
Ratmi lantas bangkit, dia menuju pintu namun masih ragu untuk membuka nya. Karena perkataan Bu'de dasimah agar dia tidak membuka pintu masih terngiang-ngiang di telinga nya.
"mas.. Mas Darso kah itu??"
Ucap Ratmi pelan.
"iya sayang.. Ini aku, keluarlah..!!"
Ratmi terdiam sesaat, dia benar-benar menimbang, apa di balik pintu itu benar suaminya atau bukan.
Seketika dia mengerutkan dahinya.
"tidak, dia bukan suami ku. Mas Darso tidak pernah memanggilku dengan sebutan sayang."
ucap Ratmi lirih.
Dia lantas mundur kembali menuju ranjang. karena Ratmi tidak kunjung membuka pintu, akhirnya suara juragan Darso itu akhirnya berubah menjadi amat berat, dan gedoran dari pintu semakin keras.
"buka..!! Buka..!!"
Brugh.. Brugh.. Brugh..
Ratmi kembali naik ke atas kasur, dia menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut dan menutup telinga nya rapat-rapat.
Dia hanya bisa menangis dan agar pagi segera datang.
Hingga akhirnya dia terlelap.
Pintu di buka, bu'de dasimah memindai sekitar kamar, dan menemukan Ratmi tertidur dengan tubuh tertutup selimut seluruh nya.
Bu'de dasimah Manarik selimut itu dengan kasar, sehingga Ratmi terkejut dan bangun begitu saja..
"bu'de.. Semalam aku mendengar.."
Belum usai Ratmi menceritakan apa yang dia alami semalam, bu'de dasimah segera menaruh jari telunjuk nya di antara kedua bibirnya, memberi isyarat agar Ratmi diam.
"sekarang kamu siap-siap ya.."
"siap-siap.. Mau kemana bu'de??"
Tanya ratmi dengan polos nya.
"cukup kamu ikut perintah ku, nduk. Jika apa yang di inginkan mu, semua nya terwujud."
jawab bu'de dasimah dengan mimik wajah datar.
Setelah Ratmi selesai membersihkan tubuh nya, ia gegas menghampiri bu'de dasimah di teras halaman depan.
tampak bu'de dasimah tengah duduk di atas tikar, sambil mengunyah kapur sirih.
"sudah siap??"
ucap bu'de dasimah tersenyum dan menampakan gigi nya memerah, akibat mengunyah kapur sirih.
"sudah bu'de"
Jawab ratmi yang kini duduk di samping bu'de dasimah.
"baiklah, sekarang kita kesana."
"kemana bu'de??"
"kan bu'de sudah bilang, ikuti saja perintah bu'de. jika kamu ingin semua nya terwujud."
Ratmi menggelengkan kepalanya.
Lantas ia mengikuti langkah kaki bu'de dasimah, hingga langkah kaki nya berhenti tepat di depan GUA.
"mari, nduk. Kita masuk ke dalam."
__ADS_1
Tidak ingin membuat bu'de dasimah kembali marah, ia gegas mengekor di belakang bu'de dasimah.
"sebelum melanjutkan, bu'de akan menjelaskan apa saja tugas yang harus kamu lakukan. yang pertama, bertapa lah di atas ranjang keramat itu, hanya satu hari satu malam saja. Setelah itu yang kedua, kamu harus memberikan persembahan tumbal pertama. yang ketiga, kamu harus persiapkan tempat guna untuk menempatkan ranjang keramat itu."
Ucap bu'de dasimah menjelaskan segala ritual yang akan di lakukan oleh Ratmi.
"sesajen dan yang lain nya, sudah bu'de siapkan. Kamu tinggal lakukan semua nya. apapun yang kamu lihat nanti, tetaplah fokus dengan petapaan mu. Bu'de akan berjaga di depan GUA"
Ratmi mengangguk mantap.
...****************...
Harjo yang amat khawatir dengan keadaan Ratmi, tanpa berfikir panjang lagi, Harjo di temani Hartini gegas mengunjungi rumah kediaman juragan Darso guna ingin menjumpai Ratmi.
Sesampainya mereka di rumah besar juragan Darso, nampak sari tengah duduk termenung dengan mimik wajah datar, di kursi depan rumah.
"mas, itu ada nyonya sari..!!"
"iya, dek. Yuk, Kita hampiri nyonya sari."
"assalamualaikum... Nyonya sari.!!"
Ucap Hartini.
Namun sari masih saja termenung duduk di kursi, Hingga membuat Harjo mengerutkan dahi nya.
Nampak jelas, bahwa sari tengah memikirkan sesuatu.
"ada apa dengan nyonya sari??"
Tanya Harjo keheranan.
"assalamualaikum... Nyonya, nyonya sari...!!"
Teriak Hartini sekali lagi.
"waalaikumsallam.. Hartini.!!"
Jawab sari dengan mata yang berbinar.
dengan sedikit berlari, sari menghampiri Hartini yang sudah berdiri di luar gerbang sedari tadi.
"Aku rindu sekali pada mu, Hartini."
Ucap sari sambil membuka gerbang, lalu mempersilahkan mereka masuk.
"nyonya, apa juragan darso sedang berada dirumah.?"
Tanya Hartini, sambil berjalan menuju kursi depan rumah juragan Darso.
"mas Darso, sedang ke luar kota sudah tiga hari. Duduklah dulu, aku buatkan minum sebentar."
Jawab sari mempersilahkan tamu nya duduk.
Lima belas menit kemudian, sari membawa dua gelas minuman teh hangat. Dan menyuguhkan nya.
"apa kedatangan kalian kesini, untuk bertemu dengan ratmi.??"
"iya, betul nyonya. Kedatangan kami kesini ingin sekali bertemu dengan adik saya Ratmi. Saya amat merindukan dia, sudah setahun lebih kami tidak berjumpa, nyonya."
Jawab Harjo dengan mata yang nampak berkaca-kaca. Harjo tidak ingin mengatakan bahwa dia sudah mengetahui tentang kondisi Ratmi.
"Ratmi, dia..."
Sari menghentikan ucapan nya.
"apa Ratmi sedang tidak ada di rumah, nyonya.??"
Sahut Hartini.
__ADS_1
"iya. Ratmi tidak ada dirumah, Harjo. Dia pergi ke hutan leweung larangan di dekat sungai yang bersebelahan dengan perkebunan kami."
ucap sari menjelaskan yang sesungguhnya.
Harjo amat terkejut hingga membulatkan matanya.
dia tahu kalau hutan itu amat angker.
"aku mau susul Ratmi kesana"
Jawab Harjo dengan spontan.
"tapi, mas... Disana bahaya. Tunggu lah sampai Ratmi kembali."
ucap Hartini berusaha mencegah suami nya agar tidak menyusul Ratmi.
"benar Harjo, tunggu saja sampai Ratmi kembali. Aku rasa, dua atau tiga hari lagi dia akan kembali. Sementara itu, kalian bisa nginap di paviliun."
tidak menjawab apapun, Harjo hanya menundukkan kepalanya.
"sambil menunggu ratmi kembali, kita coba kunjungi Dito, mas."
ajak Hartini.
"ah, iya. kamu benar, mas hampir saja melupakan Dito."
Ucap Harjo sembari tersenyum kecil.
...****************...
Petapaan di mulai. Nampak sesajen dan sebagainya telah siap sedia di hadapan Ratmi, untuk memanggil sosok makhluk berkepala dan wajah yang mirip dengan srigala. Di depan GUA bu'de dasimah tengah merapalkan sesuatu.
Sudah hampir satu hari, satu malam Ratmi bertapa di GUA itu.
Tiba-tiba saja Angin mulai berhembus kencang menerpa wajah ayu Ratmi.
Nampak sesosok bayangan hitam melesat mengelilingi Ratmi. Tidak ingin petapaan nya gagal, Ratmi mencoba menghiraukan sosok tersebut.
Kini sosok makhluk berwajah srigala dengan deretan Gigi nya yang runcing nan hitam, berdiri tepat di hadapan Ratmi.
Sosok itu nampak memakan dengan rakus sesajen yang di sediakan oleh bu'de dasimah. Ada kepala man*sia, daging hati rusa, dan air yang telah di campur kembang tujuh rupa.
sesajen itu habis tak tersisa.
"TERIMAKASIH ATAS SESEMBAHAN MU, AKAN AKU BERIKAN SEMUA PERMINTAAN MU. ASAL KAU MEMBERIKAN SEMUA SESEMBAHAN TEPAT SETIAP BULAN PURNAMA."
Ucap makhluk menyeramkan itu dengan nada suara berat.
Ratmi yang mendengar nya, lantas mengembangkan senyum kemenangan.
Setelah sosok makhluk menyeramkan itu hilang entah kemana.
Ratmi gegas menghampiri bu'de dasimah.
"bu'de..."
Ratmi memanggil bu'de dasimah dengan mimik wajah yang berbinar.
"selamat, Ratmi. Kamu berhasil menaklukkan sosok itu. Pulang lah dengan membawa ranjang keramat itu, temui suami mu. Dan lihat lah bagaimana perubahan nya."
"tapi... Bagaimana cara aku membawa nya bu'de?"
"tidak perlu kamu membawa nya, pulang saja. Dia akan berada di rumah mu."
Ratmi mengerutkan dahi nya, tidak mengerti apa yang di maksud oleh bu'de dasimah.
Namun Ratmi tidak sabar ingin segera melihat perubahan sikap suami nya, lantas ia bergegas pergi meninggalkan bu'de dasimah di GUA itu.
sedangkan bu'de dasimah hanya tersenyum kecut melihat hal itu.
__ADS_1