
"Pangeran Riana terlihat sungguh-sungguh mencintaimu. Lalu kenapa Kau masih membatasi dirimu Yuki ?" Aku terkejut. Tidak menyangka Bibi Sheira akan menyinggung hal ini. Bibi menatapku lekat. Menunggu. Karena Aku hanya diam, Bibi kembali melanjutkan ucapannya. "Pangeran seperti ayahnya, Dia bergerak menggunakan logika dan akal ketimbang hatinya. Pada dasarnya semua laki-laki seperti itu. Tapi, Jika Pangeran mau, sebenarnya saat Kau meninggalkannya dulu Dia bisa saja menikah dengan orang lain sembari menunggumu kembali. Seperti apa yang dilakukan Raja"
"Akhir-akhir ini Aku terus memikirkan hubungan Kami. Ada satu kejadian yang membuatku sadar bahwa Dia masih berarti dalam hidupku. Tapi..."
"Rasa bersalahmu atas kematian Pangeran Sera mengalahkan semuanya"
Aku menatap tanah didepanku terpekur.
"Jika Pangeran Sera tidak meninggal...Argueda tidak akan kacau seperti ini"
"Apa yang terjadi sekarang ini sudah digariskan oleh tuhan. Kita manusia hanya bisa menjalaninnya. Selama Kau hidup...Kau akan merasakan kebahagiaan dan kesedihan. Kau akan bertemu dan kehilangan. Tidak ada manusia yang seumur hidupnya merasa bahagia ataupun bersedih. Bagaimana jika Kau mencoba berdamai dengan dirimu sendiri. Demi anak-anakmu nanti"
Bibi Sheira mengangkat Nara dan memeluknya dalam gendongannya. "Jalani hidupmu dengan baik Yuki. Sering kali siapa yang ada di hati kita, belum tentu adalah orang yang berjalan bersama kita di altar pernikahan."
"Aku..." Kataku kelu mendengar nasehat bibi Sheira.
"Cintai apa yang ada disampingmu. Kau pernah menyesal kehilangan orang yang berharga untukmu. Jadi jangan ulangi kesalahan yang sama"
Terdengar suara klakson mobil. Tak berapa lama sebuah mobil berwarna silver memasuki perkarangan. Langsung menuju garasi mobil. Pangeran Riana keluar setelah Phil. Aku terkesiap saat melihat Pangeran dengan pakaian Biasa.
Dia terlihat tenang dan berwibawa. Mengenakan sweater berwarna biru tua dengan celana jeans yang maskulin. Penampilannya sangat berbeda, Tapi tetap saja memiliki aura yang memikat lawan jenis.
"Penampilan Pangeran seperti seorang Laki-laki sungguhan" Selorohku ketika Dia mendekat.
__ADS_1
"Apa Kau mau membuktikan bahwa Aku laki-laki atau bukan meski tanpa mengenakan pakaian ini"
"Jangan berbicara sembarangan. Aku tadi sedang memujimu bukan menghinamu" Kataku menolak arah pembicaraan. Meski Kami sudah menikah, Tapi Kami belum pernah melakukan hubungan suami istri setelah resepsi pernikahan Kami di gelar. Pangeran lebih lembut setelah Kami menikah. Dia tidak memaksakan keinginannya jika Aku menolak.
Di belakang Pangeran, Gererou berdiri. Aku memperhatikan penampilan Gererou.
Gererou memotong rambut panjangnya. Sekarang Dia terlihat seperti seorang tentara yang cukup tangguh. Hanya orang bodoh yang akan mencari masalah dengannya.
"Aku akan membawa Nara untuk mandi. Kalian bersiaplah sebentar lagi waktunya makan malam"
"Terimakasih Bibi. Maaf merepotkan"
Bibi mengajak Nara masuk kedalam. Phil bersama Gererou di belakangnya. Mereka membicarakan mengenai Golf dan memancing. Tampaknya Phil menemukan teman bicara yang sempurna. Terlihat jelas bagaimana Phil cukup bahagia dengan kehadiran Gererou.
"Ya. Kenapa Kau bertanya seperti itu Yuki"
"Pangeran terlihat tegang. Apa suasana di dunia ini membuatmu tertekan ?"
"Ada banyak hal yang menarik disini. Bagaimana jika besok Kau menemaniku jalan-jalan"
"Baiklah kita bisa naik kendaraan umum"
"Aku akan menyetir"
__ADS_1
"Apa" Kataku kaget. Aku menatap Pangeran tidak percaya. Dia baru pertama kali melihat dan naik mobil. Bagaimana bisa Dia langsung menyetir mobil ?. Apa Dia bercanda.
"Kita naik kendaraan umum saja"
"Aku sudah mengetahui cara kerja benda itu" Tunjuk Pangeran pada mobil yang terpakir di halaman depan rumah. "Phil sudah mengajariku dasarnya. Kau tidak perlu khawatirkan apapun"
"Tapi..."
"Sudah sore. Ayo masuk ke dalam" Potong Pangeran sembari menarikku masuk. Dia merangkulkan tangannya di pundakku tanpa canggung. Tercium aroma farfum dari pakaiannya. Mereka telah berbelanja rupanya. Pantas saja tadi Mereka lama sekali.
Malam harinya Kami berkumpul untuk makan. Setelah itu Aku menidurkan Nara. Nara tampak kelelahan. Dia langsung tertidur. Tidak ada drama mainan masih berantakan di jam tidur ataupun merenggek minta dimanja. Pangeran sedang berada di kamar suci. Berbicara dengan orang dunia asal Kami untuk mendapatkan informasi. Aku menunggunya dengan perasaan berdebar. Kami tidak bisa menggunakan Gulf di sini. Alat itu sama sekali tidak berfungsi di dunia ini. Jika ingin berkomunikasi Kami harus masuk ke dalam kamar suci. Namun jika tidak memiliki kekuatan yang cukup, Kita akan merasa lemas jika terlalu lama berada di dalam sana. Pangeran melarangku ikut masuk ke dalam demi keamanan anak dalam kandunganku. Aku tidak membantah ucapannya.
Pangeran baru kembali ketika jam di ruang tengah berdentang nyaring. Menunjukan pukul satu dini hari.
"Bagaimana ?" Tanyaku langsung ketika Pangeran memasuki kamar. Nara bergerak sedikit membuatku sadar suaraku terlalu kencang. Aku menutup mulutku. "Bagaimana" Tanyaku lagi kali ini dengan suara lebih pelan.
"Perdana Menteri Borendo meminta pernikahan Arana dengan Putrinya dilaksanakan. Dia menyandera istri pertama Arana dan membunuh istrinya yang lain"
"Apakah Lekky tidak bisa membantu ?"
"Keluarga Darmount tidak pernah ikut campur urusan politik atau negara. Lekky bisa saja menghabisi Borendo tapi Dia akan menghadapi keluarganya sendiri karena melanggar sumpah"
Aku menghela nafas. Aku tidak mungkin membiarkan Lekky mengambil resiko yang berbahaya. Lazzar sangat memegang teguh aturan keluarga. Dia sangat tegas dan tidak pilih kasih kepada siapapun yang melanggar aturan. Aku tidak mengharapkan ada pertingkaian dalam keluarga Darmount.
__ADS_1
"Arana harus bertahan setidaknya sampai anak ini berusia dua puluh tahun untuk bisa menyerahkan tahtah padanya"