
Pangeran berjalan didepanku. Aku mengambil tas ku yang jatuh akibat pertingkaian kami. Berjalan mengikutinya. Kami menyusuri hutan. Pangeran sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia tidak mengatakan kemana Kami akan pergi.
"Ada apa ?" Tanyaku terkejut saat tiba-tiba Pangeran menarikku ke balik pohon. Kami merunduk. Bersembunyi. Pangeran meletakan telunjuknya di bibirnya. Menyuruhku diam. Aku memalingkan wajahku. Mencoba melihat apa yang sedang terjadi. Di depanku pasukan Perdana Menteri Borendo berjalan. Terlihat Perdana Menteri duduk di atas tandu. Matanya nyalang, Menatap ke depan. Ada keangkuhan yang pernah kulihat sebelumnya di dalam dirinya. Aku pernah melihatnya beberapa tahun lalu di negeri Rasyamsah. Mata milik Rafael.
Apakah ini hanya perasaanku saja atau memang Mereka ada hubungan ?. Rafael menghilang saat pasukan Pangeran Sera mengempur ibukota Rasyamsah. Dia tidak bisa bersembunyi di istana karena pasukan pemberontak yang di pimpin Pangeran Riana telah menguasai istana. Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi semenjak itu.
Krak
Jantungku seolah berhenti. Aku tidak sengaja menginjak ranting kayu. Suaranya terdengar cukup keras sehingga Perdana Menteri Borendo mengangkat tangannya menyuruh pasukannya berhenti.
Pangeran langsung mendorongku untuk semakin bersembunyi ke dalam semak-semak.
"Kau tunggulah di sini" Kata Pangeran tenang. "Jangan membantah. Jika Kau ingin anakmu selamat"
Aku menganggukan kepala mengerti.
Pangeran beringsut dengan cepat menjauhiku. Dia menghilang di balik rimbunan semak-semak.
"Siapa itu..Berhenti" Teriak seorang Prajurit saat Pangeran sengaja menampakan kehadirannya. Pangeran berlari menjauh dengan gerakan gesit. "Kejar Dia"
__ADS_1
Beberapa pasukan mengejar Pangeran. Sementara itu Perdana Menteri menatap keributan dengan rasa bosan. "Biarkan saja Mereka, Kita lanjutkan perjalanan" Perintah Perdana Menteri kemudian. Para pasukan yang tertinggal dengan patuh kembali membentuk barisan. Mata Mereka awas mengawasi sekitar. Rombongan kembali berjalan. Aku memperhatikan semua itu dengan perasaan berdebar. Setelah memastikan rombongan pergi menjauh, Aku beringsut pergi dengan cepat. Menyusul kemana Pangeran pergi.
Aku melihat beberapa mayat prajurit yang mengejar Pangeran telah terbujur kaku di tanah. Tanda telah terjadi perlawanan. Dengan cepat Aku semakin berlari mencari keberadaan Pangeran. Dia tidak mungkin bisa membunuh satu pasukan sebanyak itu. Ketika Aku berada di tebing, Aku melihat sungai di bawahku. Di sana Pangeran berlari dengan susah payah karena kaki kirinya terluka. Sementara itu di belakangnya prajurit mengejarnya dengan senjata lengkap. Aku semakin mempercepat langkahku. Menuruni tebing. Aku hampir sampai ketika Pangeran terjun ke dalam sungai. Para prajurit menghujamkan panah-panah kedalam sungai. Jantungku seakan berhenti ketika melihat darah segar mengalir dari dalam sungai. Aku berdiri di tempatku. Menunggu. Tidak ada yang muncul dari dalam sungai.
"Sudah berhenti. Dia tidak mungkin selamat jika melihat darah itu. Ayo kita pergi" Ujar seorang Prajurit yang bertindak sebagai pemimpin. "Hari sebentar lagi malam"
Para Prajurit lain meletakan busurnya. Mereka memandang sebentar pada sungai. Kemudian berbalik pergi.
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan. Setelah menarik nafas untuk mengambil udara. Aku masuk ke dalam sungai dan berenang.
Aku terus berenang. Menuju arah darah itu berasal. Pangeran berada di sana. Dia tidak sadarkan diri. Aku meraihnya dan langsung memasukkan udara dari mulutku ke dalam mulutnya. Kemudian menariknya menjauhi tempat itu.
Aku berhasil menariknya ke pinggir sungai. Pangeran tidak terluka selain di kaki. Dia pingsan mungkin karena kehabisan nafas di dalam air. Aku mencoba menekan dadanya. Memberinya bantuan pernafasan. Setelah sepuluh menit berjuang. Pangeran terbatuk. Dia membuka matanya perlahan.
Pangeran diam memandangiku yang menangis. Dia kemudian menarikku mendekatinya. Aku berbaring di dadanya. Terdengar degub jantungnya yang berirama di telingaku.
Hari sudah malam ketika akhirnya Pangeran berhenti dan memutuskan untuk beristirahat membuat api unggun. Kami telah menyusuri jalan panjang. Berusaha menjauh untuk menghindari kemungkinan para prajurit kembali mencari keberadaan Pangeran. Kami duduk berdua di tengah hutan, Entah di bagian mana. Aku selalu kacau mengenali arah angin. Aku menatap percikan api didepanku. Sementara Pangeran membalikkan ikan yang ditangkapnya di sungai.
"Pangeran sebenarnya Kita akan kemana ?" Tanyaku akhirnya tidak mampu menyembunyikan rasa penasaranku.
__ADS_1
"Sungai Putri duyung" Jawab Pangeran pelan. Baju Kami basah kuyup. Pangeran telah melepaskan pakaian atasannya dan menjemurnya sedemikian rupa di batang pohon dekat Kami.
"Sungai Putri Duyung" Kataku terkejut. "Untuk apa Kita akan ke sana"
"Kita akan menemui para duyung untuk mendengar ramalan Mereka mengenai anak yang Kau kandung"
"Ramalan"
"Tak mengertikah Yuki kenapa Arana menyerahkanmu padaku. Dia tidak yakin bisa mempertahankan kerajaannya dalam situasi yang sekarang. Jika sesuatu yang buruk terjadi, Masih ada penerus keluarga Raja Jafar yang masih hidup di bawah perlindungan Garduete. Dia berharap penerus itu akan merebut kembali kejayaan Raja Jafar"
"Apa maksudmu Pangeran Arana akan kalah ?"
"Kita membicarakan bagian terburuknya. Jika tidakpun, Kerajaan akan terpecah menjadi Dua. Arana tidak akan punya cukup kekuatan untuk melindungimu dan anakmu. Karenanya berada di Garduete adalah hal yang paling aman untuk kalian"
"Apakah Kau yakin akan aman. Jika Garduete mengetahui ini bukan anakmu. Apakah Mereka akan menerimanya ?"
"Asal itu adalah anak dalam rahimmu. Aku akan memperjuangkannya seperti anakku sendiri"
"Kenapa ?" Bisikku masih ragu.
__ADS_1
Pangeran diam sejenak. Kemudian Dia mengambil sesuatu di saku bajunya yang terdalam. Dia menarik tanganku. Menggengamkan sesuatu di sana. Saat Aku membukanya. Aku terkejut.
Cincin pernikahan Pangeran Sera dalam genggamanku.