
Pagi ini Cahya dan teman-teman nya mulai melaksanakan KKN.
Mereka di bagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama ada Zein dengan Nabila yang di tugaskan untuk turun ke sawah membantu para pekerja nya Bu'de Ratmi.
Kelompok kedua, ada Yogi dengan Maura yang di tugaskan untuk membantu di kebun milik Pak Kades.
Dan kelompok ketiga yaitu cahya sendiri. Dimana kawan-kawan Cahya sepakat, bahwa minggu ini Cahya cukup untuk membantu Intan saja mengurus perkebunan sayur mayur nya.
"Ca, loe yakin sudah enakkan.? Kalau masih kecapek'an, loe istirahat saja dulu Ca.!!"
Zein amat khawatir terhadap kondisi Cahya yang sempat jatuh pingsan saat baru tiba di desa Setu Bodas.
"Gak.. Gak.. Gua sudah enakkan kok!!"
Jawab Cahya sambil tersenyum
"Loe yakin??"
Tanya Nabila memastikan
"Iya.. sudah, kalian tenang saja. Gua sudah enakkan kok!!"
Jawab Cahya dengan santai
Kini mereka mulai menjalankan kegiatan nya.
"Gi.. Itu kan kuburan keramat yang di bilang pak kades kemarin"
Ucap Maura sambil menunjuk sebuah makam yang nisan nya di tutupi kain hitam dan di lingkari oleh seutas tali berwarna kuning.
"Alahh.. Palingan itu cuma kuburan biasa, orang sini saja yang terlalu berlebihan."
Jawab Yogi sembari tersenyum di ujung bibir nya.
"Loe gak percaya kalau itu cuma kuburan biasa?"
Tanya Yogi dengan lantang.
"Sudah ah.. Yuk, cepetan kita ke kebun nya Pak Kades.!!"
Jawab Maura sembari menarik lengan Yogi
Mereka pun kembali berjalan kaki menuju kebun milik Pak Kades.
"Ra, itu kan nenek-nenek yang waktu kita lihat di hutaaaann.. Hutan apa ya Ra, kemarin.?
ucap Yogi menunjuk ke arah seorang nenek tua yang tengah mengayuh sepeda.
"Leweung Larangan!!"
__ADS_1
Jawab Maura yang sedikit membulatkan matanya
Kini perlahan Maura mulai berjalan mundur sambil menggenggam tangan Yogi.
kali ini nenek tua itu tampak sangat menyeramkan, wajah nya yang nampak pucat pasi, tersenyum menyeringai hingga menampakkan deretan gigi nya yang runcing, kini tengah menatap tajam ke arah Yogi dan Maura.
Maura yang melihat hal menyeramkan itu membuat degup jantung nya berdetak kencang tak beraturan, keringat dingin membasahi dahi Maura, ketakutan yang luar biasa menerkam diri nya.
"Mas Yogi, Mbak Maura.!! Kenapa kalian berjalan mundur gitu?"
"Pak Kades.!!"
Ucap kedua nya yang sedikit berlari menghampiri Pak Kades.
"ada apa dengan kalian??"
Tanya Pak Kades sambil mengerutkan dahinya.
"i-itu pak. Tadi ada nenek-nenek tua muka nya sangat menyeramkan, pak."
Jawab Yogi sembari menunjuk ke arah dimana sosok nenek tua tadi berdiri.
"Loh.. Kok gak ada nenek tua tadi, kemana pergi nya??"
Sahut Maura sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Jawab Yogi
"Maka nya, lain kali jaga bicaramu.!!"
Sahut Pak Kades
Maura tersontak mendengar ucapan Pak Kades barusan.
...****************...
Tampak Cahya tengah memanen sayur mayur di kebun milik intan.
Setelah nya Cahya di minta menanam bibit-bibit yang telah intan siapkan disana. Lumayan luas lahan yang di garap oleh intan, dan tanaman nya pun tumbuh subur disana.
"Cahya, sudah cukup. Istirahatlah dulu!!"
Ucap Intan
Lantas Intan mengajak Cahya istirahat di sebuah gubuk tua yang nampak sudah reot.
"Gubuk ini kan..."
"Gubuk ini yang terhubung ke ruang bawah tanah"
__ADS_1
Sahut Intan yang memotong pembicaraan Cahya.
"Mbak, nanti aku mau lihat ruang bawah tanah ini, boleh.??"
Tanya Cahya dengan nada suara lembut.
"Heemm"
Jawab Intan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Mbak, selama aku di kota hingga aku kembali lagi kesini. Banyak hal-hal yang selalu meneror aku!!"
Ucap Cahya dengan pilu.
"Teror..??"
Sahut Intan sembari mengerutkan dahinya.
"Iya. Dia sosok nenek-nenek tua yang rupa nya amat menyeramkan, mbak. Sosok itu selalu ada dimana-mana, bahkan suaranya pun selalu menggema di telinga aku. Bukan hanya itu, kemarin saat aku baru saja tiba disini, ada banyak sosok yang tak kalah menyeramkan di pekarangan rumah mu, mbak. Mereka berteriak meminta tolong!!"
Jawab Cahya dengan mimik wajah yang serius.
"Sosok nenek tua??"
Tanya Intan sedikit membulatkan matanya
"Iya. Aku tidak tahu mbak, apa salah aku sama nenek tua itu."
Jawab Cahya lirih
"Aku pun sama Cahya, sudah dua kali sosok itu mendatangi aku, dan meminta agar aku balas dendam atas kematian eyang, ku."
Jelas Intan
"Tapi kan mbak, dahulu kalian yang ingin aku membunuh eyang Ratmi dan bapak ku."
Jawab Cahya dengan nada sedikit tinggi.
"Eyang Harjo. Mungkin dia tahu sesuatu, nanti kita tanyakan pada nya."
Ucap Intan
Setelah istirahat dan berbincang ringan, Intan dan Cahya kembali melanjutkan aktivitas nya.
Hari sudah hampir memasuki waktu suruf, namun Yogi dan Maura belum juga kembali ke rumah Intan.
"Kok mereka belum pulang, yaa...?"
Ucap Nabila yang nampak khawatir.
__ADS_1