
"Itu waktu yang sangat lama..." Kataku lemas.
"Apa Kau mengharapkan anak ini harus terjerumus dengan permasalahan kerajaan diusia dini"
"Tidak. Dunia kerajaan sangat kejam. Kita tidak bisa menduga siapa musuh siapa kawan. Semuanya abu-abu"
"Bagus jika Kau paham. Saat Kau menjadi Ratu nanti...Kau harus ingat akan hal itu baik-baik sepanjang waktumu"
"Apa Aku boleh bertanya satu hal padamu ?" Kataku akhirnya. Pangeran menatapku. Dia terlihat tenang.
"Jika saat Aku kembali dulu setelah menghilang dari kehidupan kalian...Dan Tidak ada hal yang bisa membuatku kembali jadi calon Ratu. Apa yang akan Kau lakukan ?"
"Aku akan menikahi Marsha" Aku mengerjap menatap Pangeran dengan ekpresi terkejut. "Dia menyukai posisi itu....Dia bisa bekerja sebagai Ratu. Dan Kau...Aku akan membawamu sebagai simpananku"
"Apa ?" Kataku tergangga oleh ucapannya.
"Kau tidak harus berada di bawah Marsha sebagai seorang Ratu. Dengan statusmu itu, Aku bisa selalu membawamu pergi bersamaku. Tinggal di kamarku. Tidak ada yang akan menganggap aneh hal itu"
"Aku tidak percaya Kau mengatakannya dengan lancar"
"Apa Kau lebih senang jika Aku berbohong padamu ?"
"Kau menikahi Marsha hanya agar ada orang yang menghadiri upacara-upacara kerajaan"
"Benar..Jadi Aku bisa bersama dengan simpananku jika tidak ada yang bisa membawamu kembali jadi Ratuku"
"Kau kejam"
__ADS_1
"Marsha mendapatkan keinginannya Akupun juga mendapatkan keinginanku. Ini perjanjian yang adil"
Aku menutup telingaku dengan kesal. Menyesal telah bertanya hal seperti itu padanya. Pangeran tersenyum. Aku merebahkan diriku di samping Nara. Dia langsung memelukku dari belakang. "Apa lagi yang Kau tanyakan. Kenapa tidak menanyakan bagaimana rasanya bercinta denganmu ?"
"Aku tidak mau mendengarnya" Kataku gusar. Pangeran mengecup keningku.
"Sudah malam. Istirahatlah" Katanya tenang. Terasa gerakan saat Dia mematikan lampu di samping tempat tidur. Kami tidur di kamarku. Bibi Sheira langsung menganti ranjangku dengan Ranjang yang lebih besar ketika Kami datang. Di bawah terdengar Phil sedang asyik berdebat dengan Gererou. Mereka sedang bermain catur ketika Aku meninggalkan Mereka. Phil tidak terima kalah dua kali oleh Gererou. Mungkin sebentar lagi Bibi Sheira akan mengatasi keduanya untuk mau pergi ke kamar masing-masing dan melupakan permainan mereka.
"Kenapa Kau tidak mau membiarkanku mengendarai mobil itu ?" Tanya Pangeran sembari menyusulku berjalan menyusuri jalan kota. Kami akan pergi ke rumah sakit tempat Phil kerja untuk mengecek kandunganku. Berkat koneksi Phil, Kami mendapatkan identitas Kami dan surat-surat yang Kami butuhkan selama tinggal di sini.
Pangeran mengenakan pakaian casual dengan rambutnya diikat kebelakang. Aku merasa beberapa wanita menatapnya dengan kerlingan menggoda saat Kami melewatinya. Jelas Aku tidak tampak di mata para wanita itu.
"Aku akan membiarkanmu menyetir mobil jika Kau sudah ikut kursus menyetir mobil. Aku tidak mau mengambil resiko apa-apa Pangeran"
Aku bergegas naik ke sebuah bus yang berhenti di halte. Pangeran mengikutiku dari belakang. Kami duduk di kursi paling belakang. sepasang kekasih menoleh melihatku. Mereka tidak terfokus pada Pangeran. Tapi melihatku. Mengenaliku. Aku menunduk. Memakai masker yang berada di daguku. Mencoba menyembunyikan wajahku. Pangeran melihat gelagatku. Dia menggeser badannya maju menutupi pandangan dua kekasih itu. Aku bersumpah, si perempuan membuka handphonenya dan masuk di situs pencarian.
"Yuki...Anda itu Yuki kan...Penyanyi wanita yang menghilang itu" Tanya si Pria mencegahku berjalan ketika Kami hendak melewatinya. Aku menggelengkan kepalaku berbohong.
"Aku adalah Fans Anda...Aku tidak mungkin salah"
Semua penampang tampak memandangku. Terdengar bisik-bisik disekitarku.
"Apakah ini suami anda"
"Maaf, Kami sudah ada janji dengan dokter. Tolong jangan menghalangi jalan" Kata Pangeran menengahi dengan wajah dingin. Pria yang menyapaku terkejut. Refleks Dia mundur kebelakang. Tampaknya Dia cukup pandai untuk tidak mencari masalah dengan Pangeran.
Aku bergegas turun bis. Beberapa orang tampak jelas sedang memotretku menggunakan Handphone Mereka. Sial. Kenapa masih saja ada yang mengenaliku.
__ADS_1
"Kau cukup terkenal disini" Tanya Pangeran ketika Kami sudah jauh dari bus tadi. Aku melihat kesekeliling. Memastikan keadaan sudah aman.
"Dulu Aku berkerja di dunia hiburan"
"Kau penghibur ?" Kata Pangeran dengan nada tidak suka.
"Dunia hiburan..Bukan penghibur.." Kataku kesal.
Pangeran menggengam tanganku. Dagunya menunjuk rambu lalu lintas yang berwarna merah untuk pejalan kaki. "Bagaimana bisa Pangeran menyesuaikan diri secepat itu di dunia ini. Apa Pangeran tidak merasa tegang ?"
"Aku dibesarkan untuk cepat beradaptasi di lingkungan manapun. Sebagai seorang Raja nantinya Aku dituntut harus bisa bersikap tenang di setiap kondisi"
"Apa di istana disediakan ubi hutan ?" Pangeran dengan statusnya bahkan bisa memakan ubi hutan saat Kami menyamar menjadi penduduk desa. Dia bahkan mengerti rumput-rumput yang bisa dijadikan obat atau tanaman mana di dalam hutan yang bisa di makan. Agak aneh jika Dia menemukan pengetahuan ini di istana.
"Saat kecil Ayah mengirimku ke pedalaman hutan untuk keamananku. Saat itu baru saja pergantian Raja baru. Meskipun Ayah adalah perwaris tahtah yang sah. Namun ada saja yang ingin merebut kekuasaan itu. Ayah menyembunyikan keberadaanku disana. Aku baru tahu jika Aku adalah perwaris tahtah saat usiaku tujuh belas tahun"
"Tidak heran kalau Kau terbiasa hidup jadi orang pedalaman" Selorohku.
"Kita nanti akan seperti itu Yuki. Kau harus menguatkan mental untuk berpisah sejenak dengan anak-anakmu jika terjadi kondisi yang tidak memungkinkan"
"Aku mengerti"
"Kau sudah menikah denganku. Aku akan melindungimu seumur hidupku tapi Kau juga harus bisa bekerja sama untuk itu"
"Aku sudah banyak melalui hal berat bersamamu"
"Akan banyak lagi yang menanti kita di depan"
__ADS_1