
Apakah karena itu Dia mengumpulkan semua orang yang kusayangi di sini.
Sebagai Hadiah untukku.
Jika benar Aku sangat berterimakasih padanya. Aku berterimakasih karena Aku bisa melihat Mereka semua diakhir hidupku.
Tampak bahagia...
Raymond menggeser duduknya mendekatiku. Aku menepuk-nepuk punggung tangannya. Menenangkan. Mencoba mengusir kesedihannya.
"Terimakasih untuk selama ini..." Bisikku lirih. Rasanya Aku sangat mengantuk. Aku ingin memejamkan mata dan tertidur. Aku berusaha mati-matian untuk menahan rasa kantuk itu. Hal ini seolah menghabiskan seluruh tenagaku.
Aku merasakan bahu Raymond bergetar. Dia menangis. "Kau ingin bertemu dengannya ?"
Aku diam. Memalingkan pandanganku, menatap ke jalan disudut taman. Alih-alih menemukan sosok Pangeran Riana. Aku malah melihat Pangeran Sera. Berdiri dengan tenang. Senyum lembut menghiasi bibirnya. Aku tahu ini nyata. Bukanlah mimpi yang menghiasi hariku semenjak kepergiannya.
Jadi benar inilah saatku...
Aku tahu Aku sudah sekarat. Namun Aku bersikap kuat dan memaksakan segala kemampuanku untuk kemari. Karena Aku tahu Aku bisa bertemu dengan Anak-anakku, Keluargaku dan Pangeran Riana.
"Jagalah Dirimu dan Mereka. Aku tahu Aku banyak berhutang budi padamu selama ini" Kataku lirih. "Kau bisa melakukannya kan..Permintaan terakhirku ini ?"
"Jika dikehidupan ini Aku tidak bisa memilikimu. Aku berharap dikehidupan yang lain...Kita bisa bersama...Apa Kau akan tetap mengingatku Yuki" Bisik Raymond. Aku membuka kembali mataku yang sempat tertutup.
"Aku tidak tahu.." Aku tidak bisa menjanjikan apapun padanya. Aku tidak mau Dia berharap dalam angan-angan kosong.
Pangeran Sera mulai berjalan. Pelan. Mendekatiku
Tidak ada yang melihat kehadirannya sejelas Aku melihatnya. Dia seperti yang kuingat dalam mimpi-mimpiku.
Tubuh yang ramping, Rambut pirang keemasan dan Mata berwarna biru laut. Hatiku terasa hangat. Aku tahu ini memanglah Dia.
__ADS_1
Aku menarik nafas.
Pangeran mengulurkan tangannya. Aku mengapainya.
Saat Tangan Kami bersentuhan. Aku sudah berdiri didepannya.
Dari pantulan bola mata Pangeran Sera, Aku melihat diriku yang masih muda. Bukan diriku yang berusia empat puluh tahunan.
"Aku sangat merindukanmu" itulah kata yang dapat keluar dari bibirku. Pangeran Sera tersenyum. Dia mengulurkan tangan. Membelai pipiku lembut.
"Terimakasih. Kau sudah berhasil melakukan semua kewajibanmu dengan baik"
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Banyak penderitaan dan air mata yang kualami setelah kepergiannya. Pengorbanan yang panjang dan melelahkan. Keberhasilan ini bukan tanpa kepedihan.
Aku menengok kebelakang. Dimana tubuhku bersandar tak berdaya pada bahu Raymond. Dia memelukku. Terlihat jelas Dia menahan tangis.
Bangsawan Voldermon yang mengetahui ada sesuatu yang tidak beres, Berlari dengan segera menghampiriku. "Ada apa..Apa yang terjadi"
"Jawab Aku..Yuki.." Bangsawan Voldermon menarik tanganku. Sesaat Dia terdiam. Melepaskan tangannya. Mundur dua langkah.
"Mama...Mama.." Nara menggantikan posisi Bangsawan Voldermon. Dia menyentuh pergelangan tanganku. Mencari denyut nadiku.
"Ma..." Panggilnya lirih. Aku memperhatikan anak-anakku yang menyadari kematianku. Mereka menangis. Pangeran Arana melakukan gerakan penghormatan.
Aku menatap mereka semua satu persatu. Mendoakan Mereka sebelum Aku benar-benar pergi dari hadapan Mereka. Lekky muncul secara mendadak. Berdiri seperti patung. Tidak mengeluarkan ekpresi apapun. Datar. Hampa.
Ferlay didekatnya berusaha bersikap tegar.
Aku mengenggam tangan Pangeran Sera. Tugasku telah selesai. Aku telah melaksanakan kewajibanku. Melahirkan keempat anak yang membanggakan.
Nara anakku yang pertama. Sangat mirip dengan ayahnya. Keras kepala dan dingin. Karena kemiripannya, Dia nyaris tidak begitu akur dengan ayahnya.
__ADS_1
Alviandra anakku yang kedua. Anakku dan Pangeran Sera. Memiliki kelembutan hati seperti ayahnya. Dia akan mampu menjaga Nara yang bertolak belakang dengannya.
Hazel anakku yang ketiga lebih cenderung terbuka. Dia mungkin akan merepotkan kedua kakaknya dengan sifat pembangkangnya. Tapi Dia memiliki kesetiaan yang besar pada saudaranya.
Claire..Dia cenderung naif dan polos. Sepertiku dulu. Pangeran Riana harus berusaha keras untuk mengaturnya. Dia akan menjaga ketiga kakaknya. Aku berharap kisah cintanya dengan Ferlay akan berakhir baik dikemudian hari. Entah Ferlay akan menjadi kekasihnya atau seperti hubunganku dengan Raymond. Teman yang saling menjaga.
Terdengar langkah mendekat. Pangeran Riana akhirnya muncul. "Tidak..Yuki..." Pangeran langsung meraihku. "Kau sudah berjanji mendampingiku. Kembali...!!!!"
"Dia menunggumu setiap hari. Kau ********.." Umpat Raymond kesal.
"Dia sengaja mengasingkan Yuki, Karena situasi istana membahayakan Yuki. Dia tidak menghubungi Yuki selama ini untuk mengelabui musuh yang menargetkan Yuki sebagai sasaran tembak untuk menggulingkan Riana" Jelas Bangsawan Voldermon cepat.
Ini pertama kalinya Aku melihat Pangeran Riana menangis meluapkan kesedihannya. Dia memelukku. Mengoncangkan tubuhku. Berharap Aku akan bangun kembali.
Aku membungkuk untuk menyentuhnya. Namun Aku tidak bisa menyentuhnya. Dunia Kami sudah berbeda.
"Jaga dirimu baik-baik" Bisikku bersungguh-sungguh.
Aku menegakkan tubuhku. Terdengar lonceng dari kejauhan.
"Sudah saatnya Yuki, Kita harus pergi"
Aku menganggukan kepala. Menerima uluran tangan Pangeran Sera. Pendeta Suci yang mampu melihat Kami menganggukan salam perpisahan. Aku tersenyum sebagai tanda berterimakasih.
Kami berjalan menuju cahaya yang membimbing Kami untuk meninggalkan dunia ini. Ketika kami akan memasuki cahaya. Aku memalingkan wajahku, terakhir kalinya melihat orang-orang yang Aku sayangi.
"Maafkan Aku tidak bisa menemanimu lebih lama...Terimakasih untuk selama ini...semoga dikehidupan selanjutnya...Kita bisa bertemu di situasi yang lebih baik daripada sekarang...."
Semoga Pangeran Riana bisa mendengar pesanku ini...
Terimakasih...selamat tinggal....
__ADS_1
*********************END**************"""""