
Pangeran menginjak gasnya semakin dalam. Mobil melesat kedepan. Terdengar bunyi klakson dari sebuah truk yang Kami lewati. Aku menatap Pangeran tidak percaya. Untuk ukuran seorang pemula Dia terlalu berani mengemudikan mobil.
Tadi itu nyaris saja Kami akan celaka.
Caranya menyetir sungguh gila. Seperti adegan balapan di film fast and forious yang menjadi salah satu dari daftar film favoritku.
Setelah keadaan cukup tenang dan Aku bisa mengontrol diriku. Aku melirik ke arah belakang dan mendapati mobil yang mengikuti Kami sudah tidak nampak. Tapi Aku tidak berani berharap lebih.
"Kita lewat pinggiran kota saja. Raymond bisa melacak keberadaan kita dari kamera keamanan di sepanjang jalan" Kataku lirih.
"Tunjukan jalan"
Pangeran mengemudi dengan tenang. Nara tidur di pangkuan Bibi Sheira. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Gererou memutar sebuah musik lembut. Dia lebih menikmati kehidupan disini. Mungkin tekanan yang ada jauh lebih ringan daripada di dunia sana. Tapi, bukankah selama Kita masih hidup dimanapun tempatnya, Masalah selalu saja akan ada.
Kami hanya berhenti untuk mengisi bahan bakar. Pangeran dan Gererou bergantian menyetir. Malam telah larut. Sebentar lagi pagi.
Mobil berbelok ke jalanan kecil yang membelah hutan. Pohon-pohon terlihat di sekeliling Kami. Mengingatkanku akan hutan tempat Kami menyamar menjadi penduduk desa selama masa persembunyian dari perdana Menteri Borendo. Setelah satu jam lamanya melewati hutan, Akhirnya Aku bisa melihat laut lepas yang ada di sisi lain hutan. Aku membuka cendela. Merasakan semilir angin yang membawa aroma khas pantai ke dalam hidungku.
Mobil terus melaju. Menaiki sebuah bukit kecil. Hanya ada beberapa rumah di sini.
"Tempat ini meskipun jauh dari keramaian tapi masih terjangkau dengan tempat pembelanjaan dan rumah sakit. kalau kalian lurus ke sana. Sekitar tiga kilo kalian akan menemukan pusat kehidupan" Tunjuk Bibi Sheira sembari membuka kunci pintu dengan satu tangannya yang lain.
__ADS_1
Villa ini cukup terawat. Tingkat dua dengan bangunan khas tradisional namun dilengkapi keamanan yang modern.
"Ada dua kamar diatas dan satu kamar di bawah. Di atas kamar mandi luar dan dibawah kamar mandi dalam. Dapur, pintu belakang. Gudang kecil di luar itu"
"Cukup nyaman untuk Kami Bi" Kataku akhirnya.
"Apa kalian perlu rumah yang lebih luas ?"
"Tidak. Aku rasa ini malah lebih cocok untuk Kami. Mungkin lebih baik sementara ini Kami akan tinggal disini. Bagaimana Pangeran ?" Aku berpaling kearah Pangeran yang berdiri didepan cendela. Dari tempatnya Dia bisa melihat lalu lalang kendaraan yang menuju ke arah Kami.
"Ide bagus. Tidak boleh ada yang tahu Kami berada di sini. Aku yakin orang itu mempunyai tujuan khusus sehingga bertindak sejauh ini"
"Nalurimu cukup dangkal Yuki. Jangan tertipu hanya karena Kalian pernah bersama"
Aku ingin mengatakan sesuatu tapi Pangeran sudah keburu mengalihkan pandangannya pada jalanan di luar.
"Apakah ada orang lain selain kalian yang tahu rumah ini ?" Tanya Pangeran tiba-tiba pada Bibi Sheira.
Bibi Sheira menundukkan kepala dengan takjim layaknya seorang pelayan istana yang terdidik. "Hamba rasa tidak ada yang mulia. Vila ini di beli suami saya sesaat Putri Yuki pergi ke dunia sana dengan uang hasil kerja Putri Yuki dengan tujuan untuk investasi jika suatu saat Putri kembali. Secara sederhananya ini adalah milik Putri Yuki"
Aku mendesah. Aku senang karena Bibi Sheira memanfaatkan uangku dengan baik. Aku tahu merekalah orang yang paling bisa kepercayan untuk mengurus hasil jerih payahku selama ini. Tapi tetap saja Aku merasa kecewa. Bibi Sheira tahu Aku bisa kembali kemari. Tapi Dia tidak memberitahukan kebenarannya kepadaku karena Pangeran sendirilah yang membohongiku soal pintu dunia ini. Mereka semua berkelompot untuk menipuku.
__ADS_1
Siang itu Kami membersihkan rumah. Bibi Sheira memerintahkan seminggu sekali seorang penduduk sekitar untuk membersihkan vila ini. Sehingga Kami tidak perlu terlalu repot dengan semua debu yang ada. Aku membuka semua cendela di rumah ini. Membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam rumah.
Pangeran dan Gererou membenahi beberapa bagian rumah agar angin tidak terlalu masuk ke dalam. Setelah selesai berberes Aku membantu Bibi mempersiapkan bahan makanan sementara Nara bermain dengan senang di tengah ruangan. Aku memotong semua sayuran. Bibi menyalakan kompor dan mulai memasak.
"Aku telah memesan tiket kereta api. Sore ini Aku akan langsung kembali ke kota. Tadinya Aku ingin menelephon Phil namun Aku khawatir itu malah akan membuat keberadaan kalian mudah di ketemukan"
"Apakah Bibi akan baik-baik saja sendiri. Mungkin Gererou bisa menemani Bibi pulang"
"Tidak perlu. Dia lebih baik berada di sini"
"Tapi..." Kataku ragu. Perjalanan kembali ke kota sangatlah jauh. Bagaimana jika Raymond nekat dan menemukan bibi sendiri"
"Jangan terlalu khawatir. Bibi harus menemui pamanmu agar surat-surat kalian segera di selesaikan."
"Biar Gererou saja yang mengantar" Kata Pangeran yang tahu-tahu sudah berada di dekat Kami. "Setelahnya Dia bisa kembali kemari. Dia cukup berkemampuan untuk menjagamu"
Nada bicara Pangeran seperti seorang Raja yang memerintahkan anak buahnya. Padahal jika Aku pikir lagi, Gererou adalah orang Argueda. Dia tidak punya kewajiban untuk mengikuti perintah Pangeran Riana. Hanya Pangeran Sera lah yang boleh memerintahkannya.
Gererou menatap Pangeran dengan nada protes. Tapi Dia tidak menolak anjuran untuk mengantarkan Bibi Sheira.
"Kalau sudah begini Aku jadi tenang"
__ADS_1