
"Kau ingin mandi dulu ?" Tanya Pangeran sambil melepaskan kemejanya. Pangeran menyalakan kipas angin kecil yang dipasang diatas tempat tidur. Udara memang sedikit pengap. Sebentar lagi hujan akan turun. Aku menatap keluar dengan gugup.
"Ya.." Bisikku lirih. Pangeran meraih handuk dan peralatan mandi dari tas yang dibawanya. Menyodorkan padaku. Aku menerimanya sambil menundukkan kepala. Tanpa mengatakan apapun lagi Aku menuju kamar mandi kecil. Hanya ada ember ukuran sedang, dan toilet jongkok. Beruntung Aku membawa peralatan mandi. Aku membuka kran. Melepaskan pakaianku. Perlahan mengguyurkan air ke badan dan rambutku.
Aku mengosok seluruh tubuhku. Sebuah cermin terpasang di dinding. Aku memperhatikan bayanganku. Tubuhku sudah banyak berubah. Terutama dadaku. Tidak sekencang dulu. Perutku masih menunjukan bekas kehamilanku, Aku sudah berusaha berolahraga untuk mengatasinya disela kesibukanku mengurus anak dan rumah. Tapi memang jika sudah melahirkan tubuh tidak akan lagi sama ketika kita masih gadis. Pangeran sendiri seperti tidak mempermasalahkannya.
Tapi, Aku berpikir lagi. Pangeran tidak pernah menyentuhku setelah Aku melahirkan Viandra. Mungkin Dia melihat bagaimana perjuangan dan luka-lukaku waktu itu. Namun itu sudah enam bulan yang lalu.
Wajahku memerah.
Apa yang sedang kupikirkan. Suasana ini..Hanya Kami berdua.
Aku mengambil gayung dan mengguyur kembali seluruh tubuhku. Mencoba mengenyahkan pikiran bodoh yang mengeliat didalam kepalaku.
Jika Pangeran mengetahuinya, Dia akan berpikir aku terlalu murahan.
setelah selesai mandi. Aku mengeringkan diriku dan memakai pakaian. Saat Aku keluar, Pangeran sedang menelephone seseorang sembari duduk di pinggir ranjang, Aku duduk membelakanginya. Tidak terdengar jelas apa yang diucapkan orang dibalik telephone itu. Tapi terlihat sekali Pangeran merespon serius ucapan orang itu. Pangeran tidak mengatakan apapun. Dia hanya mendengarkan. Setelah itu Pangeran menutup telephonenya tanpa mengatakan sesuatu.
"Apa telah terjadi sesuatu yang serius ?" tanyaku khawatir saat melihatnya diam. Memandang cendela di depannya dengan mata menyimpit, Nyaris membentuk sebuah garis lurus.
"Tidak. Gererou mengatakan bahwa Dia sudah menghubungi Serfa. Begitu Kita memberi tanda, Dia akan membuka pintu penghubung"
Aku diam.
__ADS_1
Artinya Aku hanya akan melihat Aviandra melalui sebuah cermin sampai Dia cukup besar dan aman dibawa kembali ke dunia asalnya.
Pangeran melirikku sesaat. Kemudian Dia berdiri masih bertelanjang dada. Menuju kamar mandi. Aku mendengar suara pintu di tutup dan kemudian guyuran air dari dalam kamar mandi.
Aku bersandar di ujung tempat tidur. Merenungi rencana Kami. Rafael kelak bisa menjadi bahaya untuk Aviandra, jika tidak segera dihentikan. Kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Sementara Kami berada jauh darinya. Dari Gererou Aku mengerti Pangeran juga tidak mungkin berlama disini. Kesehatan Raja menurun. Dia harus kembali ke negaranya untuk menggantikan raja sementara waktu. Ada desas-desus Raja sedang di guna-gunain salah satu istrinya yang berkomplot menggulingkan kekuasaan Raja.
Dulu Aku tidak mempercayai mistik. Tapi setelah Aku melihat naga itu ada, sihir itu nyata....Aku mulai ragu jika mistik seperti guna-guna itu hanya legenda.
Aku kembali menghela nafas.
Jika benar desas desus itu, Kerajaan dalam bahaya. Karena itukah Pangeran tampak tegang akhir-akhir ini. Dia tidak mengatakan apapun padaku, Tampaknya Dia tidak ingin menambah beban pikiranku. Namun itu salah, Kami sudah menikah. Harus saling berbagi suka dan duka. Tidak hanya Aku saja yang terus mendapatkan bantuannya.
Terasa sebuah tangan menggapai rambutku. Aku terkejut dan memalingkan wajahku. Tanpa kuduga sebuah ciuman yang menuntut seluruh perhatianku mendarat di bibir. Aku menjauhkan wajahku. Tapi kedua tangannya menahanku.
Ketika Aku berhasil melepaskan diri. Aku melihat sepasang mata berwarna biru es menatapku.
"Pangeran" Kataku dengan nafas terenggah karena ciumannya yang begitu lama dan penuh tuntutan.
"Apa yang sedang Kau pikirkan" Tanya Pangeran sembari mendekatiku kembali. Tangannya merengkuhku mendekat. Dalam sekejap Aku sudah berada di atas pangkuannya. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Tercium aroma sabun mandi. Kulitnya terasa lembab, dengan tetesan air yang menetes dari rambutnya.
"Aku memikirkan Pangeran" Akuku gugup.
"Aku...Kenapa ?" Tanyanya dengan senyum yang mampu membuatku meleleh. Aku buru-buru menghindari tatapan matanya, Khawatir akan semakin terpesona olehnya.
__ADS_1
"Gererou sudah menceritakan semua. Kenapa Pangeran tidak mengatakan apapun padaku ?"
"Termasuk kemungkinan Aku harus menikahi wanita lain untuk mencari sekutu ?"
"Ya.." Bisikku lirih.
"Aku sudah pernah bersumpah padamu tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu. Tapi sekarang, jika Aku melakukannya artinya Aku tidak punya jalan lain untuk menyelamatkan negeri. Apa Kau bisa memahaminya ?"
Aku menganggukan kepalaku pelan.
"Gadis baik" Bisik Pangeran pelan.
Pangeran merengkuh wajahku. "Selamanya Kau hanya satu-satunya wanitaku"
Pangeran mengatakan itu lirih seolah itu hanya sebuah gumanan untuk dirinya sendiri. Dia kemudian mendekatkan wajahnya dan menciumku. Aku membalas setiap sentuhannya. Ciumannya bahkan lebih menuntut daripada yang sudah-sudah. Seperti Kami adalah sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Tanpa masalah yang bisa membahayakan nyawa Kami.
Aku memeluk Pangeran. Membiarkannya leluasa menyentuh setiap bagian tubuhku. Pangeran menciumi leherku. Tangannya membantuku melepaskan pakaianku. Melemparkannya entah di mana.
Aku menatap Pangeran sesaat sebelum membiarkannya memasuki tubuhku.
Terasa desahannya di telinganku. Memberikan reaksi pada setiap sel dalam tubuhku.
Aku bangun....mendapati Pangeran sudah tidak berada di atas tempat tidur. Dia berdiri didekat meja, Tak jauh dari cendela, sembari menuangkan segelas teh di cangkir. Pandangannya menatap ke depan.
__ADS_1