
"Apa maksudmu itu" Tanyaku terkejut. Aku mengerjap. Menatap Jasmine tidak percaya dengan apa yang kudengar. Jasmine meletakan telunjuknya di bibir. Dia terlihat tenang namun siap menyerang.
"Sudah kukatakan dari pertama jika anak perempuanmu nanti akan sama seperti dirimu. Apa Kau tidak memperhatikannya Putri ?."
Aku diam. Dia memang pernah mengatakan hal itu. Tapi, Dia tidak mengatakan bahwa Ferlay akan terikat padanya.
"Keponakanku Ferlay, Dia akan terikat pada anak gadismu sama seperti Dia" Ujar Jasmine menunjuk dagunya kearah Pangeran Riana.
"Tapi darah Mereka sama" Bisikku kelu. Aku tidak bisa membayangkan anak gadisku nanti memiliki hubungan dengan Ferlay. Bukan artinya Ferlay tidak baik. Tapi, Darah yang mengalir di dalam tubuh Kami sama. Bagaimana bisa Aku membiarkan Mereka bersama nanti.
"Meskipun secara fisik Ferlay tidak mirip Lekky, Tapi secara watak Ferlay lebih dominan menyerupai Lekky. Kau tidak akan bisa menghindari hal itu terjadi"
"Tapi.." Kataku kebingungan.
"Putri Yuki, Ketahuilah..Ferlay adalah kesayanganku. Walaupun Dia menyayangimu seperti ibunya, Tapi Jika Kau menghalangi kebahagiaannya. Kau akan berhadapan denganku" Ujar Jasmine tegas.
"Kita tidak datang ke sini untuk membahas masalah yang belum terjadi itu" Pangeran Riana meremas bahuku. Mencairkan situasi yang tegang. "Sekarang Aku ingin mendengar apa yang Kau lihat di masa depan mengenai anak ini" Pangeran menepuk lembut perutku.
Jasmine menatap sekilas pada Pangeran Riana. Dia menghela nafas. "Pertahananmu begitu kuat Pangeran. Kau sama sekali tidak terpengaruh penampilanku. Apa menurutmu Aku kurang menarik ?"
"Terimakasih. Aku tidak ingin menghabiskan waktu disini untuk hal yang tidak berguna. Jika Kau tidak ingin mengatakan apapun Kita akan pergi sekarang sebelum teman-temanmu memakan Kami"
__ADS_1
"Astaga. Kau kaku sekali Pangeran. Baiklah..Baiklah...Akan kukatakan...tidak ada tempat yang aman untuk anak itu sekarang. Perdana Menteri Borendo sebentar lagi akan mengetahui soal kehamilanmu Putri. jika Dia berhasil menangkapmu dan anak itu, Dia akan menemukan fakta bahwa Kau adalah seorang Ciel"
"Lalu apa yang harus Aku lakukan"
"Kembali ke dunia di mana Kau tumbuh besar. Perdana Menteri Borendo tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mengejarmu dan anak itu ke sana. Jika Kau sudah melahirkan anak itu Kau bisa kembali kemari dan meninggalkannya di sana bersama orang yang Kau percayai"
"Apa ?"
"Hanya itu satu-satunya cara menyelamatkan anak ini. Walaupun Pangeran Riana bersedia menerima anak itu. Tapi kerajaan belum tentu mau menerimanya. Besar kemungkinan malah nyawanya akan terancam di sana karena sifat manusia yang serakah dan ingin berkuasa"
"Tapi..Aku sudah tidak bisa pergi ke dunia itu lagi. Pintu dunia itu sudah tertutup saat Aku kembali kemari"
Jasmine tersenyum penuh arti. Aku memandang Pangeran Riana. Ekpresinya tenang. Namun rahangnya terkatub rapat.
"Hanya dengan membuatmu percaya Kau tidak akan bisa kembali ke sana. Kau bisa melupakan keberadaan duniamu itu" Jawab Pangeran Riana akhirnya.
"Kalian harus cepat bertindak. Arana dan teman-temanmu tidak punya cukup kekuatan untuk mencegah pergerakan Perdana Menteri Borendo"
"Terimakasih. Kami akan pulang dan menyusun rencana"
Pangeran menarik tanganku. Memaksaku untuk segera pergi dari pinggir sungai. Aku berusaha melepaskan pegangannya tapi Dia terlalu kuat untuk ku lawan.
__ADS_1
Raldoft menundukan badannya ketika Kami muncul di tempatnya menurukan Kami. Pangeran memaksaku untuk segera naik ke atas Raldoft. "Aku tidak percaya Kau membohongiku"
"Meskipun Kau tau kebenarannya, Kau tidak akan kembali ke sana tanpa Aku"
Pangeran menarikku ke pelukannya. Mengacuhkan kekesalanku. Kami kembali terbang tinggi. Menuju Garduete.
Malam telah sangat larut ketika Kami tiba di istana Garduete. Aku meluruskan pinggangku yang pegal. Kami telah berpergian dengan Raldoft selama delapan jam tanpa berhenti. Aku tidak percaya Aku bisa kembali kemari. Pangeran mengelus wajah Raldoft sebagai tanda terimakasih sebelum Dia meninggalkan Raldoft di kandang yang dibuat khusus untuknya.
"Aku bisa berjalan sendiri" Kataku ketika Pangeran hendak mengandeng tanganku. Aku secara refleks memindahkan tanganku ke belakang, mundur satu langkah darinya.
Pangeran langsung menarik pinggangku hingga wajahku menabrak dadanya. "Cukup merajukmu Yuki. Kita punya banyak hal yang harus kita selesaikan" Ujar Pangeran mengingatkan. "Sekarang patuhlah. Hanya Aku yang bisa membantumu menyelamatkan anak ini"
Aku mencembik mendengar perkatannya. Tapi Aku tidak membantah bahwa Dia benar. Lekky belum tentu bisa membawaku ke dunia yang berbeda dimensi dengan dunia ini, meskipun Dia sering pergi ke dunia kegelapan atau Dunia tempat manusia biasa tidak bisa menjangkaunya. Hanya Pangeran Riana yang pasti bisa membantuku. Pangeran Sera mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku dan anaknya. Aku harus melakukan segala hal agar buah cinta Kami ini selamat.
Akhirnya Aku membiarkannya merangkul pinggangku sementara Kami berjalan menuju Kamarnya untuk beristirahat dan membersihkan diri.
Keesokan harinya, Pangeran Riana datang menghampiriku ketika Aku sedang bermain dengan Nara di taman istana. Sungguh di luar dugaan, Nara tumbuh begitu cepat. Aku tidak bertemu dengannya beberapa bulan dan sekarang Dia sudah bisa melangkahkan kakinya yang mungil. Nara tersenyum melihat Pangeran Riana seolah mengenali ayahnya. Dia menjadi semakin mirip dengan Pangeran Riana. Rambutnya berwarna hitam dengan semburat warna biru keabu-abuan.
Pangeran Riana berjongkok untuk menerima Nara yang menghambur ke arahnya.
"Aku mempunyai hal yang serius untuk kita bicarakan mengenai rencana perjalananmu" Kata Pangeran membuka omongan.
__ADS_1
"Apa itu ?"
"Aku bersedia membantumu dan menemanimu di sana sampai anak itu lahir dan siap kita tinggalkan dengan pelayan ibumu. Asal Kau setuju untuk melangsungkan pernikahan denganku besok"