
Aku berjalan menuju loby hotel. Gaun yang kukenakan berkibar ketika tertiup angin. Seorang penjaga melirikku ketika Aku mendatanginya. Aku mengeluarkan undangan sebelum Dia sempat bertanya. Menunjukan identitasku.
"Silahkan nona" Kata Penjaga itu kemudian. Aku melewati keamanan. Kemudian berjalan menuju pintu sebuah aula. Acara lelang amal akan segera dilaksanakan. Dari informasi yang kami terima, Rafael berada di sini. Dia mengincar satu set perhiasan yang akan di lelang dalam acara ini. Hal yang tidak Aku duga adalah Raymond juga datang bersama Amore. Mereka bertiga duduk satu meja. Aku mengenali orang lain yang bersama Mereka. Itu jendral Hito. Raymond nampak berwajah datar tanpa ekpresi ketika berdampingan dengan Amore. Dia seperti tersiksa. Orang lain mungkin tidak akan menyadarinya, Tapi Aku sudah cukup lama mengenalnya. Dia akan memainkan buku-buku jarinya ketika merasa tertekan atau terganggu sesuatu. Aku merasa kasihan padanya.
Aku duduk di meja yang ditunjuk pelayan. Lega. Karena jaraknya berjauhan dengan Mereka namun dengan sudut yang tepat untuk mengawasi Mereka.
Aku menekan batu permata di cincinku yang sebenarnya telah di modifikasi sedemikian rupa. Memberikan kode kepada Pangeran yang entah berada di mana saat ini, Di sekitar hotel. Bahwa Aku sudah masuk ke dalam aula dan siap menjalankan rencana Kami.
Setelah basa basi dan pembukaan yang membosankan. Akhirnya acara di mulai. Aku menunggu dengan sabar sambil memperhatikan sasaranku. Rafael memotong rambutnya seperti gaya Pria dunia ini. Aku agak geli ketika memakai istilah "dunia ini". Mengingatkanku bahwa Aku seperti alien yang datang dari tempat jauh.
Aku memperhatikan gurat luka di wajahnya. Satu matanya ditutupi oleh penutup mata berwarna hitam. Pangeran Sera lah yang merusak matanya dengan panah. Aku tidak mengerti bagaimana Dia bisa hidup dan kabur ke dunia ini dengan semua luka yang didapatnya waktu itu.
Aku pernah mendengar petuah lama yang mengatakan orang jahat matinya lama. Karena tuhan memberikan waktu untuknya agar bertobat. Mungkin hal itu benar.
Satu set perhiasan yang diincar oleh Rafael akhirnya dikeluarkan. Sebuah kalung indah terbuat dari batu permata yang sangat indah. Aku sangat familiar dengan bentuknya. Sekarang Aku mengerti kenapa Rafael sangat menginginkannya. Perhiasan itu hampir sama dengan perhiasan ala putri kerajaan Rasyamsah. Apakah ini berarti Dia merindukan dunianya ?.
Apakah seseorang yang kejam dan tidak punya hati seperti Dia masih mempunyai sisi sentimental akan dunia aslinya ?.
__ADS_1
Aku mengangkat tangan. Menaikkan harga lelang. Bersaing dengan beberapa orang yang juga menginginkannya. Rafael tampak sangat rileks. Tapi Aku bisa melihat Dia tidak akan melepaskan perhiasan itu.
Raymond memandang ke sekelilimg dengan jenuh. Tanpa sengaja Kami bertatapan. Sial. Aku tidak ingin dia tahu Aku berada di sini sementara Kami sedang menyusun rencana untuk membunuh Rafael. Dia pasti akan mengikutiku. Buruknya, Dia akan menganggu rencana Kami.
Rafael memalingkan wajahnya. Aku menjadu bertanya-tanya, Apakah hanya perasaanku saja jika Dia menyadari kehadiranku. Tapi apa mungkin Dia akan bersikap acuh seperti itu setelah mengetahui Aku berada di sini.
Harga semakin naik. Raymond berdiri. Dia berjalan tenang meninggalkan mejanya seorang diri. Dia keluar ruangan. Karena Aku tidak mau mengalah, Akhirnya Rafael merasa kesal. Untuk pertama kalinya Dia berpaling dan melihatku. Tampak keterkejutan di matanya yang kemudian berubah menjadi sorot senang. Rafael kembali pada posisi duduknya, Dia tidak lagi memberikan penawaran pada perhiasan itu. Aku memenangkan perhiasan itu.
Acara lelang telah selesai. Aku tidak melihat Raymond sama sekali. Dia tidak kembali. Ketika semua tamu undangan dibawa masuk ke dalam aula yang lebih terang. Banyak makanan tersaji di meja. Aku mengambil gelas berisi air jeruk ketika seseorang menghampiriku. Tercium wangi farfum yang menyengat di belakangku. Menyadarkanku bahwa Aku tidak sedang sendiri.
"Aku tidak menduga akan bertemu denganmu disini" katanya dengan suara serak.
"Begitu pula denganku Rafael" Aku berusaha tenang tapi Rafael mampu menangkap kegugupanku.
"Rasanya tidak mungkin Orang itu membiarkanmu sendiri kemari untuk menemuiku. Apa Kau kabur dari perlindungannya atau Kalian mempunyai rencana untukku"
"Bagaimana menurutmu ?"
__ADS_1
Rafael tersenyum.
"Lama tidak bertemu Kau semakin mengairahkan. Mengingatkanku bagaimana hangatnya tubuhmu" Rafael menyodorkan tangannya hendak mengelus bahuku yang terbuka. Aku mundur secara halus.
Aku mengepalkan tanganku. Mencoba menahan amarahku. Aku sangat ingin menodongkan senjata dan membunuhnya sekarang.
Kenangan buruk itu teringat kembali dalam kepalaku. Rafael menarikku ke kamarnya. Dia merobek bajuku dan memperkosaku. Pangeran Riana memang datang menolongku. Namun Rafael sudah sempat menikmati tubuhku meskipun Dia belum menuntaskan semua. Aku merasa sangat kotor saat mengingatnya. Aku bahkan tidak berani mengakui hal ini pada Pangeran Riana waktu itu.
"Benarkah..Aku merasa tidak terhormat dengan mengingat hal menjijikan itu"
"Kau masih liar seperti dulu. Jadi sekarang Kau bersama Riana. Untuk apa Kalian kemari ?"
"Membunuhmu"
Rafael tergelak keras. Menarik perhatian tamu sekitar. Amore yang sedang berkumpul dengan teman-temannya berdiri. Dia mengenaliku. Dengan gaya yang anggun Dia berjalan menghampiri Kami. Aku merasakan Dia ingin sekali mencekikku saat ini juga. Gerak tubuhnya seperti seekor singa yang sedang mengincar mangsanya.
"Rasanya Aku tidak mengundang anda hari ini. Jadi bagaimana Kau bisa ada di sini Nona Yuki" Ujar Amore ketika berada didekat Kami.
__ADS_1