Rumah Tumbal

Rumah Tumbal
Meraga Sukma


__ADS_3

Mendengar ucapan Maura, membuat Intan semakin murka hingga menghujamkan keris ke arah Maura.


Kini keris kecil itu tertancap di pundak Maura, dan di cabut lagi dengan kasar. Hingga darah segar pun mulai mengalir dari luka tusukan itu, seketika tubuh Maura lemas sebab menahan sakit di pundak nya.


Dengan cepat Yogi memapah Maura dan berlari masuk ke dalam kamar Yogi guna untuk menghindar dari amarah Intan, lantas Zein yang tengah menggendong Cahya pun mengekor di Yogi.


Yogi mengunci pintu rapat-rapat, hingga menaruh beberapa benda yang lumayan cukup berat seperti meja dan menggeser lemari agar Intan tidak mudah masuk ke dalam kamar.


Zein membaringkan tubuh Cahya di atas ranjang kasur, kini Yogi membalut luka tusukan di pundak Maura agar darah nya tidak mengalir terus-menerus.


"Gi.. Tolong loe bawa Cahya dan Maura pergi dari sini, tunggu gua di gapura desa Setu Bodas. Gua bakal mengalihkan perhatian Mbak Intan agar kalian bisa pergi dengan aman."


Titah Zein dengan mantap.!!


"Enggak bro. Kita saja belum menemukan Nabila, gua enggak mau ada yang hilang lagi di antara kita. Kita datang kesini ber lima, dan kita pulang pun harus ber lima."


Jawab Yogi lirih


Di luar pintu kamar Intan sedang berusaha mendobrak pintu.


Bruakk..


Bruak bruakk..


"Cepat Gi.. Percaya sama gua, gua bisa jaga diri baik-baik. Bawa Cahya dan Maura pergi dari sini, tunggu gua di gapura desa.!!"


Lantas Yogi bergegas menggendong tubuh Cahya, mereka melarikan diri lewat jendela kamar.


Sedangkan di luar kamar Intan terus berusaha mendobrak-dobrak pintu.


"Maura, Yogi. Gua titip Cahya ya? tunggu gua di gapura desa."


Titah Zein dengan tatapan mata yang sendu.


Mereka berlari menjauh dari rumah itu. Kini Intan berhasil mendobrak pintu kamar, entah kekuatan dari mana sehingga dia bisa membuka pintu? Sedangkan lemari untuk menyangga pintu pun lumayan cukup berat.


Kini Intan dan Zein saling berhadapan, menatap Zein dengan penuh amarah. Ia sudah bersiap untuk menusuk Zein dengan keris di tangan nya, Zein berusaha untuk menghindar dari serangan Intan.


Zein meraih sebuah guci keramik di dekat nya, dan saat Intan ingin menusuk kaki Zein, dengan cepat Zein melemparkan guci tersebut tepat di kepala Intan. Namun Intan masih saja menyerang Zein dengan membabi buta, padahal darah segar mengalir di kepalanya akibat benturan guci yang di lempar Zein tadi.


...****************...


Cahya terbangun dari pingsan nya. Namun ia sedikit terheran, mengapa dia ada di tengah hutan belantara.


"Kenapa aku ada disini? Seingat ku tadi sedang sholat subuh. Dimana teman-teman ku? Kenapa aku ada disini sendirian? Maura... Zein... Yogi... Kalian dimana??"


Teriak Cahya yang terus mengedarkan pandangannya.


Cahya berjalan sembari menyibak rumput-rumput yang menjulang tinggi, saking rimba nya hutan tersebut, sinar cahaya matahari pun tidak nampak.


"Maura... Zein... Yogi... Kalian dimana?? Kenapa aku ada disini sendirian. Hiks hiks hiks"

__ADS_1


Teriak nya lagi sembari terus berjalan hingga ekor matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan.


Cahya melihat kawan-kawannya tergelantung di atas pohon beringin yang sangat rimbun. Bukan hanya kawan-kawan nya saja, ia juga melihat Mardani, Ratmi, dan Intan, yang tergelantung di atas pohon.


Cahya amat terkejut melihat semua orang yang dia kenal tergelantung dalam keadaan tidak sadar. Cahya membekap mulutnya dengan telapak tangannya, ia tidak sanggup melihat nya.


Cahya mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka, sebab Cahya mendengar suara langkah kaki menuju pohon beringin itu.


"Di-dia.. Dia Nyi Dasimah??"


Gumam Cahya dalam hingga ia membulatkan matanya.


Nyi Dasimah dengan tubuh nya yang sudah membungkuk, kulit yang amat keriput, rambut panjang yang sudah memutih terurai berantakan.


Nyi Dasimah menggenggam sebuah mangkuk kecil yang terbuat dari tanah liat, kini mangkuk kecil itu ia ketuk sebanyak tiga kali.


Seketika Cahya kembali mengingat kala dia bermimpi melihat wanita paruh baya dengan menggunakan kebaya berwarna hitam, melakukan persis yang di lakukan oleh Nyi Dasimah.


Dan benar saja, tidak lama kemudian muncul sosok siluman serigala, sosok yang amat mengerikan bagi Cahya, tersenyum menyeringai dengan deretan gigi nya yang runcing nan hitam, bahkan memiliki tanduk di kepalanya, hingga lidah yang menjulur ke bawah.


Sosok itu seperti siap menerkam mangsa yang ada di depan nya. Kini seluruh tubuh Cahya bergetar hebat melihat hal mengerikan di hadapan nya, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Cukup Cahya. Kita harus pulang sekarang!!"


Degh !


Cahya langsung menoleh ke belakang nya.


"Tidak. Semua hanya tipu daya, mereka hanya ingin mengalihkan perhatian mu, mereka lah yang membawa mu kesini dengan cara meraga sukma. Sebaiknya kita pulang sekarang!!"


Ucap Tara sembari menggenggam tangan Cahya


Kini di hadapan Cahya dan Tara muncul sebuah cahaya putih yang melingkar, Cahya menatap heran pada cahaya tersebut. Tara menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa mereka harus melewati cahaya putih tersebut dan akan kembali ke raga masing-masing.


Cahya sudah kembali ke raga nya, dan mulai membuka matanya dengan perlahan.


Dia menatap sekitar nya, nampak Maura duduk samping Cahya dan tengah menangis sesenggukan.


"Ma-Maura..."


Ucap Cahya terbata-bata


"Cahya...!!"


Panggil Maura yang langsung memeluk tubuh Cahya.


Lantas Cahya tersenyum lega. Ia mencoba bangkit dari ranjang kasur, namun di halau oleh Hartini.


"Jangan banyak gerak dulu, nduk. Istirahat lah, kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri."


"Apaaa... Dua hari??"

__ADS_1


Jawab Cahya sedikit tersentak.


Dia merasa bahwa dirinya hanya beberapa jam saja di dalam hutan itu.


"Memang seperti itu jika masuk ke alam ghoib, kamu merasa di sana hanya beberapa jam saja."


Sahut Harjo yang kini masuk ke dalam kamar, tempat dimana Cahya berbaring.


"Eyang..!! Mbak Intan sudah.."


"Bukan. Dia bukan Intan, dia adalah Nyi Dasimah yang menyerupai Intan."


Jawab Harjo yang mampu membuat Cahya terkejut.


"Lantas, dimana Mbak Intan yang asli.?"


Tanya Cahya penuh khawatir.


"Intan, Nabila dan juga Zein. Sukma mereka di tahan oleh Nyi Dasimah di hutan leweung larangan, mereka ada di sebuah pohon beringin besar, nduk."


"Jadi.. Yang aku lihat itu, benar-benar mereka? Tapi kenapa Tara bilang..."


Belum sempat Cahya melanjutkan pembicaraannya namun Tara sudah memotong nya.


"Iya. Mereka benar-benar teman mu, tapi kita tidak tahu dimana raga mereka di sembunyikan. Kita harus mendapatkan raga nya terlebih dahulu, Cahya. Barulah kita bisa membawa pulang Sukma mereka, lagipula ajian yang sedang aku pelajari belum sepenuhnya sempurna."


Jawab Tara dengan nada suara yang lembut.


Cahya mengangguk paham dengan apa yang di bicarakan Tara.


Kini Hartini mulai menyuguhkan makan malam, untuk Cahya dan teman-teman nya.


Namum Yogi enggan ikut makan malam bersama, dia terus saja memikirkan Zein dan juga Nabila. Yogi merasa bersalah pada atas kejadian ini, sebab karena ambisi nya lah yang ingin melaksanakan KKN di Setu Bodas.


"Gi.. Kita pasrahkan semua nya pada Gusti Allah, sedang di usahakan oleh Eyang Harjo dan juga Tara untuk menyelamatkan mereka. Lagi pula, ini semua karena gua, gua membawa kalian ke dalam lingkaran setan laknat itu. Hiks.. Hiks.. Maafin gua ya Gi..!!"


Ucap Cahya yang menangis sembari menggenggam tangan Yogi.


Lantas Yogi mengusap air mata Cahya, Yogi di kenal sebagai laki-laki yang jutek, namun kini ia bersikap lembut terhadap Cahya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Ca. Kita datang kesini berlima, dan pulang pun harus berlima."


Sahut Maura yang lantas memeluk tubuh cahya.


"Maura benar Ca. Kita semua akan kembali ke kota bersama-sama, gua yang harusnya minta maaf sama kalian, gua yang sudah memaksakan kehendak agar kita tetap melaksanakan KKN di Setu Bodas."


Jawab Yogi lirih


...(doakan author ya guys🙏 biar cepat pulih kembali.. Ini nulis nya dalam keadaaan author nya masih tumbang guys🤕 demi kalian supaya tidak penasaran dengan kelanjutan nya🤗🤗)...


SELAMAT MEMBACA 💞💞

__ADS_1


__ADS_2