Rising Sun

Rising Sun
42


__ADS_3

Pangeran mempersiapkan segala sesuatunya. Dibantu Gererou Dia mulai memata-matai, menyelidiki soal kehidupan Rafael. Butuh waktu yang cukup lama untuk melakukan perencanaan ini. Selama itu adalah hari yang cukup berat untuk Kami. Kami harus pandai bersembunyi. Agar keberadaan Kami tidak terendus oleh siapapun.


Tapi Kami sadar, Tidak bisa selamanya Kami bersembunyi.


Akhirnya empat bulan, Atau tepat saat Viandra berumur 7 bulan. Kami sudah sangat siap melakukannya. Semua rencana sudah tersusun dengan segala kemungkinannya.


Aku memeluk Viandra di dadaku. Meresapi aromanya yang khas. Berusaha bersikap tegar. Ini sudah jadi keputusanku. Seminggu yang lalu Aku menyapihnya. Rasanya begitu berat saat mendengar tangisan yang mencariku. Meminta asi ku. Tapi Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak tahu apakah setelah rencana kami ini berjalan Aku masih bisa berjumpa dengannya.


Berpisah dengan anak terasa berat.


Seperti Nara. Viandra sudah menghadapi banyak bahaya sejak dalam kandunganku. Jika Aku boleh memilih. Aku ingin hidup sebagai orang biasa.


Berkumpul bersama anak-anak dan orang yang kusayangi.


Aku membayangkan sebuah rumah di desa. Sederhana. Dengan perkarangan yang luas. dipagari oleh deretan batang bambu yang disusun tinggi dengan pola tertentu. Aku akan menanam beberapa jenis mawar merambat di luar pagar. Mungkin juga didalamnya.

__ADS_1


Di pekarangan. Ada aliran sungai kecil dengan pancuran dari batang bambu. Aku akan menanam beberapa jenis pohon, beberapa jenis sayuran dan membuat sekeliling rumah penuh warna dengan beberapa jenis bunga. Setiap sore Aku akan duduk di teras bersama Anak-anak dan suamiku. Duduk berbincang seperti keluarga normal. Sambil menikmati pemandangan didepan Kami.


Setiap hari selama hidupku, Aku selalu dihadapkan kenyataan untuk bertahan hidup. Tapi, kehidupan desa seperti bayanganku, adalah benar-benar hidup. Aku rela menukar apapun untuk itu.


Pangeran Riana datang. Dia sudah siap. Phil membawa Nara ke rumah sembunyi. Sementara Bibi Sheira akan berada disini seorang diri bersama Viandra. Phil meyakinkanku bahwa rumah ini aman. Jika terjadi sesuatu Bibi Sheira bisa langsung membawa Viandra bersembunyi di ruang rahasia. Ruangan itu kedap suara. Tangisan Viandra tidak akan terdengar keluar rumah. Selain itu ruangan itu juga terdapat lorong yang membawa Bibi keluar jauh dari rumah ini. Jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk didalam rumah.


Pangeran sudah mempersiapkan segala keperluan Viandra didalam ruangan itu. Meminta Bibi Sheira tidak meninggalkan ruangan itu sampai salah satu dari Kami datang menjemput. Ada beberapa makanan jika Bibi lapar. Phil mengaktifkan sistem keamanan.


"Kalian berhati-hatilah" Kata Bibi Sheira saat Aku menyerahkan Viandra padanya. Aku menganggukan kepalaku. Mataku berkaca-kaca menahan air mata. Belum-belum Aku sudah sangat merindukan anak ini.


"Jangan keluar dari ruangan ini" Kata Pangeran lagi mengingatkan Bibi. Bibi Sheira menganggukan kepala dengan hormat.


Aku berbalik dengan cepat sebelum pertahananku runtuh. Berjalan menuju pintu keluar. Air mataku sudah tidak bisa kutahan. Aku menangis.


Rasanya berat. Meninggalkan anakku. Perasaan sedih dan terluka menghantamku secara bersamaan.

__ADS_1


Pangeran merengkuhku dari belakang. Mencoba menenangkanku. "Aku tahu ini yang terbaik saat ini. Tetap saja rasanya berat"


Pangeran tidak mengatakan apapun. Dia diam. Membiarkanku menangis. Setelah Aku cukup tenang. Pangeran menuntunku kedalam mobil.


"Tidurlah" Katanya sebelum menginjak gas. Mobil meluncur dijalanan. Aku menatap nanar pada rumah kecil yang Kami tempati beberapa minggu ini. Ada bagian diriku didalamnya.


Perlahan rumah itu menghilang dari pandangan. Aku mencoba menahan diri untuk memohon pada Pangeran agar Kami kembali. Aku harap Viandra saat cukup umur, memahami kenapa Aku harus meninggalkannya.


Aku tidak punya pilihan.


Aku dan Pangeran menginap di sebuah penginapan sederhana. Tempat dimana banyak transaksi antara Pria dan wanita yang kemudian menjurus ke atas tempat tidur. Tempat ini cukup aman. Hanya ada CCTV di resepsionis. Mempunyai akses keluar masuk yang banyak namun aman. Para Preman penjaga memastikan para tamu tidak membuat keributan. Aku sebenarnya agak sungkan saat harus ke tempat ini. Apalagi dengan pandangan mata pria hidung belang yang menatapku. Pandangan mata mereka seperti menelanjangiku dalam pikiran Mereka. Pangeran terus berada di sisiku. Bersiap jika ada satu Pria mencoba berani untuk menyentuhku.


Kami tidak.bisa pergi ke penginapan yang lebih baik. Ada banyak keamanan dan Aku khawatir Kami akan lebih mudah di kenali. Jadi suka atau tidak suka. Aku harus menahan diri tinggal semalam di sini. Jika boleh memilih Aku lebih baik tinggal di kandang kerbau saja daripada ditempat ini.


Pangeran membuka kunci sebuah kamar. Dari jauh, dari balik sebuah pintu disalah satu kamar terdengar raungan dua pasangan yang memadu kasih. Suara mereka terdengar lebih kencang daripada suara desahan lain di kamar-kamar yang tertutup. Wajahku memerah. Aku menjadi malu sendiri mendengarnya. Pangeran tampak lebih tenang, Seolah desahan itu tidak terdengar di telinganya.

__ADS_1


Kamar ini hanya berisi satu buah ranjang kecil dengan meja dan kursi dari kayu. Ada bekas beberapa sudutan rokok di meja. Dindingnya dilapisi pelapis berwana kusam. Jelas memang kamar ini bukan untuk orang yang sedang berlibur.


Pangeran membuka jaketnya. Ada Sebuah pistol berada di pinggangnya. Phil mengatakan kemampuan Pangeran memegang senjata seperti seorang tentara terlatih. Dari suaranya Aku paham jika Phil menganggumi Pangeran.


__ADS_2