Rising Sun

Rising Sun
26


__ADS_3

Pangeran begitu dekat denganku sehingga Aku bahkan bisa melihat otot-otot perutnya dengan jelas.


"Cukup. Berhenti mengangguku seperti itu" Aku memalingkan wajah. Menolak mengakui bahwa sebagai laki-laki tubuhnya memang sangat menarik. "Aku melakukannya Karena Kau ingin membuatku terangsang dengan obat"


"Siapa yang ingin melakukannya. Aku membeli teh herbal agar bisa meredakan syaraf-syarafmu yang tegang"


"Benarkah ?" Tanyaku sembari menatapnya untuk mencari tanda kebohongan dalam dirinya. Pangeran merangkul pinggangku secara tiba-tiba. Membuatku memberontak mencoba melepaskan diri.


"Kau tahu benar Yuki, Aku tidak membutuhkan obat itu untuk bersamamu. Apa Kau ingin membuktikan hal ini"


"Tidak Mau...Lepaskan Aku..Kau gila"


Namun bukannya melepaskan, Pangeran malah mendongakkan wajahku dan langsung mencium bibirku. Aku meronta mencoba melepaskan diri. Ketika Pangeran melepaskan ciumannya. Dia tersenyum penuh kepuasan sembari memandangku.


Aku langsung berjengit menjauh. Satu tanganku mengusap mulutku. Mencoba menyingkirkan sisa ciumannya di bibirku.


Aku mengesampingkan tas ke pinggang. Menengok ke sana kemari dengan berhati-hati. Aku berhasil kabur dari penginapan dan sekarang Aku berada di tengah ladang gandum yang cukup luas. Aku tidak tahu tepatnya Aku berada di mana. Aku terus melangkahkan kakiku. Berharap menemukan kereta yang dapat kutumpangi pergi ke tempat Pangeran Arana.


Aku tidak bisa membiarkan Pangeran seenaknya sendiri mengaturku. Pangeran Arana membutuhkan bantuanku. Bagaimana mungkin Aku bisa kembali ke Garduete dalam situasi seperti ini.


Kakiku terasa pegal. Aku memperhatikan ke sekeliling. Sudah berapa lama Aku pergi ?. Nyatanya Aku belum menemukan jalan keluar dari rimbunan gandum yang mengelilingiku. Aku memutuskan untuk duduk di pinggir jalan kecil. Membuka perbekalanku dan mengambil sepotong roti. Aku memakan sambil melamun. Pangeran Riana pasti sudah menyadari bahwa Aku telah menghilang. Dia pasti sangat marah. Tapi Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus melakukannya.


Terdengar derap langkah kuda dan suara roda gerobak yang menghantam bebatuan. Aku segera beringsut. Merapikan bawaanku. Memasukkan kembali ke dalam tas. Tiga orang petani duduk berjajar di depan. Satu memegang kemudi dan dua hanya duduk sembari mengobrol. Dua ekor kuda berjalan pelan mengikuti komando di belakangnya.


Aku melambaikan tanganku. Menghentikan laju kereta itu.

__ADS_1


Kereta berdencit nyaring saat Dia mengerem mendadak.


"Paman apakah Aku bisa menumpang sampai jalan menuju kota ?"


"Kebetulan Kami mau pergi ke kota. Nyonya bisa naik di belakang sana. Kami akan antar sampai tujuan"


"Terimakasih paman"


Aku bergegas menuju belakang kereta dengan bak terbuka. Naik ke dalam kereta. Kereta mulai bergerak perlahan. Derak kereta terdengar saat rodanya menghantam bebatuan di bawahnya. Aku bersandar di tumpukan jerami yang dibawa kereta ini. Merasa lega tidak harus membayangkan seorang diri berjalan di ladang gandum seperti itu.


Aku berpaling. Di sampingku ada seorang Pria yang juga bersandar. Menutup wajahnya dengan topi besar.


Kereta terus berjalan, keluar dari lahan gandum masuk ke dalam hutan.


Sepanjang perjalanan Pria di sampingku tidak mengatakan apapun. Dia hanya bersandar dengan nyamannya di atas jerami.


Pria itu adalah Pangeran Riana.


"Kau.." Kataku terkejut.


Kenapa Pangeran bisa berada di sini. Pangeran langsung mencekal tanganku saat Aku hendak beringsut menjauhinya. Aku berusaha melepaskan diri. Tapi Dia sangat kuat mencekalku. Memaksaku berdiri. Kereta beehenti. Sepertinya kusir berhenti karena mendengar keributan di belakang. Pangeran menarikku turun dari kereta. Dia mengeluarkan pedang panjang saat Tiga paman turun untuk memeriksa.


"Jika kalian ingin hidup, cepat pergi dari sini" Ujar Pangeran dingin dengan tatapan yang tajam. Membuat takut siapapun yang melihatnya.


Sontak karena ancaman itu, ketiga paman langsung masuk kembali kedalam kereta dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Tunggu dulu..Paman...Aku ikut..Tunggu"


Aku berusaha mengejar kereta yang melaju tapi Pangeran mencekalku. Menghentikanku. Dia menarikku menjauhi jalan setapak yang di gunakan.


"Kenapa Kau ini sangat susah diatur Yuki" Tanya Pangeran sembari memaksaku berjalan di depan. Kami berjalan menerobos semak berduri. Aku meringis saat kulitku tergores.


"Kau tidak bisa mengatur hidupku seenaknya. Kita tidak ada hubungan apapun"


Tanganku di tarik. Saat sadar Pangeran sudah mendorongku menabrak pohon besar di belakangku. Dia menatapku. Sangat marah.


"Lalu Kau anggap apa Nara ?" Tanya Pangeran dengan nada keras membuatku terkejut. "Aku sudah melakukan semua hal untukmu. Kenapa Kau masih tidak melihatnya Yuki ?"


Aku terdiam. Aku bukannya tidak melihatnya. Aku tahu Dia sedang berusaha memperbaiki kesalahan. Tapi Aku tidak mungkin menerimanya kembali. Pangeran Sera mengorbankan dirinya demi Aku. Dan sekarang keluarganya sedang menghadapi masalah besar. Apakah Aku bisa berbahagia dengan semua hal yang terjadi.


Pangeran memincingkan matanya. Mencoba melihat kedalam hatiku. Lalu tanpa di duga Dia menciumku. Aku gelagapan. Berusaha melepaskan diri. satu tangannya mencengkram daguku cukup kencang. Menolak keinginanku untuk melepaskan diri.


"Apa yang Kau lakukan" teriakku ketika berhasil melepaskan ciumannya.


"Jika Kau tidak bisa diajak bekerja sama. Baiklah Yuki. Mulai sekarang Aku akan bersikap keras padamu. Tidak peduli apakah Kau suka atau tidak. Aku akan membawamu ke Garduete untuk menikah. Atau.."


Pangeran mendekatkan wajahnya sehingga Kami bertatapan dalam jarak dekat. Aku melihat ancaman di dalam matanya. "Jangan pernah berharap Kau bisa melihat Nara seumur hidupmu"


"Kau tidak bisa melakukannya"


"Kau bisa membuktikannya jika Kau mau. Pikirkan baik-baik jika Kau masih ingin Nara mengenalimu sebagai ibunya"

__ADS_1


Pangeran melepaskan cengkramanku. Dia membenahi pakaiannya. Aku menatapnya kesal.


"Sekarang tentukan pilihanmu Yuki"


__ADS_2