
Atas bantuan dari jendral itu, Dia mendapatkan dana untuk membangun usahanya yang terus berkembang sampai sekarang. Tapi naasnya dua tahun setelah pernikahan atau tepatnya dua minggu setelah Rafael mendapatkan dana dalam jumlah besar, Jendral dan putrinya tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal. Mobil mereka terjatuh di jurang dan terbakar. Semua kekayaan jendral itu menjadi milik Rafael.
Raymond sendiri adalah bawahan jendral itu. Sekarang Dia ditugaskan di tempat lain. Seorang gadis anak salah satu petinggi menyukai Raymond. Tapi tampaknya Raymond tidak menanggapinya. Rafael melihat peluang itu. Dia memanfaatkan gadis itu dengan iming-iming mendapatkan Raymond. Baik Raymond dan gadis itu berada dalam tangan Rafael.
Aku mengambil batu di samping kakiku saat sakitnya sudah tidak tertahan. Mengetuknya keras ke cendela kaca disampingku. Terdengar suara langkah mendekat. Pangeran membuka pintu. Menghampiriku dengan wajah cemas. Dibelakangnya ada Gererou dan yang sedang mengendong Nara.
"Aku rasa bayi ini akan lahir"
Pangeran bereaksi cepat. Dia langsung mengendongku. Membawaku masuk ke dalam kamar.
"Apa yang harus kita lakukan. Kita tidak bisa membawa Putri ke rumah sakit"
"Aku akan membantunya" Jawab Pangeran dengan penuh keyakinan.
"Apa ?"
"Kau jaga Nara"
Pangeran berlari pergi. Mengambil pakaian, selimut dan baskom berisi air. Dia membantuku menganti pakaian yang telah Aku siapkan jauh hari agar memudahkan persalinanku. Dengan sabar Pangeran menemaniku. Menyuapiku agar Aku memiliki tenaga untuk mengejan. Aku tidak tahu bagaimana Dia bisa melakukan ini semua. Bahkan Pangeran tanpa kuketahui sebelumnya, mengetahui bagaimana cara memasang infus di lenganku. Apakah Dia sudah mempersiapkan ini sebelumnya. Jika tidak Phil pasti Bibi Sheira yang mengajarinya.
Rasa sakitku terus berlangsung semakin cepat. Beberapa kali Aku melihat Gererou mengintip dari balik pintu ketika Aku berteriak untuk menghilangkan stress akibat rasa sakitku. Rasanya semua tulangku seperti di patahkan. Sakitnya lebih sakit daripada persalinanku yang pertama.
Pangeran sama sekali tidak merasa terganggu. Dia seperti seorang yang sudah ahli membantu persalinan.
__ADS_1
"dorong sekali lagi Yuki" Perintahnya. Aku mengikuti instruksinya. Terdengar suara tangis bayi yang memenuhi ruangan kamar. Rasa sakit di perutku hilang. Bersama munculnya suara itu. Pangeran mengambil baskom berisi air hangat. Membersihkan bayi itu dengan lembut. Lalu memberikannya padaku.
"Kau wanita yang hebat" Pujinya sembari mencium keningku. Aku menerima bayi itu. Pangeran menyibakkan pakaian didadaku. Membantuku meletakan bayi itu di sana.
"Aku akan membersihkanmu" Kata Pangeran sembari memeras handuk yang telah dibasahi air hangat.
Aku memperhatikan bayi yang bergerak mencoba belajar bagaimana mencari asiku. Matanya masih terpejam. Dia sangat mirip dengan Pangeran Sera. Bayi yang tampan. Air mataku mengalir. Anak ini..Buah cintaku dengan Pangeran Sera. Satu-satunya harta paling berharga yang ditinggalkan untukku. Setelah Aku telah rapi. Gererou berjalan masuk. Matanya tertuju pada bayi di pelukanku.
"Bolehkah Aku..." Tanyanya lirih sembari merentangkan tangannya ke depan. Aku menganggukan kepala. Gererou mengambil bayi itu dari pelukanku. Bayi itu bergerak sedikit.
"Dia seperti ayahnya"
"Ya.." Jawabku membenarkan. Pangeran Riana yang telah selesai mengemasi barang duduk disampingku.
"Aku belum memikirkannya" Kataku menyesal. Karena banyaknya masalah yang terus datang menimpa. Aku sampai lupa mencari nama yang tepat untuknya.
"Jika Aku boleh mengajukan usul. Aku memikirkan nama Viandra Madza"
"Viandra ?" kataku mengulang lagi nama itu.
"Itu nama seorang pejuang tangguh yang menjadi legenda di seluruh dunia. Ketika Putri duyung membacakan ramalan. Aku memikirkan sosoknya"
"Viandra..." Kataku lagi. Seorang pejuang.
__ADS_1
"Aku rasa itu nama yang bagus. Viandra Madza." Kataku menyetujuinya.
"Pangeran Viandra. Putra Sera Madza. Kaulah yang menjadi harapan kami untuk mengembalikan kejayaan dan kedamaian negeri. Di pundakmu harapan Kami penduduk negeri Argueda kami titipkan" Bisik Gererou. Dia menyetujui nama itu. Aku menghela nafas lega.
Mempunyai dua anak balita itu cukup merepotkan. Namun Aku bersyukur Pangeran dan Gererou mau membantuku mengasuh mereka atau melakukan pekerjaan rumah. Bantuan datang ketika bibi sheira mengetuk rumah. Dia datang bersama phil. Betapa senangnya bibi Sheira ketika bertemu nara dan Viandra. Dia langsung mengendong Viandra. Sementara Nara berada dalam gendongan Phil.
Aku sedang memberikan asi kepada Viandra. Sementara Nara tidur di sampingnya. Menatap kedua anak ini bergantian. Keduanya membawa karakter khas ayahnya masing-masing. Aku merasa seperti Pangeran Sera bersama Pangeran Riana didepanku. Dalam jelmaan sosok mungil yang mengemaskan. Terdengar suara Pangeran berbicara dengan Gererou dan Phil. Tampaknya obrolan ini sifatnya serius. Aku tidak mendengar adanya gelak tawa di sana.
Bibi sheira masuk setelah mengetuk pintu. Dia membawa segelas susu hangat untukku. "Mereka anak yang manis" Kata Bibi Sheira sembari duduk di samping Nara. Dia mengusap lembut rambut Nara.
"Apakah bibi yang mengajari Pangeran cara membantu persalinan ?"
"Pangeran yang memintaku untuk berjaga-jaga. Dia memikirkan semua hal untuk melindungi kalian"
"Apakah keadaan sangat parah ?" Tanyaku tidak mampu menyembunyikan rasa penasaranku. Bibi menghela nafas sesaat.
"Dugaan Pangeran benar. Rafael berada di balik semua ini. Dia memanfaatkan anak perempuan jendral Hito untuk menancapkan pengaruhnya.
"Dia sangat licik dan berbahaya. Tidak mudah untuk Kami mendekatinya sekarang"
"Aku sangat kasihan dengan Raymond. Dia berpikir Pangeran adalah orang yang jahat. Dia mempercayai bahwa dirimu menikah dengan Pangeran karena Pangeran memaksamu. Dia tidak percaya Kau mau menikah dengan orang yang umurnya terpaut jauh denganmu"
"Di usia Pangeran, Dia masih termasuk muda" Kataku acuh.
__ADS_1
"Apa yang mendasari Raymond berpikir seperti itu ?"