Rising Sun

Rising Sun
29


__ADS_3

"Jika Aku menolak apa yang akan Kau lakukan ?"


"Menyeretmu ke altar pernikahan begitu raldoft menurunkan Kita" Jawab Pangeran Riana dengan penuh keyakinan.


"Taukah Pangeran, Aku sering merasa seperti seorang wanita murahan ketika bersama kalian"


"Apa maksudmu"


"Kalian memaksakan keinginan kalian padaku tanpa mempertimbangkan perasaan atau bertanya apa pilihanku. Kalian memberiku posisi yang sangat sulit hingga kadang Aku tidak dapat bernafas karena memikirkannya. Kalian tahu pasti Aku tidak bisa melawan kalian...karena jika Aku melawan Kalian...nyawa orang-orang disekelilingku akan kalian gunakan untuk menundukanku"


"Karena harta dan kedudukan tidak bisa menundukanmu. Memperlihatkan kenyataan adalah yang terbaik untukmu Yuki"


Aku menutup rapat mulutku. Kenapa dulu Aku tidak bisa memberikan pilihan, Karena Aku tahu apapun pilihanku tidak hanya berdampak pada hidupku. Tapi juga semua pelayan di istana Ayah. Pangeran Riana maupun Pangeran Sera akan mempertaruhkan nyawa mereka semua jika Aku memberikan pilihan yang salah. Sayangnya Memilih salah satu dari mereka merupakan pilihan yang salah itu.


"Aku tidak akan menikah denganmu"


"Kalau begitu Aku akan memaksamu menikah denganku"


"Kau tidak bisa seenaknya begitu" Protesku kesal.

__ADS_1


"Bahkan jika Aku harus melawan keluarga Darmount. Aku akan melakukannya"


"Kenapa Kau ini" Kataku tak percaya melihat keangkuhannya yang seperti batu karang. Pangeran menatap lurus ke mataku. Wajahnya sangat serius saat mengatakannya.


"Raja sudah jatuh cinta padamu Yuki. Kau tidak bisa melarikan diri dari tangannya, bahkan sampai kehidupanmu yang selanjutnya"


Aku memalingkan wajahku. Menatap lurus kedepan. Menghentikan perdebatan yang tidak berujung. Berdebat dengannya malah akan membuatku lelah dan tertekan.


Tidak peduli Aku akan menyangkalnya seperti apapun. Pangeran Riana tidak akan merubah keputusannya. Bertahun-tahun lalu Dia mengatakan ingin menikahiku. Dia membuktikan ucapannya sampai detik ini, Dia tidak menyerah meskipun Aku telah menghilang dari kehidupannya dan menikah dengan Pangeran Sera. Sifatnya sangat keras dan sangat sukar dibelokan. Aku berharap Nara tidak mengikuti sikap ayahnya yang seperti ini.


Raldoft menukik tajam secara mendadak. Aku langsung berpegangan erat pada Pangeran Riana. Di depanku sungai membentang dikelilingi tebing batu yang curam. Ada bekas kuil yang telah porak poranda di salah satu tebingnya. Aku masih mengenali kuil itu dengan baik. Itu adalah kuil di mana Pendeta suci disekap oleh murid pendeta yang berkhianat. Raldoft memiringkan badannya, dengan cekatan Dia terbang menyusuri tebing dipandu oleh Pangeran Riana. Akhirnya Kami sampai pada tempat tujuan Kami.


Para Putri duyung sedang duduk di pinggir sungai saat Kami datang. Matanya menatap Kami dengan pandangan lapar. Pangeran membantuku turun setelah Dia memastikan situasi di tempat Kami mendarat aman. Aku melingkarkan lenganku di lehernya ketika Dia menarikku dari punggung Raldoft.


"Senang bertemu denganmu kembali Putri Yuki"


Aku terkesiap saat mengenali suara itu.


Jasmine, Adik dari istri Lekky, Duduk dengan tenang di sebuah batu besar yang ada di tengah sungai. Hari ini air sungai sedikit menyusut sehingga bebatuan yang biasa terbenam muncul ke permukaan. Para Putri Duyung tanpa bercanda ria. Terdengar suara kecipak ekor mereka yang menghantam air sungai.

__ADS_1


"Apakah Aku bisa berbicara denganmu sebentar" Tanyaku dari pinggir sungai. Pangeran menjagaku di samping. Tampak waspada jika ada putri duyung yang mencoba memakanku. Raut wajahnya dingin dan tidak. bersahabat.


Jasmine menelengkan kepalanya sesaat sembari memperhatikan Kami berdua secara bergantian.


"Tentu"


"Terimakasih"


Jasmine menceburkan diri ke sungai. Sosoknya menghilang di tengah riak air. Aku menunggu beberapa saat ketika akhirnya Dia muncul di pinggir sungai. Dengan tenangnya Dia keluar sungai. Perlahan ekornya berubah menjadi kaki. Pangeran menarik dan melemparkan kain yang sebelumnya melilit lehernya untuk menutupi Jasmine yang separuh telanjang. Aku melirik Pangeran Riana, terkejut ketika menyadari Dia tidak terpengaruh penampilan jasmine di depannya. Dia memberikan kain itu semata untuk kesopanan.


Dengan lenggokan wanita yang menggoda, Jasmine duduk di sebuah batu. Kakinya yang jengjang terulur menggoda. Kain yang menutupi area pinggang sampai pahanya sedikit tersingkap. Aku hampir menghampirinya untuk membenahi kain itu. Tapi Pangeran Riana menahan pinggangku. Tatapannya mengingatkanku bahwa tanpa Lekky ada di sini, Jasmine mungkin bisa memakanku.


"Anak yang Putri Kandung itu, Dia lah yang akan mengembalikan kekuasan Raja Jafar dan mensetabilkan kembali negeri Argueda. Memang butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggunya hingga dewasa. Tapi Dia memegang takdir yang besar untuk dunia dan negaranya" Ujar Jasmine membuka obrolan ketika Kami hanya diam.


"Apakah Kau sudah tau bahwa bukan Aku yang akan mati waktu itu" Tanyaku lirih. Aku teringat bagaimana kepercayaan dirinya saat mengatakan ramalan waktu itu. Dia tidak tergoyahkan meyakini bahwa Aku akan melahirkan empat orang anak.


"Aku bisa saja mengatakan kebenaran waktu itu. Tapi Kau tidak bisa mengubah apapun Putri meskipun Kau mengetahuinya. Percayalah, Pertama kali kita lahir kedunia ini, Kita sudah membawa takdir masing-masing. Kapan Kau menikah, Kapan Kau memiliki anak, Kapan Kau mati. Semua itu sudah tertulis jauh sebelum Kita lahir Putri. Jika waktumu belum mati, Kau tidak akan mati meskipun Kau sangat menginginkan kematian itu menjemputmu"


Aku memegang perutku. Terasa tendangannya di perutku. Dia bergerak, merespon perasaanku yang kembali goyah.

__ADS_1


"Kau pasti sudah mendengar apa yang terjadi di Argueda. Kami kesini untuk memintamu memberi solusi mengenai anak ini. Apakah Kau bisa membantu" Tanyaku lirih.


Jasmine tersenyum. "Kau adalah kesayangan Ferlay. Anak perempuanmu akan menjadi bagian hidupnya nanti. Tentu saja Aku akan membantumu"


__ADS_2