
Aku mengambil kaus milik pangeran yang berada di atas kursi. Memakainya untuk menutupi tubuhku.
"Bagaimana badanmu ?" Tanya Pangeran saat Aku berjalan menghampirinya. Wajahku memerah saat mengingat apa yang telah Kami lakukan tadi malam. Mungkin tidak tepat mengatakan hal ini dalam situasi Kami yang sekarang. Tapi, Dia memang seorang pejantan tangguh.
"Tidak masalah. Apakah terjadi sesuatu ?"
"Kita harus cepat menyelesaikan urusan ini dan kembali. Apa Kau sudah siap ?"
Aku mengerjap beberapa saat. Pangeran pasti mendapat kabar mengenai kerajaan.
"Ya...Aku akan bersiap"
"Kita mandi bersama saja" Katanya menyusulku. Aku menatapnya kaget.
"Kita jarang-jarang mendapat kesempatan bersama. Aku sebisa mungkin harus menggunakannya untuk mengisi bateraiku"
Pangeran tidak menunggu jawabanku. Dia langsung menarikku menuju kamar mandi. Aku nyaris terhuyung jatuh jika tidak ditahannya. Terdengar suara pintu di tutup di belakangku.
Kami berjalan di keramaian. Aku mencoba mengacuhkan beberapa sorot mata yang memandang Pangeran dengan kagum. Tinggi Pangeran lebih dari 180 cm. Jauh berbeda dengan tinggi ku yang bahkan tidak sampai 160 cm. Belum lagi postur tubuhnya yang dijaga ketat olehnya. Otot-otot tubuhnya terlihat jelas di balik baju. Ada tato naga terlihat di balik lengan bajunya yang di lipat, tato itu melingkar di sepanjang lengan kiri sampai punggung. Pangeran tidak memberitahuku tapi Aku melihat namaku terukir di punggungnya.
Wajahnya yang khas menarik perhatian khususnya lawan jenis. Aku memperhatikan Pangeran yang tampak santai mengenakan celana jeans berlubang dengan kaus putih polos. Sepasang sepatu bot membungkus kakinya. Dan sebuah tas kecil berada di pahanya. Rambutnya memancarkan semburat warna biru saat terkena sinar matahari. Pangeran mengikat rambutnya kebelakang. Pangeran terus menggengam tanganku ketika Kami berjalan menyusuri rute yang Kami rencanakan.
"Aku ingin mencuci muka sebentar" Kataku menunjuk sebuah wastafel yang terletak di dekat sebuah tempat duduk panjang. Kami berada di sebuah taman kota. Banyak orang sedang bersepeda menikmati udara sore. Seorang anak asyik memakan ice cream ditangannya, Sementara ibunya duduk di sebelahnya sedang membaca koran. Anjing peliharaan mereka menjulurkan lidah dengan sorot berbinar memandangi mobil yang berlalu lalang di depannya.
__ADS_1
Kami berjalan melewati mereka. Menuju wastafel yang berada lima langkah dari mereka. Aku menyibakkan rambutku ke belakang. Pangeran membantu memegangi rambutku agar tidak basah dari belakang. Aku mencuci kedua tanganku kemudian membasuh wajahku.
"Kau Yuki artis yang sedang di bicarakan itu ya"
Aku menoleh. Si ibu yang sembari tadi duduk membaca koran kini sedang menatapku. Dia menunjuk koran ditangannya. Tepat di halaman khusus. Ada fotoku disana.
"Anda salah orang" Kataku cepat. Pangeran bereaksi. Dia langsung menghalangi pandangan ibu itu dengan badannya. Aku memakai topiku.
Beberapa orang yang berada di dekat Kami, menoleh saat Ibu itu memanggil namaku cukup kencang. Pangeran mengenggam tanganku. Sejurus kemudian Dia menarikku untuk berlari pergi.
Kami berbelok ke ujung gang sempit. Bersembunyi sejenak memastikan tidak ada seorangpun mengikuti Kami. Nafasku terenggah-enggah karena berlari. Saat Kami cukup yakin telah aman. Kami keluar dari persembunyian.
"Hampir saja" Bisikku lega. Pangeran berjongkok di dekatku. Aku menatapnya kebinggungan.
"Tidak perlu, Aku masih sanggup berjalan" Tolakku canggung.
"Aku bukan Lekky, Tapi Aku juga bisa mengendongmu seperti yang Dia lakukan"
Aku mematung sesaat. Pangeran mengantupkan bibirnya. Dia tidak memandangku. Namun Aku jelas melihat rasa cemburu di matanya. Aku tidak menyangka Dia melihat saat Lekky mengendongku ketika Kami bertemu dengan Pangeran yang sedang menemani Putri Marsha memilih perlengkapan pernikahannya.
"Dia kakakku. Bukan sainganmu" Kataku mengingatkan. Aku tidak ingin ada pertengkaran. Akhirnya Aku naik ke punggungnya. Pangeran berdiri. Aku sedikit terkejut ketika menyadari bahwa punggungnya sangat nyaman.
Malam harinya, Kami sudah berada di kota lain. Menginap di sebuah penginapan yang lebih baik daripada penginapan Kami yang pertama. Aku duduk bersandar di kursi kayu. Mencari berita yang Aku butuhkan.
__ADS_1
Akhirnya Aku menemukannya. Berita kemunculanku dengan Pangeran. Memang lebih berguna mengandalkan para Netizen. Mereka lebih cepat dalam hal apapun untuk mendapatkan dan menyampaikan berita. Aku menghirup secangkir teh hangat.
Ada fotoku bersama Pangeran saat Pangeran membantuku memegangi rambutku ketika Aku membasuh wajahku. Saat Pangeran mengenggamku ketika Kami berlari menghindari orang yang mencoba mengambil gambar Kami. Ada saat Pangeran mengendongku.
Netizen itu memang mengerikan.
Pangeran masih tidur di atas ranjang. Bertelanjang dada.
Dia seperti seekor kuda hitam. Tenaganya seolah tidak ada habisnya. Selain mempersiapkan segala rencana dan kebutuhan Kami. Dia tidak pernah lupa untuk mengajakku bercinta setiap saat ketika ada kesempatan.
Untungnya Aku telah meminta Bibi Sheira untuk membawakanku pil Kb. Aku tidak berencana mengandung anak satu dua tahun ini. Setidaknya sampai Nara berumur lima tahun. Tentu saja Aku tidak mengatakan hal ini pada Pangeran. Dia pasti menolak mentah-mentah keinginanku menunda kehamilan.
Aku mengalihkan perhatianku. Kembali pada urusanku. Kolom komentar hampir dua ribu sejak berita ini di posting empat jam yang lalu. Hampir semua bertanya mengenai sosok Pangeran Riana. Terutama para gadis.
Bahkan ada komentar kejam yang mengatakan Pangeran terlalu bagus untukku. Aku menyetujui hal ini. Harus Aku akui, Semenjak Pangeran Sera meninggal, Pangeran Riana jauh berubah sikapnya padaku. Dia yang biasanya tertutup, Mulai berani menunjukan perasaanya padaku.
Dia melindungiku dan anak-anak dengan sangat baik.
Aku mengingat lagi kata-katanya.
Jika Dia menikahi orang lain itu karena Dia sudah tidak memiliki jalan lain lagi.
Apakah Aku akan siap jika saat itu tiba. Meskipun Aku mengerti kenapa Dia melakukannya ?.
__ADS_1