku menikah dengan Pangeran Riana demi menyelamatkan anak dalam kandunganku.
Apakah ini yang di sebut karma ?. Aku menggelengkan kepala tidak ingin terlalu memikirkannya.
"Putri, jika Putri lapar, Kami menyediakan cemilan untuk Putri" Ujar seorang pelayan sembari meletakan nampan berisi buah-buahan segar dan kue. "Putri ingin makan apa, biar Saya kupaskan"
"Tidak perlu. Aku tidak lapar" Tolakku langsung.
"Acara pernikahan akan berlangsung seharian. Jika Putri tidak makan, Kasihan nanti bayi dalam kandungan Putri"
Aku menghela nafas. benar juga, Aku tidak mungkin menyiksa anak dalam kandunganku dengan kesedihanku. "Kalau begitu Aku ingin makan mangga itu"
"Baik Putri akan segera saya siapkan"
Aku menerima sepiring kecil mangga yang telah dikupas. Aku tidak ingin makan apapun tapi anak di perutku bergerak aktif seolah memprotes aksi mogok makanku.
__ADS_1
"Yuki..Kau sudah siap" Lekky muncul dengan mengenakan pakaian resmi. Dia tampak berbeda. Seperti seorang Bangsawan Terhormat.
"Ya.." Kataku dengan nada tak yakin.
"Aku tidak menyetujui pernikahan ini, Tapi ini satu-satunya cara melindungi anak itu. Jika Aku membawanya ke keluarga Darmount, Dia akan mendapat pendidikan keras sebagai seorang pembunuh. Percayalah Kau tidak akan menginginkannya"
"Aku tahu. Hanya rasanya seperti dejavu. Aku menikah karena perjanjian"
"Borendo mengetahui kehamilanmu. Dia sedang menyelidiki kenapa Kaulah yang diincar Iblis. Lebih baik untukmu tidak ada di dunia ini untuk sementara waktu. Setidaknya Arana bisa lebih fokus untuk menghadapi Borendo"
Lekky mengulurkan tangan. Aku menerimanya dengan penuh keraguan. Para pelayan mengikuti Kami ketika Kami melangkah. Menuju altar pernikahan.
Para penari menari di tengah ruangan. Musik terdengar cukup nyaring, seolah menghetak-hentak ke dalam telinga. Raja duduk di singasanannya sembari memangku Nara. Dia tidak segan menunjukan kasih sayangnya kepada Nara didepan umum.
"Terimakasih" Kata Pangeran Riana tenang.
Aku kembali di tuntun untuk duduk di depan Raja dan Ibu Suri. Sementara itu Raja dan Ratu Jafar duduk di sisi ruang yang lain. Aku melihat air mata di wajah Ratu Jafar. Ekpresinya menunjukan semacam rasa tidak rela, Namun Dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya. Pangeran Riana duduk di sampingku. Kemudian upacara pernikahan dimulai.
Aku mengikuti prosesi pernikahan sekaligus pengesahan diriku sebagai calon Ratu Pangeran Riana jika kelak Dia menjadi Raja. Pangeran tidak berkomentar saat Dia melihat cincin pernikahan yang masih kupakai, Dia memasang gelang sebagai tanda bahwa Kami telah resmi menjadi suami istri. Setelah semua selesai. Aku naik kereta Kuda bersama Pangeran Riana dan rombongan pengiring pernikahan. Kami mengelilingi ibukota untuk pertama kali menyambut rakyat sebagai suami istri yang sah.
__ADS_1
Sorak sorai para penduduk terdengar diseluruh jalan yang Kami lewati. Aku merasa lega ketika akhirnya Kami kembali menuju istana Pangeran Riana.
Para pelayan membantuku melepaskan gaun pengantinku yang tebal dan berat. Mahkota yang membuat leherku sakit pada akhirnya dilepaskan juga dari kepalaku. Aku langsung mandi dan berganti pakaian. Aku mengenakan gaun tidur lengan panjang. Setelah semua beres Aku menuju kamar Pangeran. Dia sedang bersama dengan Nara. Nara tampak sangat senang saat bermain bersama Pangeran. Terdengar gelak tawanya yang riang.
"Aku meminta pelayan untuk membiarkan Nara tidur bersama Kita" Kataku akhirnya mencoba menjelaskan kenapa Nara berada di kamar sekarang ini.
"Ya..Dia berhak mendapatkan moment berkumpul bersama kedua orang tuanya"
"Terimakasih Pangeran mau mengerti. Ngomong-ngomong apakah nanti Aku bisa membawa Nara ke dunia itu. Aku sudah cukup lama berpisah dengan Nara. Lagipula di sana aman untuk Dia"
"Gererou akan ikut ke sana. Dia menemuiku dan memintaku mengajaknya untuk melindungi anak dalam kandunganmu ketika Kau meninggalkannya di sana"
Aku tidak menyangka Gererou begitu setia pada Pangeran Sera. Dia menolak posisi tinggi yang ditawarkan Perdana Menteri Borendo dan memilih tetap setia pada Pangeran Sera.
"Baiklah. Jadi bagaimana dengan Nara"
"Kita bisa mengajaknya"
"Kita ?" Tanyaku tidak mengerti.
__ADS_1
"Apa Kau pikir Aku akan membiarkan istriku berkeliaran sendiri di dunia sana. Bagaimana jika Kau menemui mantan kekasihmu di sana Siapa namanya ?. Raymond"
Aku mengerjap menatap Pangeran Riana. Aku tidak menyangka Dia mengingat nama itu. Aku hanya menyebutnya sekali ketika Kami sedang bermain putaran botol di rumah Bangsawan Voldermon waktu itu.