Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Ki Amos


__ADS_3

"Ibu.. Bu.."


Teriak Tara memanggil Hartini.


"Ya Allah Gusti.. Le' ada apa dengan bapak mu Le'? Kenapa mulut nya mengeluarkan darah segar?"


Tanya Hartini dengan mimik wajah yang panik.


"Bapak di serang secara membabi buta oleh Nyi Dasimah, Bu. Tolong obati bapak, aku ingin kembali meraga sukma, aku mau mencari Sukma Intan, Cahya dan juga teman-temannya Bu."


Titah Tara.


"Ibu mohon agar kamu berhati-hati, nak!! Jangan lupa berdoa pada Gusti Allah, minta lah pertolongan pada sang Khaliq.!!"


Sahut Hartini lirih.


Tara menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa dia paham apa yang di bicarakan Ibu nya.


Tara kembali meraga sukma, menelusuri setiap sudut alam ghoib.


"Tuan muda.. Sedang apa tuan muda disini??"


"Ki Amos.."


Sahut Tara sedikit membulatkan matanya.


Ki Amos merupakan siluman monyet penguasa Desa Merpati, yang mana siluman tersebut telah di taklukkan oleh Harjo.


"Ki, saya sedang mencari Sukma teman-teman saya dan Intan.!!"


"Apakah Intan yang di maksud tuan muda adalah cucu dari Ratmi??"


"Iya betul, tolong bantu saya Ki..!!"


Ucap Tara sedikit memohon dengan mimik wajah yang sendu.


Nampak nya Ki Amos tengah mempertimbangkan permintaan Tara, sebab Ki Amos tahu betul siapa yang akan ia hadapi.


Kekuatan yang di miliki Nyi Dasimah sangat cukup kuat, Nyi Dasimah akan melakukan segala cara pada orang yang mencoba mengusik nya.


"Saya tahu dimana Sukma teman-teman tuan muda. Namun, seperti nya Sukma Intan tidak bisa di bawa kembali. Mari saya antar tuan!!"


Ucap Ki Amos.


"Kenapa begitu Ki??"


Tanya Tara sembari mengerutkan keningnya.


"Nanti tuan muda akan tahu dengan sendirinya"


Jawab Ki Amos tanpa menoleh ke arah Tara.

__ADS_1


Ki Amos membawa Tara terbang ke arah kebun-kebun pisang, dan Tara tahu betul kemana Ki Amos akan membawa nya.


"Di balik pepohonan bambu ada sebuah GOA, Sukma mereka di sembunyikan di dalam GOA tersebut, tuan.!! saya hanya bisa mengantarkan tuan muda sampai disini. Namun, jika tuan muda dalam bahaya, panggil nama saya sebanyak tiga kali."


"Baiklah, terimakasih sudah menunjukkan keberadaan Sukma teman-teman saya.!!"


Ucap Tara sembari menganggukkan kepalanya.


Ki Amos pergi meninggalkan Tara seorang diri.


...****************...


"Akhh.. Dimana raga mereka di sembunyikan"


Ucap Maura yang hampir putus asa mencari raga Cahya dan teman-teman nya yang lain.


Wushh wushh wushh


Sesuatu berterbangan dengan sangat cepat, membuat Maura semakin ketakutan.


"I-itu.. Itu apa sih yang terbang-terbang??"


Ucap Maura sembari memegangi tangan Yogi.


"Tenang Mbak. Sepertinya itu makhluk-makhluk suruhan Nyi Dasimah untuk mengecoh kita"


Sahut Kanaya dengan nada yang santai.


Tanya Yogi yang begidik ngeri.


Kini Kanaya membaca ayat kursi sebanyak-banyaknya. Di saat yang bersamaan angin berhembus sangat kencang di ruang tamu rumah Intan.


Melihat hal itu tidak membuat Kanaya goyah, ia terus membaca ayat kursi. Namun, seketika tubuh Kanaya terhempas bak terseret angin hingga wajah nya membentur sebuah laci yang terbuat dari kayu jati.


Tak terasa darah telah mengalir dari hidung nya, membuat Yogi dan Maura semakin panik.


"Kanaya...!!"


Teriak Yogi dan Maura.


"Nay.. Sudah yuk Nay.. Kita keluar saja dari sini"


Ucap Maura dengan mimik wajah penuh ketakutan.


"Tidak Mbak, kita harus segera mencari keberadaan raga teman-teman mu. Saat ini Mas Tara sedang berusaha membawa pulang Sukma mereka, kita harus bisa mendapatkan raga nya.!!"


Jawab Kanaya tegas.


"Kanaya benar, Ra.!! Kita harus turut berjuang demi keselamatan teman-teman kita!!"


Sahut Yogi.

__ADS_1


Angin yang berhembus kini semakin kencang, hingga membuat barang-barang di sekitar nya berterbangan.


"Gak.. Gua enggak perduli.. gua gak mau mati konyol disini"


Ucap Maura sembari berjalan mundur, lantas ia berlari keluar meninggalkan Yogi dan Kanaya di rumah Intan.


"Mbak Maura.. Jangan Mbak!!"


"Mauraaa.. Tunggu Ra.."


Teriak Yogi sembari ikut berlari mengejar Maura.


Maura berlari cukup kencang meninggalkan rumah Intan. Namun, tepat di depan gerbang tampak sosok siluman serigala dengan taring yang runcing, tengah berdiri menatap tajam ke arah Maura.


Sosok siluman tersebut, seperti siap menerkam mangsa yang ada di hadapannya. Yogi dan Kanaya yang melihat nya amat terkejut hingga membulatkan matanya.


"Berhenti mas.. Mundur, kita harus mundur."


Ucap Kanaya dengan tatapan mata yang sulit di artikan.


"Gak.. Gak bisa, kamu lihat Nay?? Maura dalam bahaya, bisa saja sosok itu menyerang Maura."


Bantah Yogi dengan lantang.


"Kamu mau nurut pada ku, atau kamu akan bernasib sama. Mundur.. Kita cari tempat persembunyian!!"


Ucap Kanaya sembari menarik lengan Yogi.


"AAKKHHH... SAKITTT.."


Teriakan Maura sangat menggema.


Yogi yang melihat kejadian naas itu, menangis sejadi-jadinya.


Kini Kanaya membawa Yogi bersembunyi di area perkebunan sayur milik Intan yang hampir mati karena sudah tidak ada lagi yang merawat.


"Tutup hidung mu mas, balurkan tubuh mu dengan tanah ini. Cepat mas.!!"


Titah Kanaya, lantas Yogi menuruti nya.


Srrakk


Srrakk


Srrakk


Sosok siluman serigala itu tengah berjalan dengan gontai, deru nafas yang berat terdengar begitu mengerikan. Siluman serigala itu terus mencari mencari Yogi dan Kanaya yang tengah bersembunyi.


Aarrgghhh ...


Tubuh Yogi melemas, degup jantung nya berdetak kencang tak beraturan, hingga keringat dingin pun mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2