Rising Sun

Rising Sun
32


__ADS_3

Aku berdiri di tengah simbol bersama Pangeran Riana dan Gererou. Nara tertidur lelap dipundak Pangeran. Sementara itu Pendeta Serfa berdiri di atas altar. Merampalkan mantera dengan cepat sehingga suaranya nyaris seperti dengungan lebah.


Aku sudah lama tidak pernah melihat Serfa lagi. Semenjak di hutan itu. Dugaanku, Pangeran Riana ,menyuruhnya untuk menghindari pertemuan denganku sebisa mungkin. Dia tampak tenang saat bertemu denganku. Seolah tidak pernah terjadi apapun. Aku berusaha mengendalikan emosiku. Mencoba tetap tenang dan tidak terpengaruh pertemuan dengannya. Awalnya terasa sulit. Namun senyuman Nara mampu menyadarkanku bahwa hanya dialah yang bisa membawaku ke dunia sana. Aku harus bisa mengesampingkan perasaanku dan menggunakan logikaku.


Kami berangkat lebih cepat daripada rencana karena pergerakan Perdana Menteri Borendo yang begitu agresif. Argueda babak belur dihajar olehnya. Tapi beruntung Pangeran Arana mendapat bantuan dari negeri-negeri tetangganya yang selama ini berteman dengan Argueda. Garduete memberikan bantuan meskipun tidak banyak. Karena di negeri ini sendiripun sedang menghadapi serangan-serangan dari negara lain yang memanfaatkan situasi untuk menghancurkan Garduete. Mereka datang kemari dengan tujuan membantu mengamankan dunia tetapi juga mencari celah untuk mencari kelemahan Garduete. Saat Garduete berusaha memperbaiki kondisi negaranya, Mereka malah melancarkan serangan.


Membuatku berpikir siapakah sebenarnya iblis yang sesungguhnya di dunia ini ?.


Pendeta Serfa berteriak nyaring. Membuyarkan lamunanku. Simbol mulai bergerak disekeliling Kami. Aku memperhatikan Gererou. Kesetiaannya benar-benar luar biasa. Dia rela pergi ke dunia yang tidak dikenalnya untuk mengawal anak Pangeran Sera. Jika nanti Aku harus kembali ke dunia ini. Anak ini akan bersama Gererou sampai saatnya Dia kembali. Pangeran mengenggam tanganku dengan satu tangannya yang bebas. Sebuah blackhole putih muncul didepan Kami. Dengan langkah mantap, Kami masuk ke dalamnya.


Kami berhasil kembali kedunia tempatku pernah dibesarkan. Terdampar di ruangan suci yang kukenali. Aku beruntung tidak pingsan. Nara mengalami mual yang hebat. Wajar mengingat perjalanan yang Kami lalui bukan perjalanan yang menyenangkan. Bibi Sheira masuk kedalam kamar. Mungkin Dia mendengar suara yang tidak seharusnya ada. Aku terkejut melihat bibi Sheira jauh lebih tua daripada yang kuingat. Sudah berapa lama Kami tidak bertemu ?. Aku menghitung dalam hati dan menyadari delapan tahun sudah berlalu.


"Yuki.." Seru Bibi Sheira tidak percaya. Aku langsung berlari memeluk Bibi erat. Tangis Kami pecah.

__ADS_1


Aku tidak percaya bisa bertemu dengannya lagi.


Kami berpelukan sampai Kami merasa cukup tenang. Bibi sheira menundukan kepala penuh hormat kepada Pangeran Riana. Dia terkejut saat melihat Nara.


"Ini anakku bi..Nara" Bisikku lirih. Bibi sheira tersenyum senang. Dia menggapai Nara. Mengambilnya dari pelukan Pangeran Riana. Ada keharuan di matanya. Seperti seorang nenek yang pertama kali bertemu cucunya.


"Dia sangat tampan" Kata Bibi sheira senang.


"Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat. Nara juga perlu mandi dan berganti pakaian"


Aku mengangguk setuju.


Aku duduk di teras memperhatikan jalan didepanku. Sebuah mobil baru saja berbelok di ujung gang. Aku merapatkan sweaterku. Terkejut saat mengetahui bibi Sheira tetap mempertahankan kamarku meskipun Aku sudah tidak tinggal di sana. Pakaianku masih ada. Beberapa masih bisa kugunakan. Phil mengajak Pangeran dan Gererou untuk berbelanja pakaian. Aku hampir tidak bisa menyembunyikan tawaku saat melihat ekpresi aneh di wajah Gererou ketika melihat mobil berjalan. Pangeran terlihat tenang, Namun Aku tahu dia tegang. Dia sedang mempelajari kehidupan di sini. Firasatku setelah seminggu Mereka akan bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di dunia ini. Aku tidak perlu terlalu khawatir.

__ADS_1


Terdengar gelak tawa Nara. Bibi sheira berada di halaman sedang bermain dengan Nara. Entah kebetulan atau bukan. Bibi Sheira dan Phil telah kehilangan putra semata wayang mereka yang masih berumur 5 tahun dalam sebuah kecelakaan. Sebuah mobil melaju kencang dan menabrak sebuah toko kue. Naas, anak mereka yang bernama Sam, saat itu berdiri di cendela sembari menghitung bis yang lewat ketika mobil itu menghantamnya. Sam tewas di tempat. Mungkin ini yang menyebabkan Bibi Sheira terlihat lebih tua daripada seharusnya. Kesedihan telah memakan usianya.


Aku berdiri. Perutku terlihat bergerak. Anak ini lebih aktif ketimbang saat Aku mengandung Nara. Bibi Sheira menyadari ketika Aku mendekatinya. Baik Phil dan Bibi menyambut ketika Kami menyampaikan untuk tinggal disini sampai anak yang ada di dalam kandunganku berumur dua tahun. Mereka tidak keberatan jika nanti Gererou ikut bersama Mereka. Gererou akan tinggal di bangunan kecil di samping rumah Kami yang biasa disewakan untuk tempat tinggal. Dengan begitu Dia bisa terus berada di dekat anak ini nanti. Selain itu juga, Dia akan lebih bebas untuk melakukan aktifitasnya tanpa merasa canggung ketimbang jika Dia harus tinggal bersama dengan Bibi Sheira dan Phil.


Phil berjanji akan mengurus surat-surat untuk memudahkan Gererou selama Dia tinggal disini. Aku menjadi lega mendengarnya.


"Apa Kau lapar ?" Tanya Bibi Sheira cemas melihatku kepayahan saat berjalan dengan perut yang semakin besar.


"Aku khawatir Nara membuat Bibi capek"


"Kau ini..Dia anak yang sangat manis. Mana mungkin Aku merasa capek mengurusnya. Kalau Kau mau. Biarlah semua anak-anakmu Aku yang mengurusnya. Aku akan senang hati merawat Mereka"


Aku meringis mendengar seloroh Bibi Sheira. Bibi sheira telah mengetahui semua kisahku selama ini. Dia juga bersedia untuk merawat anakku saat nanti Aku terpaksa harus meninggalkannya demi keamanannya. Aku merasa bersyukur memiliki bibi sebaik Dia.

__ADS_1


__ADS_2