Rising Sun

Rising Sun
41


__ADS_3

Aku merasa pusing. Apakah Raymond terikat padaku seperti Pangeran Sera dan Pangeran Riana ?. Rafael mengetahui hal ini dan memanfaatkannya. Itu jelas. Bagaimana cara bertemu Rafael dan memancing Dia keluar dari tempat perlindungannya. Aku duduk didepan komputer yang menyala. Tanganku mengetuk meja, mencoba berpikir sebelum akhirnya memindahkan keatas keyboard.


Aku menuliskan "Putri Jendral Hito" Dalam kolom pencarian. Tak berapa lama muncul foto-fotonya. Gadis yang cantik. Berambut hitam bergelombang. Memiliki mata tegas dan terbantahkan. Manja dan keras kepala. Ada beberapa fotonya bersama Raymond. Jelas publik berpikir mereka adalah pasangan. Salah satu artikel menuliskan Mereka telah bertunangan. Ada sebuah foto saat Mereka berdiri berdua di sebuah perjamuan. Si gadis menatap Raymond dengan senyum lebar, Aku melihat mata yang penuh pemujaan didalam gadis itu. Mengingatkanku kepada Putri Marsha.


Tapi sebaliknya, Raymond terlihat biasa saja. Dia terkesan acuh dan tidak peduli. Bagaimana bisa hal ini terjadi.


Aku memperhatikan lagi Putri Jendral hito yang bernama Amore itu. Dia cantik, postur tubuhnya bagaikan model. Cerdas. Tapi kejam. Seperti Putri Marsha. Dari pembicaraanku empat mata dengan Phil. Aku mengetahui Phil pernah terlibat dengan dunia hitam di masa mudanya. Saat remaja dia pernah masuk ke dunia semacam gangster. Aku sungguh tidak menduga. Karena hal semacam itu tidak tampak pada karakternya sehari-hari. Namun dalam hidupku, Aku sudah terbiasa dengan banyak kejutan. Baik yang menyenangkan atau mengerikan. Jadi Aku tidak terlalu ekstrim menanggapinya.


Kematian anak mereka ada hubungannya dengan Amore dan Rafael. Karena tidak bisa menyentuhku Mereka menyentuh orang disekelilingku.


Satu-satunya cara untuk mendekati Rafael adalah dengan Raymond. Namun Aku khawatir Pangeran Riana akan menyetujuinya. Tapi tidak ada cara lain.


Aku harus berbicara dengannya.


Malam harinya Aku baru saja menidurkan Viandra. Setelah meletakkannya di box bayi. Nara telah tidur di samping Pangeran. Bibi Sheira mengatakan lebih baik Aku tidak terlalu memanjakan anak-anak. Mereka harus diajari mandiri dengan tidur di tempat mereka sendiri. Tapi Aku merasa berat berpisah dengan Mereka. Aku pernah membaca jika anak-anak itu bertumbuh dengan cepat. Sering orang tua mengeluh, Mereka merindukan anak-anak mereka yang telah dewasa ketika Mereka sendirian dirumah. Aku telah banyak kehilangan moment bersama anak-anakku selama ini, Aku tidak ingin kehilangan lagi. Mereka adalah hartaku. Aku rela menukar segalanya yang kupunya demi mereka.


"Jika Kau melakukannya apakah Kau siap berpisah dengan Viandra ?" Tanya Pangeran ketika Aku menceritakan rencanaku. Aku mengerjap. Terkejut dengan pernyataan Pangeran. Pangeran memandangku. Tangannya meletakkan buku di pangkuannya.

__ADS_1


"Rencanamu itu memang bagus Yuki. Tapi setelah Kau bertemu dengan Rafael. Apa yang akan Kau lakukan ?. Mengajaknya duduk duduk mengobrol sambil minum kopi berdua dan membiarkan Raymond mengetahui identitas kita ?"


"Aku..." Kataku kebingungan. Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.


Pangeran mendesah. "Aku tahu Kau sudah menyelidiki mereka. Tapi kau lebih lama hidup di dunia ini Yuki. Seharusnya Kau paham apa yang terlihat di dunia maya itu tidaklah selalu benar."


Aku merasa seperti orang bodoh. Pangeran jauh bisa memikirkan hal seperti itu ketimbang Aku.


"Jika kita bertemu Rafael. Tidak akan menutupi kemungkinan identitas kita terbongkar. Selain itu pasti terjadi pertempuran yang menimbulkan korban jiwa. Kita disini sebagai rakyat biasa. Ada hukum dan aturan sendiri. Sekarang Rafael berada di golongan masyarakat tingkat atas. Jika kita berhasil membunuhnya, Kita akan dikejar oleh polisi. Mau tidak mau Kita harus kembali ke dunia kita. Karena jika kita berada di sini setelah terjadi hal seperti itu. Akan membahayakan keluargamu."


Aku diam. Jika Aku melawan Rafael Aku harus berpisah dengan Viandra. Aku baru bisa menemuinya setelah dia berumur tiga belas tahun. karena rencananya, diumurnya itu Pangeran akan membawanya kembali dan mengirimnya ke tempat dimana Pangeran pernah dilatih dan dibesarkan saat kecil. Pangeran berpikir di umur itu sebelum anak ini berusia delapan belas tahun, ketika Dia bisa mendapatkan pengakuan sebagai Pangeran kerajaan Argueda dan sekaligus perwaris tahtah yang sah, Dia sudah harus memiliki ketrampilan dan pengetahuan bertahan hidup.


Tapi jika Kami tidak mengatasi Rafael. Besar kemungkinan Dia yang akan menyerang Kami duluan. Bisa jadi Aku akan lebih banyak kehilangan.


"Bagaimana dengan Phil dan Bibi Sheira ?"


"Rafael tidak akan bodoh untuk menyentuh Mereka setidaknya secara terang-terangan. Phil sudah lama berhenti dari pekerjaannya yang terdahulu. tapi sebenarnya Dia tidak benar-benar berhenti. Sekarang Dia memang tidak mempunyai pengikut. Tapi Dia mempunyai koneksi yang kuat. Rafael pernah menyentuh keluarganya, Koneksi Phil langsung menanganinya dan memperingatkannya"

__ADS_1


"Caranya ?"


Pangeran tersenyum. "Kau lihat kakinya"


Aku menganggukan kepala. Rafael berjalan agak terpincang.


"Apa itu bukan karena pertempuran terdahulu"


"Tidak. Teman Phil yang melakukannya. Mereka membuat kakinya cacat seperti itu dan mencabut beberapa gigi Rafael. Mereka masih membiarkannya hidup karena menghormati mertuanya. Tapi jika Rafael menyentuh Phil sekali lagi. Dia akan habis dalam sekejap. Tapi bukan Rafael jika Dia tidak menemukan cara untuk menyentuh Phil dengan aman"


"Puteri jendral Hito"


"Ya...Dia mencintai Mantan pacarmu. Dan sangat membencimu. Dengan menggunakannya, Rafael bisa menyentuh Phil tanpa harus mengotori tangannya"


"Kita harus mengatasinya"


"Dan berpisah dengan Viandra. Apakah Kau siap ?"

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Melihat Viandra yang tidur lelap di box bayinya. Naluriku mengatakan bagaimana mungkin Aku siap berpisah dengannya. Tapi Aku harus melindunginya. Menyingkirkan segala bahaya yang mencoba menyerangnya.


"Ya...Aku siap"


__ADS_2