Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Penjelasan Bu'de Ratmi


__ADS_3

"ibu . . Ibu kenapa Bu" teriak mentari sambil menggoyangkan pundak ibu nya


Perlahan asih membuka mata nya, namun sosok itu tidak ada lagi di hadapan nya.


"Ibu kenapa?" Tanya mentari khawatir terhadap ibu nya


"Ngak . . Ibu gpp nak" jawab asih untuk meyakinkan anak nya 


Tok tok tok . .


"Asih" teriak seseorang di luar pintu


"Iya . . Sebentar" sahut asih


-


"Bu'de Ratmi . ." Ucap asih


"Kamu kenapa asih? Wajah mu nampak pucat?" Tanya bu'de Ratmi 


"Hheemm . . Gpp bu'de, aku lagi kurang sehat" ucap asih berbohong 


"Ini bu'de bawain lauk buat kamu" jawab bu'de ratmi sambil menyodorkan sebuah rantang makanan


"Duhh . . Repot-repot banget sih bu'de, mari masuk dulu bu'de" sahut asih 


"Aku bikin minum dulu sebentar yaa bu'de" ucap asih 


Sambil membuat minuman, asih masih memikirkan hal aneh tadi.

__ADS_1


Ia merasa itu seperti nyata, dan wanita yang membawa gol"k tadi seperti tidak asing bagi nya.


"Di minum dulu bu'de" ucap asih sambil menyuguhkan segelas teh hangat 


"Terimakasih" jawab bu'de Ratmi


"Bu'de, ada yang ingin saya tanyakan ke bu'de" tanya asih


"Boleh . . Apa yang ingin kamu tanyakan asih" jawab bu'de ratmi sambil tersenyum 


"Apa benar penghuni-penghuni rumah ini yang sebelumnya, tewas secara mengenaskan di dalam rumah ini?" Tanya asih dengan nada lembut, sebab ia takut menyinggung hati bu'de Ratmi


"Siapa yang mengatakan itu padamu asih?" Tanya bu'de ratmi sambil menyipitkan matanya 


"Mbak Jum dan warga lain yang mengatakan nya" jawab asih


Bu'de Ratmi menghela nafas.


"Ada apa sebenarnya dengan rumah ini bu'de?" Tanya asih dengan mimik wajah serius


"kedua orangtua ku melakukan ritual pesugihan dan rumah ini lah yang menjadi umpan untuk mendapatkan tumbal, namun hingga mereka tutup usia masih ada saja korban tumbal yang berjatuhan bahkan aku juga anak ku satu-satunya hampir menjadi tumbal sebab tak ada lagi yang menyewa rumah ini, aku sendiri pun tidak tahu bagaimana cara nya untuk menghentikan semua ini" tutur bu'de ratmi.


"kalau begitu tumbal berikutnya aku beserta anak dan suamiku" jawab asih dengan lantang


bu'de Ratmi hanya menundukkan kepalanya.


"sebisa mungkin aku akan membantu mu agar bisa selamat dari malapetaka ini" ucap bu'de ratmi


"satu hal lagi, mentari bilang bahwa dia mempunyai teman tak kasat mata dan teman nya itu merupakan korban di rumah ini" jelas asih

__ADS_1


"iya memang benar mentari berteman dengan yang arwah korban tumbal, namun saya merasakan bahwa arwah itu mempunyai aura negatif, minta lah pada mentari agar berhati-hati dengan nya" jawab bu'de Ratmi


-


-


-


waktu sudah hampir petang, Mardani dan Cahya kini sudah pulang.


rumah nampak sepi Cahya segera mencari ibu nya ke kamar. asih tengah termenung di dalam kamar, ia tak tau harus mengatakan apa pada suami dan anak nya tentang hal ini.


"assalamualaikum Bu . ." ucap Cahya


"Bu . . ibu kenapa kok wajah nya pucat?" tanya Cahya


"Ahh.. gak nak, ibu cuma gak enak badan aja" jawab asih


"kamu sakit Bu?" tanya Mardani


"hanya kelelahan aja pak" jawab asih sambil mencium punggung tangan suami nya


"aku mandi dulu yaa Bu, setelah itu nanti aku bantu ibu siapin makan malam" ucap Cahya


Cahya bergegas naik menuju kamar nya, lagi dan lagi kamar tamu itu menarik perhatian Cahya.


ia melihat pintu kamar itu terbuka, perlahan Cahya mendekati kamar itu. saat Cahya ingin masuk . .


"mbak, jangan masuk kamar itu" teriak mentari

__ADS_1


BBRAAKKKK . .


Pintu kamar nya tertutup dengan sendiri hingga membuat Cahya terkejut, dan beringsut mundur.


__ADS_2