Rising Sun

Rising Sun
47


__ADS_3

Aku berhasil menggigit bibir Rafael. Dia berteriak dan melepaskan diri. Matanya memandangku dengan kemarahan yang besar.


Plaak !!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Sakit. Darah mengalir di sudut bibirku. Aku berusaha tidak terlihat gentar. Kedua kakiku mengapai-gapai lantai saat tubuhku bergoyang akibat tamparannya. Akhirnya Aku berhasil menyeimbanhkan badanku lagi. Pergelangan tanganku terasa sakit akibat menahan beban dari tubuhku.


"Menyenangkan, Mengetahui Kau masih liar seperti dulu Yuki"


"Kau pasti selalu membayangkan diriku setiap hari. Saat Kau mengetahui dunia ini adalah asalku. Aku bisa membayangkan bagaimana antusiasnya dirimu untuk menganggu orang-orang yang Aku cintai di sini. Kau memanfaatkan Raymond. Mengusik ketenangan Bibiku. Semua hanya karena satu hal. Kau tidak pernah melupakanku"


"Kau terlalu menilai tinggi dirimu"


"Tidak. Aku tidak perlu meninggikan diriku didepanmu. Aku mengatakan kebenarannya."


"Kebenaran ?" Raymond tertawa geli memandangku.


Aku balas menatap matanya dengan penuh keyakinan. "Ya. Kebenaran yang berusaha Kau tutupi. Kau..Jatuh cinta padaku. Benarkan"


Wajah Raymond berubah masam. Ada sorot kebencian dalam sinar matanya. "Apa setiap malammu Aku selalu ada dalam mimpimu ?. Apa Kau selalu membayangkan diriku ketika Kau sedang menyentuh wanita lain"


"Diam !!"


Plakkk


Sebuah tamparan kembali mendarat dipipiku. Aku tersenyum mengejek pada Rafael. Dugaanku benar. Dia terikat olehku. Seperti Raymond. Seperti Pangeran Riana. Seperti Pangeran Sera. Seperti Bangsawan Voldermon dan Bahkan Aku berusaha tidak ingin mengakuinya..Tapi Aku tidak bisa berbohong jika Lekky terikat padaku. Dia cukup gila untuk memandangku seperti seorang laki-laki normal memandang seorang wanita. Aku berusaha tampak bodoh dan tidak mengerti itu didepannya. Tapi dengan kemampuan yang Dia miliki, Sangat sulit untuk dilakukan. Lekky bahkan tidak peduli dengan hubungan darah diantara Kami.


Sungguh Aku tidak ingin ada kegilaan lain lagi dalam hidupku. Kadang Aku bertanya setelah menikah dengan Pangeran Riana, Apakah Pangeran Riana mengetahui jika Lekky tidak memandangku seperti seorang kakak pada adiknya ? .


"Obsesimu padaku membuatmu gila"

__ADS_1


Kami berpandangan dalam diam. Terdengar suara derit pintu dibuka. Mengalihkan ketegangan yang terjadi diantara Kami.


"Apa Kau tau dimana Raymond ?" Tanya Amore saat melenggang masuk. Menghampiri Rafael dengan penuh curiga. Dia berhenti menatap Kami berdua secara bergantian menyadari ketegangan situasi diantara Kami.


"Ooh.." Katanya ketika melihat luka di bibir Rafael.


Amore mengalihkan pandangan kepadaku. Dia terlihat lebih dingin dan kejam ketimbang Putri Marsya. Aku merasa seolah Dia bisa menelanku bulat-bulat jika Dia bisa melakukannya.


"Jadi Dia wanita yang membuatmu bersikap bodoh ?"


"Urusi saja urusanmu Amore" Bentak Rafael dengan nada tinggi. Membuat Amore terdiam. Dari ekspresinya, Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Rafael akan berani berkata dengan nada tinggi itu kepadanya. Namun, Amore dengan cepat menyembunyikan rasa kagetnya. Dia bersikap acuh dan dingin.


"Aku mencari Raymond" Kata Amore kemudian.


"Aku akan membawanya kemari saat Aku tahu Dia harus mati"


Amore menelengkan kepada. Memandang Rafael tidak suka.


"Apa Kau menemukannya di sini ?" Rafael memandang kesekeliling. Ruangan ini hanya ada Kami bertiga. "Aku tidak berharap Dia ke sini dan mengetahui segala bisnis kita. Jika itu sampai terjadi. Kau tinggal memilih siapa yang harus membunuhnya Amore"


"Aku akan mencarinya. Hey Rafael, Jika Kau selesai dengannya. Beri Aku kesempatan untuk membunuhnya dengan tanganku" Amore mengalihkan matanya menatapku dengan pandangan penuh arti. Rafael tidak menjawab. Amore juga tidak menunggu jawaban Rafael. Dia melenggang pergi meninggalkan ruangan. Seorang Pria berpakaian set jas hitam masuk mengantikan Amore.


Pintu ditutup dibelakang.


"Aku ingin kalian bersiaga. Jika Kau menemukan apa yang kucari. Bawa Dia kemari hidup atau mati" Perintah Rafael dengan nada angkuh. Dia seolah menunjukan bagaimana berkuasanya Dia di sini.


"Semua sudah sesuai perintahmu tuan. Sampai sekarang Kami belum melihat tanda-tanda kemunculan orang itu" Aku yakin yang Dia maksud pastilah Pangeran Riana. Orang itu terdiam beberapa saat. Nampak ragu.


"Ada yang lain" Tanya Rafael yang bisa melihat keraguan dari nada bicara pegawainya.

__ADS_1


"Tiga orang penjaga ditemukan tewas.Dari Kamera keamanan. Kami menemukan Raymond memasuki area Kita"


Rafael berdecak tak suka. "Bunuh Dia"


"Bagaimana dengan Nona Amore ?"


Rafael berbalik. Menodongkan pistol di kepala penjaga. "Aku tidak suka mengulangi perintah. Kau mengerti ?"


"Baik Tuan"


"Jika Amore menghalangi kita. Bunuh Dia juga"


"Baik"


Penjaga itu keluar setelah memastikan tidak ada perintah lagi dari Rafael.


"Aku menyangka suamimu yang datang. Tidak Aku sangka malah mantan kekasihmu yang muncul"


Aku menutup mulutku. Diam. Dalam hati mengutuk kenekatan Raymond menerobos kemari. Apa yang sebenarnya Dia cari. Dia bahkan bertindak bodoh dengan terlihat di kamera pengaman.


Rafael berjalan menjauh. Aku mulai mendengar suara tembakan dan langkah kaki berlari. Perasaanku menjadi tidak karuan. Di atas Kami debam dari sepatu yang berbentur dengan lantai terdengar begitu nyaring. Ada lebih dari sepuluh orang berlari. Suara tembakan berubah menjadi Rentetan yang tidak berhenti. Debam keras terdengar. Suara dari tubuh yang jatuh ke lantai.


Pertempuran diatas sana.


Siapa ?


Apakah Pangeran Riana ? Ataukah Raymond.


Rafael masih berdiri dengan tenang. Dia tidak terganggu oleh keributan di atas sana. Dengan santainya Dia menarik sebatang cerutu. Lalu menghisapnya dalam. Aku berusaha memposisikan kakiku yang mulai Kram akibat terlalu lama berjinjit untuk mempertahankan posisiku agar tidak goyang.

__ADS_1


Ledakan keras terdengar. Aku menutup telingaku dengan lengan. Kericuhan semakin jelas terjadi.


__ADS_2