
Aku menatap cincin itu nanar. Aku tidak mungkin salah mengenalinya. Ini adalah cincin yang kusematkan di jari Pangeran Sera ketika Kami menikah. Cincin yang tidak pernah lepas dari jarinya bahkan ketika Aku meninggalkannya selama lima tahun. Cincin yang tiba-tiba hilang dari jarinya ketika Kami berada di kuil suci.
"Ke..Kenapa.." Bisikku kelu.
"Dia memintaku untuk menjagamu dan anak-anakmu nanti"
Air mataku langsung jatuh. Aku menangis tergugu. Dia sudah mempersiapkan semuanya untukku. Semua perlindungan. Semua kemungkinan. Dia tahu matahari akan sirna dari hidupku ketika Dia tidak ada. Karenanya Dia memberiku bulan agar Aku bisa melewati malam yang dingin.
Bukankah sinar bulan ada karena pantulan sinar matahari ?.
Matahari menyalurkan cahayanya kepada bulan sehingga bulan terlihat bersinar dari bumi.
Seperti itulah Pangeran Sera.
Aku mulai memahami semua sikapnya saat itu. Dia mempersiapkan segalanya untukku.
"Bodoh.." Bisikku kelu.
Pangeran Riana menarikku kepelukannya dan memelukku erat. Aku membiarkan diriku melepaskan semua energi negatif yang terpendam di dalam hatiku.
"Apa Kau sudah tenang ?" Tanya Pangeran ketika Aku selesai menangis. Aku menganggukan kepalaku sembari mengusap air mata yang membasahi wajahku.
"Sejak kapan cincin itu ada bersamamu ?"
"Di kuil suci, Saat itu Dia memanggilku untuk bicara empat mata. Aku tidak tahu apa maksudnya menyerahkan cincin itu padaku. Kemudian Dia berkata jika di pertempuran nanti Dia tidak selamat, Aku harus menjagamu dan anak-anakmu. Dia menginginkan Aku bertanggung jawab dan menikahimu"
Aku diam. Merenung memandang cincin itu. Pangeran mengambil kembali cincin itu. Lalu Dia memakainya di jari manisnya. Aku terkejut saat cincin itu pas di jarinya.
__ADS_1
Pangeran bersandar di batang pohon besar yang tergeletak di belakangnya. Aku memandang kesekeliling. Hutan ini sangat gelap. Aku nyaris tidak bisa melihat jelas diluar jangkauan api.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan ?" Tanyaku kemudian.
"Kalau Kau ingin mengisi waktu dengan bercinta Aku dengan senang hati akan mengabulkannya"
Aku melempar daun kering didekatku kearah Pangeran. Bisa-bisanya Dia mengatakan hal itu di saat begini. Pangeran tanpa rasa bersalah hanya menyibakkan daun yang bersarang di wajahnya.
"Jika Kau tidak mau bercinta lebih baik Kau tidur. Setiap gerakanmu membuatku tidak bisa berkonsentrasi" Katanya tegas.
"Bagaimana Aku bisa tidur dalam situasi seperti ini ?" Jawabku balik tidak percaya.
"Aku akan membantumu"
Aku melihat kearah Pangeran Riana tidak mengerti. Kemudian Pangeran mengulurkan tangannya. Dan sebuah hentakan kembali kurasakan di tengkukku.
Aku menyentuh tengkukku. Rasanya sakit. Seperti jika salah tidur. Pangeran muncul masih bertelanjang dada. Dia sepertinya baru selesai membasuh diri.
"Kau lagi-lagi membuatku pingsan" Kataku kesal menyadari apa yang telah diperbuatnya semalam.
"Bagaimana badanmu" Tanyanya balik. Aku menatapnya tidak mengerti. Pangeran tersenyum. Aku berjengit menjauh ketika tangannya terulur. "Jangan nakal, Aku tidak akan membuatmu pingsan. Pergilah membasuh diri dan rapikan pakaianmu. Sebentar lagi kita akan berangkat"
Aku tidak membantah. Bergegas bangun menuju sungai di dekat Kami. Aku baru saja akan membasuh saat melihat bayanganku di sungai. Sebuah tanda merah bekas ciuman berada di leherku. Membuatku menyadari bahwa seharusnya pakaianku tidak seberantakan sekarang. Aku mengecek dadaku dan menemukan tanda lain. Aku menemukan di pergelangan tangan kiriku juga di bahu kiriku.
Terdengar suara langkah mendekat. Pangeran berdiri di belakangku. Dia telah berpakaian dan siap berangkat. Menatapku puas.
"Apa yang Kau lakukan ketika Aku tidur ?" Tudingku kesal.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menahannya. Kau sangat mengairahkan semalam."
"Kau..Aku sedang hamil.." Protesku keras. Aku tidak percaya Dia melakukannya dalam kondisi yang seperti sekarang. Aku memang terharu karena cincin pernikahan Pangeran Sera. Tapi bukan artinya Aku menyetujui kembali bersamanya meskipun Pangeran Sera mengizinkannya.
"Berhubungan sangat bagus untuk janinmu. Cepatlah berpakaian kita harus berangkat sebelum siang" Kata Pangeran acuh. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh protesku.
Pangeran beringsut meninggalkanku yang terbengong. Aku segera membenahi pakaianku setelah membersihkan diri. Raldoft datang sesaat setelah Aku selesai berkemas. Aku membiarkan Pangeran mengangkatku ke atas punggung raldoft. Terdengar geraman Raldoft yang kemudian perlahan mulai mengepakkan sayapnya.
Pohon-pohon dibawahku mulai tak terlihat. Aku menggigil kedinginan. Pangeran menarikku mendekatinya. Dia memelukku dengan hangatnya.
"Jika setelah berbicara dengan para Putri duyung itu Kau tetap tidak menemukan jawaban. Aku akan tetap membawamu paksa ke Garduete"
Aku diam. Tidak mengatakan apapun. Nafas Pangeran terasa di pipiku. Di bawah Kami hutan lebat terbentang seperti permadani berwarna hijau. Mengingatkanku ketika pertama kali Dia membawaku pergi menunggangi Raldoft. Waktu itu, Dia membawaku kembali setelah Aku di culik oleh Pangeran Sera. Rasanya baru kemarin hal seperti itu terjadi.
"Apa yang Kau pikirkan ?" Tanya Pangeran membuatku tersadar dari lamunanku.
"Aku teringat ketika pertama kali Kau membawaku pergi dengan Raldoft. Rasanya seperti baru kemarin terjadi" Akuku menyuarakan pikiranku. Pangeran terdiam sebentar. Kemudian Dia memalingkan wajahku untuk menatapnya.
"Tawaranku tidak pernah berubah untukmu Yuki"
"Tawaran ?" Tanyaku tidak mengerti.
"Ya..Aku pernah memintamu untuk menikah denganku. Apa Kau lupa ?"
"Itu sudah lama terjadi" Kilahku. Aku ingin memalingkan kembali wajahku namun Pangeran Riana menahannya. Dia menatapku dalam dengan mata birunya. Membuatku susah bernafas.
"Aku serius. Apa yang kuminta padamu bertahun-tahun lalu masih tidak berubah. Tidak peduli siapa yang Kau cintai sekarang atau anak siapa yang Kau kandung. Aku masih meminta hal yang sama padamu...bukan..." Pangeran mengatupkan bibirnya sesaat seperti tersadar. "Aku rasa Kau akan lebih paham jika Aku mengatakan hal ini... Aku tetap ingin menikahimu tidak peduli seperti apa dirimu sekarang"
__ADS_1